
Pergumulan mesra telah telah berhasil kedua insan itu lakukan dengan penuh gelora asmara. Mereka begitu menikmati pengalaman pertama mereka itu dengan penuh suka cita. Mereka tanggalkan semua keraguan yang pernah menyesakki benak keduanya. Tak ada satupun yang tahu, alasan Arkandra menolak Azura selama ini karena dirinya selalu dibayang-bayangi adegan tak senonoh antara ayah dan kekasihnya, lebih tepatnya mantan kekasih.
Dia tidak ingin tidur dengan perempuan manapun maupun Azura karena setiap melihat adegan ranjang maka yang terlintas di benaknya adalah ayahnya dan Vinandia. Bahkan terkadang, adegan itu merasuk ke dalam mimpi buruknya membuatnya kian jengah, demikianlah alasan Arkandra selalu menolak segala upaya Azura yang menggodanya mati-matian.
Napsunya tiba-tiba turun, moodnya bercinta pun hancur seketika. Kadang ia merasa tak tega dengan Azura karena ia seakan telah mencampakkannya. Ia tahu pasti Azura merasa kecewa bahkan sakit hati, tapi ia tak berdaya. Ia belum mampu menyingkirkan segala bayang-bayang memuakkan itu dari benaknya. Ia hanya bisa pura-pura bersikap tenang di depan Azura, seolah-olah ia tidak menginginkan Azura. Padahal, tidak mungkin bukan ia mau mencumbu bahkan menjamah tubuhnya bila ia tidak memiliki rasa ataupun ketertarikan apa-apa pada wanitanya tersebut.
Arkandra kini tengah mempercepat tempo kali ketiganya di pusara surgawi Azura. Nada-nada indah bersahut-sahutan saat mereka hampir mencapai puncak bersama. Membuat mereka semakin dalam dan makin dalam lagi menyelami keindahan dan kenikmatan surga dunia tersebut.
Azura kian terengah, begitu pula Arkandra. Kemudian mereka pun menjerit bersamaan saat mereka berhasil mencapai puncak untuk ketiga kalinya tersebut. Arkandra kembali mencumbu bibir Azura dengan mesra dan memeluknya erat untuk menunjukkan penghargaan atas apa yang baru saja mereka lakukan. Sebagai seorang suami sudah seharusnya ia memberikan penghargaan setelah dahaganya terpuaskan oleh raga sang istri. Bukannya langsung tertidur atau memberikan punggung dengan acuh tak acuh. Sejatinya percintaan itu melibatkan dua insan dan memberikan penghargaan kepada pasangan merupakan upaya untuk makin mengeratkan ikatan.
Arkandra berguling ke samping seraya menatap lekat wajah Azura yang masih terengah sebagai bukti kehebatannya membuat sang istri kehilangan daya. Arkandra tersenyum seraya mengusap peluh yang bercucuran di dahi Azura kemudian menarik kepalanya agar bersandar di dadanya.
"Jadi ini perempuan yang suka sesumbar akan memuaskanku belasan ronde? Baru 3 ronde aja udah kayak gitu, apalagi belasan," ejek Arkandra kemudian tersenyum dan mengecup puncak kepalanya.
__ADS_1
Azura mengerucutkan bibirnya lalu mencubit lengan sang suami. Tadinya ia ingin mencubit perut, tapi ternyata perut pak dokter kesayangannya itu sangat kencang, tak ada kulit yang bisa dia jadikan sasaran cubitan. Padahal perut suaminya itu tidak kotak-kotak seperti CEO-CEO yang katanya memiliki body sixpack, tapi tetap saja perut itu begitu kokoh tanpa lemak membuat Azura kesulitan mencubitnya. Alhasil, ia berpindah mencubit lengan sekuat tenaga membuat Arkandra mengaduh namun selanjutnya terkekeh.
"Namanya juga baru pertama, sakit tau," delik Azura membuat Arkandra makin mengeratkan pelukannya.
"By the way, kenapa mas Arkan tiba-tiba berubah pikiran dan mau menyentuhku?" tanya Azura tiba-tiba sambil menatap lekat netra Arkandra yang masih memeluknya erat.
"Menurutmu?" tanyanya balik membuat Azura menggeleng karena memang ia tidak tahu.
"Aku kalah, Ra," ucapnya ambigu membuat Azura mengerutkan keningnya, makin tak mengerti.
"Kalah? Maksudnya?"
"Apartemen ini akan resmi jadi milik kamu plus uang 100 juta seperti yang aku janjikan," ucapnya seraya tersenyum manis.
__ADS_1
"A-apa?" seru Azura tak percaya. Otaknya kembali flashback ke 2 taruhan yang sudah mereka buat sesaat sebelum menikah dan juga sesudah menikah.
"Ya, aku, Arkandra Satya Nugraha telah jatuh cinta kepada istrinya sendiri, Azura Karenina," ucap Arkandra pasti tanpa keraguan sedikitpun.
...***...
By the way, makasih ya kakak2 yang telah berbaik hati membagi votenya pd karya othor ini. Utk pertama kali, pak dokter nangkring di rangking vote.
Othor seneng bgt deh walaupun hasil cuannya sangat jauh dr ekspektasi, tp GPP yg penting pecinta dr. Arkan masih setia nangkring di sini.
Sekali lagi makasih ya, kak. 🙏🥰🥰🥰🥰
__ADS_1