
"Ka-kamu serius, Ra?" tanya Arkandra cengo.
Kehamilan Azura memang sudah memasuki trimester akhir, tapi menurut perhitungan, ini belum saatnya. Apalagi tadi istrinya itu tampak baik-baik saja. Bahkan ia tadi masih sempat melahap 2 porsi sate Padang.
"Iiih, Mas Arkan, buat apa juga aku bohong! Ini nih adudududuh ... Aaargh ... sakit mas," desisnya seraya merintih. Bahkan kaki Azura sudah sangat lemas, tak mampu untuk berdiri karena rasa nyeri yang tiba-tiba menyergap setiap beberapa detik sekali.
Arkandra sontak saja gelagapan. Ia buru-buru menahan tubuh Azura agar tidak sampai terjatuh. Tepat saat mobilnya berhenti tak jauh dari posisinya, ia langsung meneriakkan sang sopir agar membukakan pintu belakang untuknya.
Sang sopir yang melihat kepanikan di wajah majikannya lantas segera melakukan perintah. Dengan hati-hati, Arkandra memapah Azura masuk ke dalam mobil. Setelah pintu tertutup, sang sopir segera menjalankan mobilnya tanpa banyak bertanya.
"Segera ke rumah sakit, pak.," ucap Arkandra mencoba tenang.
Sebagai seorang mantan dokter, tentu ia harus bisa mengontrol emosi dan situasi. Tak mungkin ia menunjukkan wajah panik, walaupun itu di hadapan istrinya sendiri. Sikap tenang dapat membawa pengaruh baik bagi pasien. Sebaliknya sikap panikan, bisa membuat pasien ikutan panik.
"Mas, motornya ... " teriak Azura saat mobil mereka telah mulai melaju meninggalkan motor Azura yang masih terparkir sembarangan di tepi jalan.
"Nggak usah pikirin motor, sekarang itu yang terpenting kita segera sampai di rumah sakit," tukas Arkandra sambil membenarkan posisi Azura.
"Tapi ... tapi entar hilang gimana?" tanyanya masih dengan suara mendesis.
"Nggak usah khawatir, mas akan ganti baru dengan yang lebih bagus dan mahal," Arkandra mendelik sebal saat istrinya itu masih saja sibuk memikirkan motor sportnya yang terparkir sembarangan di tepi jalan.
"Beneran ya! Awas nggak!" Ancam Azura dengan mata dipaksakan melotot.
"Astaga, iya iya, istriku sayang!" cetus Arkandra yang matanya sudah hampir melompat karena kesal dengan tingkah sang istri. Namun, beberapa saat kemudian, ia baru menyadari perdebatan mereka tadi ternyata mampu mengalihkan rasa sakit yang sedang didera Azura.
"Mas, sakiiiitttt," lirih Azura yang wajahnya telah makin memucat. Tampak bulir-bulir peluh sebesar jagung menetes dari dahinya. Melihat kesakitan di wajah istrinya, jelas saja membuat Arkandra khawatir.
Arkandra menggenggam erat tangan Azura yang dibalas Azura dengan meremas tangannya. Dari remasan itu, dapat Arkandra rasakan betapa nyeri rasa sakit yang kini sedang dialami istrinya itu.
"Ra, tenang sayang! Aku tahu, kamu bisa. Kamu calon ibu yang kuat. Sekarang ikuti aku, inhale, exhale," ucapnya seraya mencontohkan menarik nafas panjang melalui hidung lalu menghembuskannya perlahan melalui mulut.
Azura pun mengikuti setiap perkataan suaminya. Tapi rasa sakit itu kini kian menjadi. Seakan seluruh tulangnya diremukkan bersamaan.
__ADS_1
"Maaaassss, aaaaku .... aaaaku nggak kuat," desisnya sambil makin meremas tangan Arkandra dengan nafas memburu.
Melihat itu kesakitan yang begitu kentara di wajah Azura membuat wajah tenang Arkandra seketika sirna berganti rasa gundah gulana. Beruntung, mobil mereka telah memasuki area rumah sakit. Tak lama kemudian, beberapa suster dan dokter datang menyambut mereka sebab saat dalam perjalanan tadi ia menyempatkan diri menghubungi mantan rekan kerjanya sesama dokter. Arkandra pun segera menggendong Azura dan meletakkannya di atas brankar secara perlahan.
Sepanjang brankar di dorong, Arkandra tak melepaskan genggaman tangannya sedikit pun. Raut wajah khawatir terlihat jelas di wajah tampannya. Para mantan rekan kerja Arkandra pun sampai terkesima melihat ekspresi lain dari Arkandra selain wajah datar dan dinginnya.
...***...
Plakkk ...
Sebuah flatshoes mendarat keras di pundak Arkandra membuat pria yang sedang menunggu dokter mengobservasi istrinya tersentak dari lamunannya.
"Kakak apa-apaan sih!" desis Arkandra kesal saat sang kakak seenaknya memukul pundaknya menggunakan sepatu. Untung saja sepatu itu tidak terlalu keras jadi tidak rasanya tidak begitu sakit.
"Loe tuh yang apa-apaan! Masa' ajak bini yang lagi bunting besar cari makan pake motor, otak loe dimana sih Arkan!" seru Kencana dengan wajah memerah menahan amarah. Beruntung tidak terjadi apa-apa pada mereka di perjalanan tadi.
"Ck ... siapa juga yang mau ajak Azura cari makan naik motor, mana malam juga. Andai Azura nggak maksa, gue nggak bakalan mau. Apalagi loe kan tahu, gue nggak bisa bawa motor, tapi mau bagaimana lagi, permintaan istri, lagi hamil juga, nggak mungkin kan gue abaikan," sahut Arkandra ketus seraya menjelaskan.
"Ck ... loe kan bisa bujuk dia buat naik mobil aja. Untung aja sopir loe ikut di belakang, kalau nggak, ya ampun Arkan, gue nggak bisa bayangin. Bisa-bisa anak loe lahir di atas motor sport," ujar Kencana seraya terkekeh membayangkan hal itu benar-benar terjadi.
Kencana menggeleng-gelengkan kepalanya, ternyata adiknya kini telah menjadi seorang bucin sejati. Tapi tak apalah, dengan istrinya sendiri juga. Azura juga perempuan yang baik jadi sudah sepatutnya adiknya itu sangat mencintai dan menyayangi istrinya. Walau yah, adik iparnya itu masih saja bersikap absurd dan bar-bar. Tapi asalkan itu masih dapat ditoleransi, ia tak masalah.
Tak lama kemudian, Arkandra masuk ke ruangan persalinan untuk mendampingi Azura. Beruntung kondisi kandungan Azura baik-baik saja jadi ia bisa melahirkan secara normal.
Terdengar tangis bayi yang menggema seiring erangan yang keluar dari bibir Azura. Tangisan itu begitu kencang hingga membuat Azura dan Arkandra meneteskan air mata. Mereka bahagia bercampur haru, akhirnya mereka telah tiba di titik ini, menjadi pasangan orang tua.
Arkandra sampai menciumi seluruh wajah Azura seraya menggumamkan ucapan selamat dan terima kasih karena telah hadir dan membersamai dirinya dalam setiap keadaan. Terakhir, Arkandra melabuhkan sebuah ciuman yang cukup panjang dan dalam di bibir Azura membuat dokter dan beberapa suster yang melihat membeliakkan mata mereka. Mereka tidak menyangka, dokter galak itu kini telah bertransformasi menjadi suami siaga dan sayang istri yang super romantis.
"Terima kasih Ma Cherie, terima kasih atas hadiah terindah ini. Terima kasih karena kau telah hadir dan masuk dalam kehidupanku. Terima kasih untuk baby boy super tampannya. I love you so much," lirihnya tepat di hadapan wajah Azura lalu ia kembali menyatukan bibir mereka. Tak peduli pada dokter dan suster yang masih berada di sana. Yang ingin ia lakukan hanyalah mengapresiasi perjuangan sang istri hingga dapat melahirkan buah cinta mereka dengan selamat ke dunia. Sekaligus menunjukkan betapa ia mencintai istrinya itu.
Arkandra memang pernah memiliki trauma. Bahkan ia sampai berpikir takkan mungkin bisa menjalin hubungan dengan wanita lagi apalagi sampai menikah. Namun dugaannya itu salah. Nyatanya kehadiran Azura membuat dunianya jauh lebih berwarna. Satu kini yang ia sadari, masa lalu kelam tak selalu memberikan dampak buruk di masa depan. Ada hikmah di setiap kejadian sama seperti yang Arkandra alami. Kehidupan percintaannya di masa lalu memang berakhir buruk. Tapi siapa duga karena hal tersebut ia menemukan jodohnya yang sebenarnya. Perempuan yang benar-benar mencintainya dengan tulus terlepas dari apa yang dimilikinya. Bahkan kini perempuan itu telah menyempurnakan hidupnya dengan menghadirkan seorang putra yang begitu tampan.
"Siapa namanya, mas?" tanya Azura yang menyerahkan pemberian nama pada suaminya.
__ADS_1
Arkandra menatap lekat bayi mungil yang wajahnya merupakan perpaduan antara wajah dirinya dan wajah Azura. Bayi mungil itu tampak tidur dengan nyaman di dalam dekapannya. Sesekali ia tersenyum dengan mata terpejam membuatnya terlihat makin menggemaskan.
"Athariq Satya Syailendra, gimana? Kamu suka?" tanya Arkandra pada sang istri.
Azura tersenyum lalu mengangguk, "Bagus kok, mas. Aku suka," sahut Azura membuat perasaan Arkandra kian membuncah.
Pagi harinya, satu persatu anggota keluarga Arkandra dan Azura datang ke rumah sakit untuk memberikan selamat dan melihat keadaan Azura juga baby Ariq.
Kencana, Alice, Bachtiar, Bimantara, Melodi, Gerald, Leon, Mario, Eza, dan yang lainnya tampak sangat bahagia. Perlahan hubungan Arkandra dan Bimantara juga kian membaik. Tak ada lagi rasa benci. Bagaimana pun dirinya kini telah menjadi seorang ayah. Ia ingin memberikan teladan yang baik untuk anaknya. Harapannya kelak ia bisa mendidik anak-anaknya menjadi anak berbakti, beriman, dan bertakwa pada Allah SWT.
"Selamat jadi ibu, kak," ujar Melodi seraya memeluk sang kakak yang tengah duduk bersandar di sandaran ranjang.
"Selamat atas kelahiran baby boy nya, Ra," ujar Kencana yang tak kalah antusias.
"Terima kasih, Di, Kak," balas Azura dengan tersenyum lebar.
"Yeay, Alice punya adek," seru Alice riang. "Adeknya bisa Alice bawa pulang nggak Tan?"
"No, kalau Alice mau adik, tinggal minta mama buatin. Dedek Ariq nggak boleh dibawa-bawa. Kalau mau main, datang aja ke rumah om dan Tante," sergah Arkandra yang lebih dahulu memotong perkataan Alice membuat gadis kecil itu mencebik.
"Ma, buatin Alice dedek bayi dong?" pinta Alice dengan mata mengerjap lucu membuat Azura terkekeh.
"Mas," panggil Azura. Arkandra yang tadinya sedang tersenyum melihat tingkah menggemaskan Alice pun lantas menoleh.
"Ada apa Ma Cherie?"
"Emmm ... itu ... jadi motor aku gimana?" tanya Azura. "Motornya hilang kan? Jadi ganti baru kan?" cecarnya dengan wajah sumringah seolah berharap motornya benar-benar hilang.
"Astaga ... " Arkandra menepuk dahinya keras hingga membuat orang-orang yang mendengar pertanyaan Azura pun tergelak kencang.
...💖 The End 💖...
...Halo kakak-kakak, nggak terasa cerita pak dokter dan Azura udah sampai di bab ending. Terima kasih atas segala support nya. Semoga suka ceritanya. Jangan lupa mampir ke karya othor yang lain ya!...
__ADS_1
...See you in the next story. 🥰🥰🥰...
...Happy reading 🥰🥰🥰...