Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 92. Go back


__ADS_3

Arkandra kini tampak sibuk membereskan segala barang bawaannya dan memasukkannya asal ke dalam koper. Tak peduli penampilannya begitu berantakan karena baru pulang dari seminar dan lawatan ke beberapa rumah sakit yang ada di Bandung, Arkandra menggeret kopernya lalu check out dari hotel. Tujuannya kini hanyalah segera pulang ke rumah. Ia terlebih dahulu berpamitan dengan penyelenggara beserta dokter-dokter senior yang bertugas menyukseskan acara itu. Setelah selesai, ia pun bergegas pergi untuk kembali ke Jakarta secepatnya. Untuk apa lagi kalau bukan melihat kondisi istrinya itu.


Tadi sepulang dari lawatan, Arkandra mengerutkan keningnya saat melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Kencana. Tadi ponselnya dalam mode silent karena itu ia tak tahu ada begitu banyak panggilan dari kakaknya itu. Arkandra yang biasanya bisa bersikap tenang, mendadak jadi Arkandra yang tak dapat mengontrol emosinya. Ia benar-benar khawatir saat mendengar Kencana mengatakan kalau ia menemukan Azura dalam kondisi tidak sadarkan diri di apartemen. Awalnya Kencana ingin berkunjung sekaligus menghibur Azura, tapi karena pintu tak kunjung dibuka padahal ia telah menekan bel berkali-kali, maka Kencana pun masuk tanpa izin sebab ia tau password apartemen adiknya itu. Saat pintu terbuka, Kencana sungguh terkejut melihat Azura telah terkulai tak berdaya di atas lantai yang dingin.


Setibanya di basemen apartemen, tiba-tiba ponsel Arkandra kembali berdering, ia pun segera mengangkat panggilan itu yang ternyata dari William.


"Gimana Wil, loe udah bisa dapatkan informasi siapa yang menyuruh para bajing-an itu melenyapkan istriku?" tanya Arkandra to the point saat panggilan telah ia angkat.

__ADS_1


"Wow, sekarang udah ngakuin istri loe! Udah nggak butuh Steve lagi kan buat ngejauhin istri loe itu?" ejek William.


"Shut up!" bentak Arkandra. Saat ini kepalanya begitu pusing, kurang tidur karena terlalu merindu, lalu kini terlalu cemas saat tau istrinya jatuh sakit saat ia tak ada. "Jawab aja pertanyaan gue! Gue sedang nggak ada waktu buat bercanda. Sorry, gue benar-benar pusing sekarang!" tukasnya menyesal karena tanpa sengaja membentak William.


"Gue yang seharusnya minta maaf, gue tau saat ini loe sedang banyak pikiran." William pun menyesali keusilannya yang tak tahu waktu. "Sorry Ar, gue dan tim udah interogasi mereka tapi tak ada informasi yang spesifik. Mereka mendapatkan tugas via telepon. Gue udah coba hubungi nomor orang itu, tapi ternyata itu nomor sekali pakai. Pembayarannya juga dikirim menggunakan jasa kurir yang nama pengirimnya menggunakan inisial Hr. Selain itu, nggak ada jejak sama sekali. Mereka sangat berhati-hati. Tapi loe tenang aja, gue akan terus mengusut tuntas kasus ini. Satu yang gue pinta, loe dan Azura lebih berhati-hati dengan orang-orang di sekitar loe. Gue yakin dalangnya ini orang terdekat loe sebab bagaimana bisa mereka tau kalo pak Sarmin mau jemput Azura kalo nggak mereka orang terdekat loe," ujar William sebelum panggilan itu ditutup. Arkandra menyugar rambutnya frustasi, ternyata mengungkapkan pelaku utama penculikan Azura tak semudah dugaannya.


...***...

__ADS_1


"Gimana cara keadaannya?" tanya Arkandra pada Kencana yang baru saja membuka matanya. Bahkan ia tertidur di sofa agar bisa terus memantau kesehatan Azura.


"Sekarang sudah lebih baik. Sepertinya dia dalam keadaan tertekan. Ada baiknya loe sementara ini selalu dampingi dia, Ar. Dia gadis yang baik. Gue kasian sama dia. Dan satu lagi yang buat gue terkejut hari ini, Ar," ucap Kencana dengan tatapan sendunya. Arkandra yang terfokus menatap Azura lantas menoleh ke arah Kencana dengan tatapan seolah meminta penjelasan 'apa?'.


Kencana menghela nafas panjang lalu menepuk bahu Arkandra pelan, "Dia berniat mundur, Ar dari misinya. Dia menyerah," imbuh Kencana membuat nafas Arkandra tiba-tiba tercekat dan jantungnya seolah berhenti.


"Kenapa? Kenapa tiba-tiba begini? Kenapa kamu tiba-tiba ingin menyerah? Apa kamu tak mau lagi memperjuangkan aku? Nggak, aku nggak akan pernah melepaskan kamu, Ra. Kamu istriku dan kamu hanya milikku. Takkan kubiarkan kamu pergi dan ninggalin aku. Nggak akan," ucap Arkandra seraya duduk di bibir ranjang. Dipandanginya wajah pucat Azura. Diusapnya kepada istrinya itu. Lalu ia pun mendekatkan wajahnya dan mencium dahinya cukup lama.

__ADS_1


"Kamu nggak boleh nyerah, Ra. Kamu nggak boleh pergi. Kamu hanya milikku, selalu, untuk selamanya," bisiknya tepat di depan wajah pucat Azura lalu ia pun mengecup bibirnya singkat untuk menyalurkan rasa rindunya beberapa hari ini.


...***...


__ADS_2