
Sedangkan di sebuah cafe shop yang masih berada di kawasan hotel, tampak Arkandra, Steven, dan William sedang meminum kopi milik mereka sambil terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Ar, loe gila ya, malam pertama bukannya aserehean sama bini malah ngajakin kami ngopi!" desis Steven setelah meletakkan cangkir kopi miliknya.
"Ck ... udah nggak usah protes!" balas Arkandra sengit.
"Jalani aja kenapa sih! Lagian ya, gue ngerti banget sama kak Kencana sampai ngelakuin ini ke loe. Dia cuma pingin buat loe bahagia, Ar. Dia pingin loe move on dan bangkit lagi." timpal William yang juga sudah mengetahui segalanya dari Arkandra. Arkandra sebenarnya telah menyadari kalau kehadiran Azura merupakan bagian dari rencana Kencana. Sebab hanya dialah yang selama ini selalu mati-matian mencarikannya jodoh agar dapat melupakan masa lalunya yang menyakitkan.
"Jalani? Gimana gue mau ngejalani kalau hubungan ini aja terjadi secara paksa? Gue nggak ada perasaan apa-apa sama dia. Gue pun terpaksa nikahin dia karena gue udah bosan sama ulah kakak gue. Gue harap setelah ini, kakak gue udah nggak ikut campur lagi urusan gue. Gue lelah, Wil. Gue tau, kakak gue ngelakuin itu karena sayang sama gue, tapi nggak semudah itu melupakan rasa sakit itu. Nggak mudah mengobati luka yang sudah terlanjur mengakar dalam." lirihnya penuh kepedihan.
"Tapi bukan berarti loe harus selalu berlarut-larut dalam luka, Ar." sahut Steven sambil bertopang dagu.
"Gue masih butuh waktu."
"Berapa lama lagi? Udah 2 tahun, Ar dan loe masih gini-gini aja.."
__ADS_1
ddrrt ...
Tiba-tiba ponsel Arkandra berbunyi. Dilihatnya deretan nomor yang baru pertama kali ia lihat itu. Awalnya, Arkandra penasaran karena merasa tak mengenal siapa pemiliknya. Namun, saat melihat foto profil nomor tersebut Arkandra lantas tersenyum dan segera pindah duduk di sebelah Steve.
Dengan santai, ia menekan tombol hijau ke atas hingga muncullah wajah istrinya.
"Pak dokter." pekik Azura tak peduli dimana Arkandra sekarang. "Lagi dimana sih kok pergi nggak bilang-bilang?" geram Azura dengan wajah bersungut-sungut.
Lalu ia menggeser kameranya hingga wajah Steven pun terpampang di layar kamera. Ia sengaja memposisikan tubuhnya sangat dekat dengan Steven, bahkan sedikit menempel membuat Azura membulatkan matanya.
"Pak dokter selingkuh?" serunya tak percaya dengan apa yang ia lihat. "Ck ... hei pelakor, gila aja lu ngerebut laki gue. Gue aja belum diapa-apain sama laki gue lah lu udah ngajakin dia keluar aja. Dasar pelakor nggak tau malu! Gila aja pisang makan pisang. Awas ya loe kalau ketemu, gue tendang pisang loe sampai bonyok!" desis Azura membuat Steven memucat. Sedangkan Arkandra dan William diam-diam menahan tawanya yang hampir meledak.
"Woy, wajar aja Arkan lebih milih gue, lah bininya aja bar-bar kayak gini! Liat aja, bakal gue buat laki lu nggak pulang malam ini biar lu tau rasa!" balas Steven dengan mata melotot lalu ia segera menekan tombol merah membuat panggilan video itupun terputus.
"Bwakakakakak ... "
__ADS_1
Akhirnya, Arkandra dan William benar-benar menyemburkan tawanya. Wajah frustasi Arkandra kini benar-benar hilang melihat aksi kocak istri dan sahabatnya itu.
"Gila loe ya, gara-gara loe gue cowok tulen disebut pelakor. Bisa hancur reputasi gue sebagai usahawan muda, tampan, dan mapan gara-gara loe." desis Steven geram karena Arkandra menjadikannya pasangan hombreng.
Tak peduli kekesalan sahabatnya, Arkandra dan William tetap saja tergelak sampai perut mereka sakit.
"Thanks atas bantuan loe!" ujar Arkandra sambil berusaha mengontrol tawanya.
"Dasar gila!" balas Steven.
Sedangkan di kamar hotel, saat panggilan ditutup sepihak, Azura langsung mengumpat kesal seraya melempar ponselnya ke atas kasur.
"Gila ... Jadi rumor itu ternyata benar. Jadi dia itu pacarnya pak dokter. Arrrghh ... ganteng-ganteng kok bego sih masa' sukanya main pisang-pisangan. Pantesan mbak Kencana ngasi tugas ini, ternyata ... pak dokter itu beneran hombreng. Ish ... jadi gimana cara biar dia normal lagi ya?" racau Azura frustasi sambil mengacak rambutnya.
flashback off
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...