Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 44. Seperti sepasang kekasih


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Azura telah tiba di basemen apartemen Arkandra. Azura menggaruk pelipisnya, ia bingung bagaimana cara menghubungi Arkandra sebab ia tidak memiliki nomor ponsel lelaki itu. Ingin rasanya ia naik dan mencari unit apartemen milik Arkandra atau bertanya pada resepsionis yang bertugas tetapi rasanya ia enggan. Ia takut, orang berpikir macam-macam tentangnya. Jadi, ia lebih memilih menunggu di dalam mobil. Karena semalam ia kurang tidur, alhasil ia pun terlelap di dalam mobil.


Tak terasa sudah 1 jam Azura tertidur di dalam mobil. Arkandra yang baru saja turun ke basemen mengira Azura belum datang, tapi nyatanya gadis itu justru tertidur lelap di dalamnya. Posisi tidur Azura yang meringkuk persis anak kecil membuat Arkandra tanpa sadar tersenyum geli. Sama seperti Azura, ia tadi pun sempat bingung ingin menanyakan ia telah tiba atau belum sebab sampai sekarang mereka bahkan belum bertukar nomor ponsel sama sekali.


Arkandra mencoba membuka pintu mobil yang ternyata tidak dikunci. Kemudian seperti dengan begitu sengaja, Arkandra menutup pintu dengan kencang.


Blam ...


Sontak saja Azura tersentak hingga reflek berdiri dan kepalanya terantuk roof panel. Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, Azura pun terjatuh hingga terduduk di lantai mobil membuat Arkandra terkekeh melihatnya.


"Aduh, kepalaku! Adududuh, bokongku aaargh ... " Azura meringis mencoba beranjak dari tempatnya terduduk.


Merasa kasihan, Arkandra mengulurkan tangannya untuk membantu, tapi dengan kasar Azura menghempaskan tangannya membuat Arkandra cukup terkejut.


"Bercandanya jelek banget! Beruntung jantungku masih kuat, kalo nggak, bisa-bisa Minggu depan bukannya jadi hari pernikahan kita, tapi jadi hari pemakaman atau tahlilan 7 hari wafatnya calon pengantin wanita." dengus Azura seraya mengusap kepalanya yang sakit.


Sebenarnya, ia sedari tadi agak sakit kepala, tapi tak ingin membuat Arkandra menunggu, ia pun datang lebih pagi padahal kalau dihitung ia baru memejamkan matanya selama 2 jam. Selama ini, Azura memang kurang tidur dan ia berusaha bertahan. Tapi entah, hari ini sepertinya sistem imunnya sedang kurang bagus jadi tubuhnya terasa lemas dan sakit kepala. Lalu kini, rasa sakit itu kian bertambah karena kepalanya yang terantuk roof panel mobil.


Kesal melihat Arkandra, Azura pun langsung mencangklong tas selempannya dan membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Arkandra dengan alis bertaut.


"Ke minimarket." ketus Azura.


"Ngapain?"


"Kerjalah, masa mau cari pacar." masih dijawab dengan ketua oleh Azura.


Azura pun berjalan perlahan menjauhi mobil Arkandra. Mata Arkandra menyipit melihat langkah sempoyongan Azura dengan satu tangan tampak memijat kepala.


"Apa aku tadi sudah keterlaluan?" tanya Arkandra pada dirinya sendiri.


"Ayo, masuk!" titah Arkandra tegas.


"Ogah." cetus Azura sinis. Kini ia tengah berjalan di trotoar. Ia hendak menuju halte yang tak jauh dari tempatnya sekarang.


"Buruan naik." titahnya lagi. Mereka sudah seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar membuat beberapa pasang mata yang melihatnya tersenyum geli.


"Udah mbak, buruan naik! Entar pacarnya diculik orang baru tau rasa lho!" goda salah pengguna jalan membuat Azura kembali mendengus.

__ADS_1


"Coba aja kalau bisa. Palingan, baru jalan satu hari, langsung tobat minta putus." ujar Azura yang masih mengacuhkan Arkandra. Mengingat bagaimana galaknya Arkandra, ia yakin takkan ada gadis yang betah menjadi kekasihnya. Orang-orang pun terkekeh melihat ekspresi Azura yang masbuloh.


"Ayo, cepat masuk! Atau ... "


"Atau apa?" tantang Azura.


"Saya hitung sampai 3, kalau nggak cepetan masuk, saya akan ... "


"Udah ah, aaargh ... " kepala Azura makin berdenyut. Lalu tanpa persetujuan Azura, Arkandra menggendong gadis itu di depannya dan mendudukkannya di kursi samping kursi pengemudi. Terang saja, Azura tersentak dengan perlakuan Arkandra. Bahkan ia tanpa rasa malu ataupun canggung memasangkan sabuk pengaman ke tubuhnya. Setelah semua selesai, Arkandra masuk ke kursi pengemudi dan melajukan mobilnya.


Azura terkejut saat mobil itu melewati begitu saja minimarket Happymart tempatnya bekerja. Sambil memijit pelipisnya, Azura membalik badannya menghadap Arkandra dan menuntut penjelasan.


"Pak, dokter, stop ih! Kita mau kemana? Happymart udah lewat. Pak dokter jangan aneh-aneh ya! Aku bisa bela diri dan melawan pak dokter kalau berani macam-macam." seru Azura dengan tangan sudah dalam posisi bersiap untuk memukul.


"Ck ... emang saya mau ngapain? Mau memperkosa kamu? Ih, emang kamu pikir kamu secantik dan seseksi apa sampai bisa buat aku nekat?" cibir Arkandra tanpa tedeng aling-aling.


"Ck ... nggak usah sok ya pak dokter! Kalau pak dokter nggak ada ketertarikan sedikit aja sama aku, pak dokter pasti nggak akan nyosor aku seenaknya gitu. Aku tau, pak dokter kemarin begitu menikmati ciuman itu. Hayo, nggak usah ngelak, artinya pak dokter tanpa sadar udah tertarik kan sama aku." tuding Azura sambil menyeringai.


"GeEr." kilahnya. "Itu saya lakukan bukan karena saya tertarik, tapi sebaliknya, untuk membuat kamu bertekuk lutut sampai kamu mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Kau pikir, aku nyaman kau berkeliaran seenaknya di sekitar ku? Nggak. Mimpi saja kau." desis Arkandra sambil menyeringai membuat Azura terdiam.

__ADS_1


Ia sudah cukup malas meladeni Arkandra yang memang sangat menyebalkan. Apalagi kepalanya makin berdenyut hingga tanpa sadar matanya kembali terpejam..


__ADS_2