
Jarum jam masih menunjukkan pukul 5 subuh. Karena sedang kedatangan tamu bulanan, Azura jadi enggan bangun lebih pagi seperti biasanya. Lagipula dokter galak kesayangannya tengah libur hari ini, kesempatan bagus tentunya untuk dirinya bersantai ria.
Azura lupa, kini bukan hanya ada dirinya dan Arkandra saja di rumah itu, tapi juga ada Alice yang sejak jam setengah 5 tadi telah bangun. Alice yang melihat Azura masih nyenyak dengan tidurnya, menyeringai. Lalu ia beranjak menuju tas ranselnya dan mengambil spidol berwarna hitam. Dengan memasang senyum jahilnya, ia pun mulai melukis di wajah Azura yang tidak menyadari kalau wajahnya kini tengah jadi objek lukisan abstrak Alice. Sesekali Azura menggeliat dan menepis lengan Alice yang bergerak hati-hati di wajahnya. Ia mengira wajahnya tengah dihinggapi nyamuk, jadi ia hanya mengibaskan tangannya saja untuk menghalau. Alice tertawa cekikikan dengan telapak tangan menutupi mulutnya saat melihat hasil karyanya yang mahadahsyat.
Setelah selesai dengan keusilannya, Alice segera beranjak menuju kamar Arkandra dan meletakkan spidol itu di telapak tangan Arkandra yang terbuka. Alice menyeringai, ia yakin sebentar lagi kehebohan akan memenuhi apartemen itu.
"Huaaaa ... Tante ... wajah Tante ... " pekik Alice pagi itu yang sontak saja membuat Azura yang awalnya masih tertidur lelap sontak menjengit kaget lalu reflek berdiri sempoyongan.
"Hah, ada apa Alice? Apa terjadi sesuatu? Kamu kenapa?" tanya Azura panik. Ia bergegas turun dari ranjangnya dan menghampiri Alice yang memandangnya dengan tatapan bingung.
"Itu ... itu Tante, wajah Tante, wajah Tante kenapa? Apa ada hantu yang nulis di wajah Tante? Kamar Tante ada hantunya ya? Kok wajah Tante coretan semua," ujarnya seraya menunjuk wajah Azura. Azura yang tidak mengerti lantas memegangi wajahnya. Alice menggeleng heran, memangnya coretan bisa diraba apa kok malah dipegang, bukannya dilihat di cermin.
Alice pun segera menarik tangan Azura dan memintanya segera bercermin. Azura menurut saja hingga beberapa detik ia kemudian Azura sontak memekik kaget saat melihat wajahnya sudah seperti siluman kucing meong-meong karena ada lukisan kumis dengan spidol di wajahnya. Belum cukup, hidungnya juga dibuat lingkaran hitam, dan di kedua pipinya ada gambar lingkaran menyerupai gambar racun nyamuk. Alisnya juga dibuat tebal seperti alis Shinchan.
Azura menggeram dengan kedua tangan mengepal. Ia mencoba menghapus coretan itu tapi ternyata coretan itu dibuat dengan spidol permanen. Matanya memicing menatap Alice, tapi dengan polosnya Alice mengangkat kedua jarinya dan mengatakan bukan dia yang melakukannya.
"Bukan Alice Tante, Alice juga terkejut pas liat Tante jadi jelek kayak gitu. Mungkin hantu Tante. Kamar Tante ada hantunya kali?" ujar Alice memasang wajah innocentnya.
Azura meletakkan ujung jarinya di dagu dengan gerakan mengetuk-ngetuk. Lalu matanya memicing, dengan jalan menghentak, ia melangkahkan kakinya menuju kamar Arkandra.
Brakkk ...
__ADS_1
Azura membuka pintu kamar Arkandra kencang hingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Arkandra yang tadinya masih tidur jadi tersentak. Dengan spidol di tangannya, ia menunjuk wajah Azura yang kini telah berdiri di depannya.
"Kau ... apa yang kau lakukan, hah?" serunya dengan suara sedikit meninggi. Lalu saat ia melihat ada Alice di sana, ia sedikit menurunkan suaranya. "Kenapa kau masuk ke kamarku dengan wajah menyebalkan itu, hah?"
"Masih mau pura-pura nggak tau dokter Arkandra Satya Aji yang terhormat? Apa begitu menyenangkan melihat wajahku penuh coretan seperti ini, hm?" desis Azura dengan mata melotot tajam.
Arkandra yang tadinya baru bangun, belum menyadari wajah Azura yang tampak berbeda. Barulah setelah Azura menanyakan hal itu, Arkandra mulai menyadari wajah cantik istrinya sudah berubah total bagai siluman kucing yang menggemaskan.
Arkandra sontak tergelak sambil memegangi perutnya. Ia tak pernah tertawa seperti ini sebelumnya. Bahkan ekor matanya sampai basah karena begitu geli melihat wajah Azura yang tampak begitu lucu pagi ini. Sungguh pagi ini ia merasa sangat terhibur.
"Hahahaha ... "
Azura memicingkan matanya. Ada yang aneh di sini, ia melihat Alice begitu senang dan bangga. Ia mulai sadar, pasti ini ulah bocah kecil itu. Ia tak menyangka, ia akan jadi objek keusilan dari keponakan suaminya itu yang kini sudah jadi keponakannya juga.
"Ommooo ... senang ya! Alice kayaknya senang banget udah berhasil ngerjain Tante ya!" desis Azura dengan mata menyipit. Alice yang sadar kalau Azura telah menyadari keusilannya lantas mencoba berlari. Tapi Azura lebih dahulu menangkapnya, lalu ia merebut spidol yang ada di tangan Arkandra dan membalas perbuatan bocah cilik itu dengan menggambar di wajahnya.
"Ampun Tante, ampun, ampuni Alice Tante ... "
Alice mencoba menghindari spidol yang hendak mendarat di tapi Azura malah makin mengeratkan pelukannya dan memulai aksi pembalasannya.
Selepas Alice, Azura juga ingin mengerjai Arkandra. Tanpa aba-aba ia melompat ke pangkuan Arkandra dan mulai mencoret-coret wajahnya. Arkandra mencoba menghindar, tapi Alice kini ikut turun tangan dengan memegangi salah satu tangan Arkandra agar Azura bisa segera melancarkan serangannya. Masih mencoba menghindar, Arkandra dan Azura bahkan sampai berguling-guling di kasur sampai spidol yang berada di tangan Azura terlepas. Belum mau mengalah, kini Azura malah menggelitik perut Arkandra sambil duduk di atas perut Arkandra. Terlalu bahagia, Arkandra reflek menarik Azura ke pelukannya sehingga mereka kini justru saling berpelukan dengan tubuh Azura berada di atas tubuh Arkandra. Mereka sampai lupa, ada seorang gadis cilik yang kini malah mengeluarkan keusilannya dengan memotret adegan intim itu dan segera mengirimkannya pada sang ibu.
__ADS_1
Tring ... tring ... tring ...
Ponsel Arkandra di atas nakas bergetar, tanpa melepaskan pelukannya dari Azura, Arkandra mengambil ponselnya dan membuka pesan di layar.
Arkaaaaaan, bisa-bisanya kalian bermesraan di depan Alice!
Arkaaaan, Azura, apa kalian sudah gila hah! Dasar pasangan nggak ada akhlak!
Woy, Arkandra Satya Nugraha, mau mesra-mesraan itu liat tempat, ada ank gue woy!
Plukkk ...
Ponsel Arkandra terlepas dari tangannya saat ia menoleh Alice masih asik memotret mereka yang masih berpelukan di atas kasur. Azura yang belum paham lantas menoleh ke samping, wajahnya mendadak merah padam. Ia pun segera turun dari tubuh Arkandra dan dengan langkah seribu, kembali lagi ke kamarnya.
'Astaga, kok bisa-bisanya aku malah keenakan di peluk mas dokter sih! Tapi emang sih, pelukannya itu enak banget. Hangat, nyaman juga. Padahal baru bangun tidur, tapi masih wangi aja. Ah, coba aja nggak ada Alice, mungkin kami akan berlanjut ke aserehe ah rehe. Yah, sayang banget!' gerutu Azura yang bukannya menyesal telah mempertontonkan kemesraan mereka di hadapan Alice, justru berharap lebih.
...***...
Nggak usah nyesel Azura, buktinya kedatangan Alice bikin kalian satu langkah lebih dekat kan! 🤪🤪🥰
...Happy reading 🥰🥰🙏**...
__ADS_1