
Siang itu kantin kampus tampak ramai seperti biasa. Di sana juga tampak Melodi, Yuya, dan Zia sedang asik menyantap bakso mereka sambil berbincang sambil tertawa lebar.
"Hai, Di." sapa Vero tiba-tiba membuat ketiga orang itu menghentikan makan mereka.
"Vero?" seru Melodi saat melihat Vero berdiri di hadapannya.
"Ya, ini gue. Kenapa? Kok kayak kaget banget gitu? Oh, gue tau, gue kelihatan makin ganteng ya jadinya loe kaget banget kayak gitu?" goda Vero yang tanpa sungkan langsung menarik kursi tepat di samping Melodi dan duduk di sana membuat Yuya dan Zia mengerutkan keningnya.
"Cih, PD amat pak " ejek Melodi sambil terkekeh.
"Ih Odi, punya temen ganteng kok nggak pernah dikenalin sih!" goda Yuya membuat Vero terkekeh.
"Tuh, temen loe aja ngakuin kalau gue ini ganteng, Di. Kenalin, gue Vero, teman dekat Melodi."
"Teman dekat dari Hongkong." ketus Melodi.
"Hai, gue Yuya, yang ini Zia. Salam kenal ya! Kami sohibnya Odi." ujar Yuya sambil mengulurkan tangannya, diikuti Zia.
"Ngapain loe ada di sini? Loe kuliah di sini juga?" tanya Melodi.
"Nggak. Tapi kayaknya asik juga kalau lanjutin magister gue di sini jadi bisa dekat loe lagi." tukas Vero sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Telat oak, bro. Ini udah bulan-bulan terakhir kami di sini jadi percuma aja loe kuliah kemari kan nggak lama lagi kami wisuda." tukas Zia sambil terkekeh.
"Wah, sayang banget! Tapi habis ini loe mau kerja kan! Udah tau mau kerja apa dan dimana?" tanya Vero dan Melodi menggeleng.
"Gue baru ngumpulin referensi aja nih."
__ADS_1
"Loe mau kerja di kantor bokap gue?"
"Emang kantor bokap loe bergerak di bidang apa?"
"Percetakan. Kalau mau, gue bisa bantu. Gue juga baru beberapa bulan ini bantu-bantu di sana jadi loe nggak usah khawatir, ada gue yang bantu bimbing loe selama kerja di sana." tawar Vero.
"Gue pikir-pikir dulu deh! Thanks tawarannya." ucap Melodi tulus.
Lalu mereka pun lanjut mengobrol sambil tertawa lepas membuat sepasang mata yang sejak tadi mengawasi mereka tampak begitu kesal.
Ddrrt ...
Ponsel Melodi yang berada di dalam saku celananya bergetar. Melodi pun bergegas mengangkat panggilan itu dan menempelkan ponselnya di telinga.
'Aku tunggu di parkiran kampus dalam 5 menit.'
Tut Tut Tut ...
Di parkiran, mata Melodi sibuk mencari keberadaan seseorang yang menghubunginya secara tiba-tiba. Setelah bertemu, ia pun segera menghampirinya.
"Kak." panggil Melodi pada Gerald yang sedang bersandar di pintu mobilnya. Gerald pun segera membukakan pintu mobil untuk Melodi. Ia pun segera masuk menuruti perintah Gerald.
"Ada apa kak? Kok tiba-tiba nyuruh ke parkiran?"tanya Melodi bingung.
"Nenek pingin kita makan siang di rumah." tukas Gerald sambil menjalankan mobilnya.
"Hah! Tapi kak ... kan siang ini kau harus kerja."
__ADS_1
"Kau lupa siapa pemilik GG cafe?" balas Gerald seraya mengerutkan keningnya.
"Iya kak, Odi ingat kok tapi kan ... nggak enak sama yang lain kalau aku sering bolos kerja."
"Prioritas utama kamu itu aku, ingat itu." ketus Gerald membuat Melodi mendesah pasrah.
Sebenarnya ia ingin menolak ajakan ini sebab hal ini justru membuat rasa bersalahnya kian membuncah pada keluarga Gerald. Tapi ia tak kuasa menolak sebab ia pun bekerja dengan Gerald dan ia juga telah mendapatkan imbalan atas kerjanya selama 6 bulan ke depan. Jadi tak ada jalan lain selain menuruti permintaan Gerald.
"Iya." sahutnya pasrah.
"Kamu nggak ikhlas?"
"Eh, kata siapa? Ikhlas kok, ikhlas."
"Itu kenapa cemberut?"
"Ish, kak Gege cerewet ih! Aku itu bukannya nggak ikhlas kak, cuma kalau bisa nanti jangan sering-sering ya kak ketemu keluarga kakak. Aku nggak mau makin merasa bersalah sama mereka. Iya bagi kakak nggak masalah, tapi bagiku itu tetap aja menipu dan aku nggak nyaman. Mana kakak ngajakin dadakan gini juga." desah Melodi.
"Salah siapa malah mesra-mesraan dengan Vero." ucapnya tanpa sadar.
"Hah! Jadi kakak liat aku ngobrol sama Vero? Mesra-mesraan darimana? Su'udzon aja kak Gege ih. Orangam ngobrol biasa aja gitu." ujar Melodi sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya, tapi ingat, status kamu itu sekarang pacar aku. Gimana kalau kak George liat? kan bisa jadi masalah." kilah Gerald tak mau Melodi salah paham dan menduga dirinya cemburu.
"Kan pak George juga udah tau kalau kami teman jadi nggak usah terlalu banyak berpikir lah kak. Lagian kan status pacaran kita kan hanya di depan keluarga kak Gege aja, kalau di luar aku mah bebas." sahut Melodi mengingatkan Gerald status mereka yang sebenarnya.
Gerald hanya mendengus. Ia sebenarnya tak terima jawaban dari Melodi tapi ia tak mungkin menyanggahnya sebab apa yang dikatakan Melodi memang benar adanya.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...