
Kini Azura dan Arkandra tengah berada dalam perjalanan menuju apartemen milik Arkandra. Sepanjang perjalanan, Arkandra diam membisu karena masih canggung dengan apa yang mereka lakukan tadi. Sedangkan Azura justru bernyanyi-nyanyi dengan riangnya mengikuti musik yang diputar di mobil. Biasanya ia kesal saat melihat tingkah konyol dan berisik seseorang, tapi entah mengapa, ia tidak terusik sedikit pun dengan tingkah Azura. Ia justru mendiamkan saja apa yang ingin dilakukan oleh Azura. Tanpa sadar, melihat tingkah menyebalkan Azura memberikannya hiburan tersendiri di dunianya yang sepi dan membosankan.
Arkandra memutar mobilnya masuk ke basemen apartemen Cendrawasih. Setelah mobilnya terparkir dengan rapi, ia pun segera turun mengabaikan Azura yang mendumel karena ditinggalkan begitu saja.
"Ck ... pak dokter galak, nggak bisa apa bersikap ramah dikit kek, romantis dikit kek, dibantu bukain pintu kayak pasangan lainnya biar romantis gitu. Aku sumpahin jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sama aku tau rasa loe!" desis Azura tak peduli Arkandra akan marah atau tidak mendengar segala ocehannya.
"Sumpah apaan itu? Memangnya ada sumpah kayak gitu?" cibir Arkandra setibanya di dalam lift.
"Ada, nih buktinya. Aku kan barusan nyumpahin pak dokter. Biarin, entar pas pak dokter udah secinta-cintanya sama aku, aku tinggalin, biar tau rasa." omelnya tanpa sadar membuat Arkandra mengepalkan tangannya.
Lalu dengan sekali sentakan, Arkandra mendorong Azura hingga memepet ke dinding dan meletakkan kedua telapak tangannya di sisi kepala kanan dan kiri.
"Apa kau bilang tadi? Membuatku jatuh cinta setelah itu meninggalkan ku? Kalau itu sampai terjadi, kau pikir kau bisa pergi, hm? Kalau itu sampai terjadi, akan ku pastikan kau pun takkan bisa pergi kemana-mana, kalau perlu aku akan membuatkan penjara khusus untuk mengurung dirimu agar tidak bisa per pergi kemana pun apalagi meninggalkanku." ancam Arkandra dengan sorot mata mengintimidasi. Bukannya takut, Azura justru membulatkan matanya dengan wajah berbinar.
"Lho pak dokter kok semena-mena ih! Atau jangan-jangan, pak dokter udah ... "
"Dalam mimpimu!" potong Arkandra sambil menjentik dahi Azura membuatnya mengerucutkan bibir lalu ia kembali tersenyum lebar mengikuti langkah Arkandra.
"Ngaku cinta aja ribet. Entar aku diambil orang lain, nangis kejer." cibir Azura tapi diabaikan Arkandra.
Setibanya di dalam apartemen milik Arkandra, mata Azura sontak berbinar cerah. Ia berlari kesana-kemari melihat apartemen yang terlihat tidak terlalu luas tapi sangat mewah. Bahkan apartemen itu terdiri atas dua tingkat dan memiliki kolam renang sendiri.
"Wah, apartemennya keren banget pak dokter! Jadi nggak sabar jadi pemilik sahnya!" ujar Azura sambil bergelayut manja di lengan Arkandra.
__ADS_1
"Awas, mimpi jangan ketinggian kalo jatuh sakit!" cibir Arkandra membuat Azura kesal dan menghentakkan kakinya.
Melihat lantai 2, Azura sudah tak sabar melihat kamar milik mereka berdua. Jadi Azura pun bergegas lari menuju lantai atas lantas berdiri di depan pintu yang terkunci.
"Pak dokter, ini kamar kita kan! Aku mau masuk, bukain!" serunya dari lantai atas.
Arkandra yang melihat itu bergegas menyusul dan menarik baju bagian belakang Azura lalu menyeretnya ke kamar sebelahnya dan mendorongnya masuk ke dalam.
"Ck, pak dokter kok aku di kamar ini sih? Emang kita pisah kamar ya? Kok gitu, sih! Kita kan suami istri nggak boleh pisah kamar." celetuk Azura bersungut-sungut.
"Kau pikir aku mau tidur denganmu? Tidur ngorok, ileran pula." ujar Arkandra sambil menunjukkan ekspresi jijik.
"Ck ... mana ada ya! Pak dokter ngarang ih. Emang pak dokter pernah liat aku tidur." ujar Azura tak mau kalah.
"Kamu lupa, berapa kamu pingsan dan siapa yang ngurusin kamu?"
"Ck ... Udah aku bilang, mau kamu telan*jang juga aku nggak bakal tertarik." ketus Arkandra.
"Beneran nih! Awas ya kalau tiba-tiba pengen!"
"Di otakmu itu apa nggak ada hal lain selain me*sum?" ejek Arkandra.
"Ada."
__ADS_1
"Apa?"
"Membuat pak dokter jatuh hati padaku." ujarnya sambil menyeringai.
"Setelah itu, kau ingin meninggalkanku?" ketus Arkandra. Entah mengapa ia kesal saat mengingat perkataan Azura di dalam lift tadi.
"Itu ... bisa ya bisa juga tidak. Kita lihat saja nanti." ujar Azura sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya sudah, istirahat lah dahulu. Nanti makan siang, biar delivery saja."
"Jadi seriusan kita pisah kamar?" tanya Azura lagi.
Tapi Arkandra mengabaikan pertanyaannya dan memilih berlalu dari kamar itu.
"Ish, pak dokter galak makin lama makin gemesin aja deh! Duh, gimana kalau aku jatuh cinta sama dia duluan ya! Oh no, jangan Ra, jangan sampai kamu jatuh cinta! Itu nggak boleh terjadi. Kamu nggak mau kan berakhir patah hati. Ya, nggak boleh!" gumam Azura tanpa ia sadari kalau Arkandra masih berada di depan kamarnya dengan tangan mengepal.
...***...
Maaf ya kakak2, othor lagi nggak bisa double up. Mau update Unwanted bride sama Terjerat Pesona Gadis Desa aja othor belum sanggup. Dari kemarin othor nggak enak badan. Sakit kepala, meriang terus nyeri-nyeri gitu. Tp kalo othor udah agak mendingan, othor update lagi kok. Jangan khawatir kalau ceritanya gantung!
Terima kasih semuanya yang masih mantengin karya othor.
Salam sayang utk semuanya.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...