
Sudah beberapa hari yang lalu Azura sadarkan diri, tapi sikap Azura kian berubah. Bahkan saat Arkandra mencoba mengajaknya bicara, gadis itu lebih suka menghindar dan menjauh. Dia juga jadi gadis pemurung. Kesehariannya hanya mengurung diri di kamar membuat Arkandra gusar bukan main.
Arkandra telah mencoba membujuk dengan berbagai cara, mengajak jalan, nonton bareng, ataupun kegiatan lainnya berharap Azura mau merespon dan perlahan kembali seperti sedia kala, tapi respon Azura sungguh membuatnya tak berdaya.
Iseng-iseng, ia membuka rekaman CCTV selama ia meninggalkan Azura. Ia ingun melihat apa saja yang dikerjakan istrinya itu saat ia tak ada.
Hatinya meringis perih saat melihat ternyata selama ia pergi justru dihabiskan Azura dengan menangis dan meratap. Bahkan saat ia baru saja berangkat, Azura langsung masuk kamar dan meringkuk di sofa sambil menangis. Setelah itu, Azura masuk ke kamar mandi sangat lama membuat ia cemas. Azura baru keluar lebih dari satu jam kemudian dengan tubuh bergetar dan pucat. Ia baru sadar, istrinya sepertinya mengalami trauma akibat percobaan pemerkosaan yang menimpanya. Arkandra menyesali, mengapa ia baru menyadarinya. Saat itu Azura memang berusaha bersikap layaknya baik-baik saja. Yah, secara fisik ia memang terlihat baik, tapi mentalnya ternyata benar-benar terpukul dan tertekan.
Setelah adegan mandi lebih dari satu jam itu, ternyata Azura mengalami demam. Ia hanya meringkuk seharian di dalam selimut sambil sesekali menyeka air mata. Matanya terlihat sangat sembab. Bahkan sampai sekarang lingkar hitam itu masih menghiasi matanya. Arkandra merasakan sesak di dadanya melihat istrinya begitu terpukul. Dan bodohnya dirinya justru mengikuti seminar di Bandung meninggalkan Azura dalam keadaan terpuruk bahkan jatuh sakit pun sendirian.
Arkandra terus memperhatikan rekaman yang ia putar melalui layar laptopnya. Ia belum melihat bagaimana kronologis istrinya itu pingsan tak jauh dari pintu apartemen. Hingga ia menangkap kedatangan orang yang sangat dibencinya ke apartemen itu.
"Mau ngapain dia?" desis Arkandra tak suka. Lalu ia terus memperhatikan rekaman itu seksama. Ia memasang earphone agar ia dapat mendengarkan pembicaraan keduanya dengan jelas. Wajah Arkandra merah padam dengan tangan mengepal. Mungkin inilah yang jadi salah satu faktor perubahan Azura makin signifikan. Ia makin murung dan menutup diri. Bahkan tanpa tahu malu ia meminta Azura meninggalkannya.
"Breng-sek!" umpatnya marah. "Apa hak mu ikut campur dalam urusanku wanita sialan? Kau mengatakan istriku kotor dan menjijikkan, lalu kau apa? Bahkan kau lebih kotor dan menjijikkan dari tumpukan kotoran," geram Arkandra murka. Ia berjanji, akan memberikan wanita itu pelajaran bila Azura sampai benar-benar meninggalkannya.
...***...
Entah sudah berapa kali Arkandra menghampiri kamar Azura untuk menghiburnya, tapi responnya tidak sesuai harapannya. Akhirnya, untuk pertama kalinya ia menghubungi Leon, sahabat Azura berharap ia bisa membantunya membujuk Azura agar mau bicara. Tapi ternyata, hasilnya sama saja.
"Gimana? Dia mau bicara sama kamu?" tanya Arkandra tak sabar.
Leon menggeleng pelan, lalu duduk di sofa tak jauh dari tempat Arkandra duduk.
"Maaf dok, saya tidak berhasil membujuknya," ucap Leon sambil mendesah frustasi. "Dia hanya bilang ingin sendiri dulu dan tak mau diganggu," imbuhnya lagi.
Arkandra meraup wajahnya frustasi, sungguh ia sangat kebingungan bagaimana caranya mengembalikan Azura seperti semula.
__ADS_1
"Dia bahkan menolak bertemu dengan adiknya sendiri. Saya tidak mengerti lagi, apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkan trauma Azura. Bahkan diajak bicara berdua pun ia enggan. Sikapnya sekarang sungguh membuat saya resah," keluh Arkandra. Bila biasanya ia bersikap cuek, masa bodoh, tenang, bahkan seakan tak peduli, tapi tidak kali ini. Ia benar-benar resah melihat perubahan Azura.
Sama seperti Arkandra, Leon pun pusing melihat perubahan Azura. Sebelum kejadian ini, Azura telah menghadapi berbagai ujian. Ditinggalkan kedua orang tuanya, terlilit hutang yang tidak sedikit, dijauhi teman-temannya, terpaksa putus kuliah dan bekerja banting tulang siang dan malam untuk menyekolahkan adiknya juga membayar hutang, dan dikejar-kejar rentenir. Jika perempuan lain yang mengalami ini, ia yakin mereka takkan sanggup. Tapi Azura justru mengahadapinya dengan tabah. Walaupun terkadang mengeluh, namun ia tidak pernah putus asa. Dia benar-benar wanita paling tangguh yang pernah ia jumpai.
Nyaris diperkosa, demi Tuhan, membayangkannya saja membuat darah Leon mendidih. Andai saja kasus ini tidak diserahkan kepada pihak kepolisian, mungkin Leon sudah menghabisi nyawa para bede*bah itu dengan tangannya sendiri. Ia tidak keberatan melenyapkan nyawa manusia sampah seperti mereka walaupun risikonya pasti berurusan dengan hukum.
"Hufth, saya juga nggak tau, dok! Perempuan yang mengurung diri di kamar itu bukan teman saya. Dia bukan Azura. Teman saya Azura tidak selemah itu. Lalu bagaimana dengan nasib para bede*bah itu, dok?"
"Saya sudah mengurus mereka. Teman saya di kepolisian sedang mengusahakan mengorek informasi tentang siapa yang memerintahkan mereka melakukan perbuatan keji seperti itu."
"Mungkinkah ini perbuatan orang-orang terdekat dokter? Mungkin juga itu rival atau orang yang tidak menyukai Anda menikah dengan Azura?"
Arkandra menengadahkan kepalanya, otaknya sibuk berpikir siapakah kira-kira orang yang tidak menyukainya atau tidak menyukai pernikahan dirinya dengan Azura. Ia bukanlah orang yang suka menduga-duga tanpa bukti nyata. Tapi satu yang ia curigai, yaitu istri ayahnya?
'Bagaimana perempuan itu bisa mengetahui tentang percobaan pemerkosaan Azura? Bukankah kasus ini sudah saya minta William tutupi dari media? Bahkan kakek saja tidak tahu karena aku meminta Kencana merahasiakannya.' batin Arkandra bermonolog.
"Jika itu alasannya itu sama saja dia mencari mati. Saya sudah bersedia menikahi Azura, jadi siapapun yang menentangnya maka harus berurusan dengan saya," tegas Arkandra dengan mata berkilat marah.
Diam-diam Leon tersenyum lega mendengar penuturan Arkandra. Tanpa sadar, ia mengungkapkan kalau ia menerima Azura sebagai istrinya. Bukan hanya itu, ia juga dapat melihat ketertarikan Arkandra dengan Azura.
"Terima kasih, dok karena Anda begitu peduli padanya. Padahal sudah jelas kalau Azura telah memanfaatkan Anda tapi Anda tetap peduli dan mau melindunginya," ucap Leon tulus.
"Kau tak perlu berterima kasih, bagaimana pun Azura adalah istri saya jadi sudah sewajarnya saya menjaga dan melindunginya."
"Oh ya dok, ada satu hal yang belum saya ceritakan. Saya yakin, Anda belum tau perihal ini," ucap Leon membuat Arkandra mengerutkan keningnya. "Apa Anda tau alasan Azura terpaksa memanfaatkan Anda?"
"Uang," terka Arkandra.
__ADS_1
"Yah, bisa dibilang itu ada hubungannya. Ini tentang hutang-hutang mendiang orang tuanya yang tidak sedikit. Beberapa tahun ini ia telah kerja keras banting tulang siang dan malam untuk membayar cicilannya, tapi tetap saja hutang itu tak pernah lunas. Bahkan hutang itu seperti tak pernah berkurang. Cicilan perbulannya pun makin besar. Karena itu, saat mendengar kakak dokter menawarkan kerja sama itu, tanpa pikir panjang, ia menerimanya."
Arkandra tercengang mendengar hal itu. Ia baru tahu tentang fakta itu. Azura sungguh hebat menyembunyikan segala permasalahannya tanpa seorang pun yang tahu.
"Dan pada hari dimana ia diculik, bos rentenir itu telah menghubunginya agar melunasi hutang itu dalam tempo satu bulan, bila tidak maka Melodi akan mereka ambil dan jual dengan orang kaya yang bersedia membayarnya tinggi. Tentu saja target awalnya adalah Azura, tapi karena mendengar kabar kalau Azura telah menikah, maka mereka mengganti target. Azura frustasi. Ia bingung harus melakukan apa untuk mendapatkan uang senilai 1 milyar. Bahkan ... " Leon menghela nafas berat saat ingin melanjutkan kalimatnya. "... untuk pertama kalinya, ia mengeluh lelah. Ia sudah ... nyaris putus asa. Sepertinya, ia sudah diambang batas. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu faktor perubahan Azura ini. Ia tertekan. Ia tak pernah mengatakan tentang bagaimana perasaannya. Ia hanya. sesekali menceritakan kegetirannya. Tapi itu tidak seluruhnya. Selama ini, ia menelan mentah-mentah pahit getir hidupnya. Bahkan dengan Melodi pun ia tidak terbuka. Karena itu, saya harap dokter bisa membantunya. Membantu dalam urusan apa hanya dokter yang bisa menjawabnya."
Arkandra bungkam. Ia mencoba mencerna setiap penuturan Leon. Dadanya begitu sesak membayangkan betapa berat perjuangannya selama ini. Ternyata, di balik tawa ceria seorang Azura, tersimpan kepahitan hidup yang mungkin tidak semua orang sanggup menghadapinya.
"Dok ... "
Mendengar panggilan itu, Arkandra pun tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah Leon.
"Bolehkah saya mengharapkan sesuatu dari dokter?" tanya Leon.
"Mengharapkan apa?" tanya Arkandra bingung.
"Saya sangat berharap, Anda bisa menjadi suami Azura selamanya. Menjadi orang yang mengasihi dan melindunginya selamanya. Dulu, ia pernah meminta perlindungan dengan saya. Baik dari para penagih hutang maupun permasalahan hidupnya. Tapi apalah daya saya, saya tidak sekuat Anda. Anda memiliki segalanya, sedangkan saya ... " Leon menggelengkan kepalanya. "Terkadang saya merasa malu, sebagai seorang teman, saya tidak mampu melindunginya. Tapi Anda berbeda, Anda memiliki segalanya dan hanya Andalah yang pantas berada di sisinya."
Arkandra tak bergeming. Ia masih terpengkur di tempatnya.
"Dokter, boleh saya mengatakan satu hal lagi?"
"Apa?" Arkandra mengangkat alisnya ke atas.
"Teman saya ... Azura ... sebenarnya dia menyukai Anda. Bukan karena harta atau apapun yang Anda miliki, tapi ia tulus menyukai Anda. Tapi ia berusaha untuk mengelak dan menolaknya. Dia terus menolak dan mati-matian menyadarkan dirinya bahwa dirinya hanyalah istri kontrak. Istri di atas kertas. Gadis bayaran. Katanya, ia tidak pantas mencintai Anda. Ia tak pantas berada di sisi Anda. Ia tak pantas menjadi pendamping Anda. Tapi kata saya, dia pantas mendapatkan cinta Anda. Apakah perkataan saya ini salah?"
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...