
Peluh tampak mengalir di dahi Arkandra. Perawat yang mengasistensi langsung bergerak cepat mengambil tisu dan menyeka bulir-bulir itu agar tidak menetes ke tubuh pasien yang tengah menjalani prosedur operasi.
"Lanjutkan!" titah Arkandra saat ia selesai dengan tugasnya. Kini giliran asisten dokter lah yang melanjutkan untuk menjahit luka-luka sayatan dan pembedahan yang baru saja Arkandra lakukan.
Sementara asistensinya menyelesaikan tugasnya, Arkandra melepas handscoon dan membuangnya ke tempat sampah. Membuka gown khusus operasi kemudian mencuci tangannya hingga bersih.
"Tolong setelah selesai, buat laporan hasil observasi dan letakkan di ruangan saya!" titahnya lagi pada asistennya pagi itu sebelum keluar dari ruang operasi.
Dengan langkah panjang, Arkandra segera berjalan menuju ruang rawat Azura. Saat pintu ruangan itu terbuka, Arkandra lantas mengerutkan keningnya karena melihat sosok yang sifatnya hampir sama dengan Azura, siapa lagi kalau bukan Kencana.
"Ngapain loe di sini?" desis Arkandra tak suka saat melihat ada Kencana di dalam sana. Lalu ia menghampiri Azura yang ternyata telah sadarkan diri.
"Ck ... emang salah ya besuk calon adik ipar sendiri? Dia lagi sakit lho, mana sendirian, mana tega gue. Emang elo, main tinggal aja." sindir Kencana sinis.
"Loe masih mata-matain gue? Siapa lagi mata-mata loe kali ini? Dan sampai kapan loe bakal mata-matain gue, hah?" kesal Arkandra karena dari dulu Kencana selalu saja memata-matai dirinya. Arkandra sendiri bingung, Kencana itu seorang direktur keuangan, tapi pekerjaannya sudah seperti agen FBI, memiliki mata-mata di mana-mana.
Kencana terkekeh seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu berdiri mendekati Arkandra.
Azura hanya diam mematung di atas brankar. Kedua orang itu tampak tidak seperti adik kakak pada umumnya sebab mereka kerap sering bertengkar di setiap pertemuan.
"Oops ... sorry, gue nggak bisa kasi tau siapa dia." jawabnya acuh tak acuh. "Sampai kapan? Tenang aja, setelah loe menikah, gue nggak akan ikut campur urusan loe lagi. Selanjutnya tinggal urusan loe mau mempertahankan atau melepaskan. Gue harap, setelah menikah loe akan menjadi lelaki yang lebih bijak, Ar. Gue pingin loe bisa jalani dan nikmati hidup loe sebagaimana mestinya. Dan yang terpenting lagi, gue pingin loe balik normal dan bahagia." pungkasnya sambil tersenyum penuh arti. Kencana menepuk bahu Arkandra, sambil melirik Azura seraya tersenyum. Kemudian ia pergi dari ruangan itu meninggalkan Arkandra yang masih tampak tenggelam dalam lamunannya.
Bahkan Arkandra masih mematung di tempat padahal Kencana Aidah pergi sejak beberapa menit yang lalu hingga suara Azura yang memanggilnya membuyarkan lamunannya.
"Pak dokter, ngelamunin apa sih?" panggil Azura seraya berusaha mengangkat tubuh bagian atas untuk duduk bersandar di headboard ranjang.
__ADS_1
"Udah makan?" tanya Arkandra mengabaikan pertanyaan Azura membuat Azura mengerucutkan bibirnya.
"Belum." sahut Azura ketus.
"Kenapa?" tanya Arkandra datar.
"Nggak selera." sahut Azura lagi sambil melirik nampan yang berisi bubur khas rumah sakit. Ia benar-benar enggan memakan makanan dari rumah sakit yang menurutnya terasa hambar dan tak menggugah selera.
"Jadi kamu mau makan apa?" tanya Arkandra mencoba sabar menghadapi tingkah menyebalkan Azura.
"Makan pak dokter, boleh?" tanya Azura dengan wajah seriusnya.
Sontak saja Arkandra melotot tak percaya mendengar kata itu terlontar dari mulut gadis yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai istrinya itu.
Baru saja Arkandra hendak membuka mulut dan mengumpatnya, tawa Azura langsung pecah membuat Arkandra mengerutkan keningnya
tingkat kegalakannya udah 359°." imbuhnya seraya tergelak.
Malas meladeni candaan Azura, ia pun kembali bertanya ingin sarapan apa. Apalagi ini sudah hampir jam 10, ia tak mau, Azura kembali sakit apalagi setelah tau penyebabnya dari Mario.
"Hmmm ... mie ayam, boleh?" tanya Azura dengan senyum manis mengembang.
"Oke, saya pesankan sekarang." ujarnya lalu ia segera mengambil ponsel dan menekan-nekan entah apa di layar ponselnya.
Tak sampai 20 menit, menu yang diinginkan Azura pun telah datang diantar salah seorang perawat yang sudah beberapa kali Azura lihat. Perawat itu juga membantu menyiapkannya di atas meja. Azura terkejut karena Arkandra memesan 2 porsi. Mungkinkah ia disuruh memakan semuanya? Emang gue perut karet. Omel Azura dalam hati.
__ADS_1
"Makanlah!" titah Arkandra seraya meletakkan seporsi mie ayam di atas meja portabel. Lalu ia meraih satu untuknya juga.
"Pak dokter belum sarapan juga?"
Arkandra menggeleng sambil melanjutkan makannya.
"Makasih ya pak dokter, calon suami aku ternyata selain ganteng, perhatian juga ya. Sayangnya galak. Coba nggak galak, pasti banyak cewek-cewek yang antri mau jadi kekasih pak dokter." ujar Azura sambil melahap mie ayam miliknya. Wajahnya terlihat cerah, tidak seperti orang yang sedang sakit. Sepertinya obat yang disuntikkan Mario bereaksi dengan baik.
"Jangan ge'er!" ketus Arkandra. "Saya lakukan ini karena nggak mau kamu sakit lagi. Merepotkan saja. Ingat, sudah 3 kali kamu pingsan di depan saya. Jangan ada ke empat kalinya! Kalau ada, urus saja dirimu sendiri." imbuhnya setelah menenggak air mineral botol yang tersedia di hadapannya.
Azura tersenyum kecut. Lalu membanting sendoknya ke atas mangkok dan menjauhkan makannya yang masih tersisa separuh.
"Kenapa nggak dihabiskan?" tanya Arkandra sambil mengerutkan keningnya.
"Hilang selera. Maaf sudah merepotkan pak dokter." ketus Azura. "Seharusnya tadi aku terima aja tawaran dokter Mario yang mau beliin sarapan daripada dianggap merepotkan seperti ini. Kenapa aku sukanya dokter galak ini sih? Kenapa harus nikah sama dia? Kenapa aku telat kenal dokter Mario? Coba kenal dia duluan, pasti yang jadi calon suami aku dokter Mario. Eza juga mana sih? Katanya mau ke sini bawain kue kesukaan aku kok belum sampai juga." omel Azura seraya membaringkan tubuhnya membelakangi Arkandra.
Arkandra yang masih duduk di kursi tak jauh dari Azura tentu saja mendengar segala omelan itu. Tangan Arkandra mengepal, entah mengapa ia begitu kesal mendengar semua kata-kata itu. Tiba-tiba suara pintu di ketuk, kemudian masuklah seorang lelaki yang pernah menemani Azura terakhir kali di rumah sakit.
"Wah, calon suami cadangan aku udah datang!" seru Azura sambil menyeringai dan wajah berbinar cerah membuat Arkandra melototkan matanya.
'A-apa? Calon suami cadangan?'
Bukan hanya Arkandra yang melototkan matanya, tetapi Leon juga. Tak lama kemudian, Eza dan Mario pun masuk secara bersamaan membuat Azura makin tersenyum lebar.
...***...
__ADS_1
Wkwkwk ... Azura udah kayak Sanchai yang didatangi oleh rombongan F4. Acie cie ... gimana nih reaksi pak dokter liat calon suami cadangan Azura yang nggak nanggung-nanggung jumlahnya. 😂🤣