Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 103. Hasil Penyelidikan


__ADS_3

"Ar, loe sibuk?" tanya William dari sambungan telepon.


"Gue barusan keluar dari ruang operasi. Sekitar 3 jam lagi ada operasi lagi, kenapa? Ada info terbaru?" cecar Arkandra yang sudah tidak sabar mendapatkan informasi tentang pelaku yang meminta para bajing-an itu melenyapkan Azura.


"Hmm ... Kita ketemu di cafe seberang rumah sakit loe, ya!" ujar William.


"Oke, gue segera ke sana."


"Pesan ruang VIP, jangan sampai informasi ini bocor," tukas William berpesan setelah itu mereka pun menutup sambungan telepon itu.


*Beberapa saat kemudian,


Di cafe*


"Ada informasi apa?" tanya Arkandra to the point setelah pelayan menghidangkan minuman untuk William, Stevan, dan Arkandra.

__ADS_1


"Gue sudah berhasil menyelidiki orang yang memerintahkan para penculik itu, namanya Beni dan loe tau siapa itu Beni?"


Arkandra menggeleng cepat.


"Dia mantan kekasih Vinandia. Malah mereka masih jadian saat perempuan itu pacaran sama loe," jelas William membuat Arkandra tercengang tak berdaya. Ternyata ia benar-benar tak mengenali mantan kekasihnya itu. Bahkan selama ini ia tidak tahu sama sekali mengenai kehidupan dan masa lalu Vinandia.


"Beberapa orang yang mengenal mereka mengatakan mereka emang sudah putus, tapi faktanya ... " William menggelengkan kepalanya seraya melemparkan beberapa foto ke hadapan Arkandra. Di foto itu, terpampang jelas bagaimana kemesraan antara Vinandia dan Beni. Foto-foto itu diambil di sebuah apartemen, di hotel, dan klub malam.


"Ternyata mereka masih berhubungan bahkan sampai sekarang," lanjut William membuat tangan Arkandra mengepal erat.


William mengedikkan bahunya karena ia juga belum tahu sampai kesana.


"Menurut gue Ar, tujuannya cuma satu, harta. Kenapa dia melepaskan loe dan lebih memilih mengejar papa loe. Ingat nggak, bukankah loe nggak berminat sama sekali dengan perusahaan. Bahkan sampai kakek mengancam akan mencabut hak waris loe kalau loe masih nerusin ingin jadi dokter, tapi loe tetap sama pendirian loe. Nah, di sini masalahnya, dia pikir semua warisan pasti akan jatuh ke tangan bokap loe jadi dia memilih merayu bokap loe dan berhasil. Tapi dia nggak tahu, kalau dalam keluarga loe ada peraturan yang menyatakan pengkhianat nggak berhak atas warisan dan perusahaan. Karena itu dia marah, jangan-jangan tujuannya melenyapkan istri loe juga supaya dia bisa balik lagi sama loe, Ar." Stevan berujar memberikan asumsinya. Bagaimana pun ia seorang pengacara, ia tentu dapat membaca niat terselubung seseorang melalui beberapa peristiwa. "Dan seperti dugaan loe, bisa jadi anak itu emang bukan anak bokap loe jadi saran gue lakukan tes DNA secara diam-diam mumpung bayinya masih di rumah sakit tempat loe bekerja. Ini bisa kita gunakan untuk menjatuhkan dia." Saran Stevan yang dibenarkan William.


"Oke, saran loe benar juga. Thanks, bro. Gue nggak tahu gimana jadinya kalau nggak ada kalian berdua yang bantuin gue." Ucap Arkandra tulus.

__ADS_1


"No, problem. Itulah gunanya sahabat, selalu ada saat suka maupun duka, dan saling membantu dikala butuh. Jangan sungkan-sungkan hubungi kami kalau loe butuh apa-apa, Ar," ujar William. "Gue juga bakal ngumpulin bukti-bukti lagi sebab bukti yang gue pegang belum menunjukkan keterlibatan dia dalam kasus Azura." sambungnya membuat Arkandra sumringah.


"Wah, sepertinya kekuatan cinta udah bisa mencairkan kulkas 10 pintu kita! Loe liat kan Wil, si dokter kulkas sekarang udah bisa tersenyum. Hebat banget bini loe Ar bisa mengubah loe jadi kayak gini," goda Stevan membuat William terkekeh.


"Makanya nikah biar loe tau gimana rasanya, Jangan pacar aja dibanyakin, nggak guna tahu," balas Arkandra acuh tak acuh.


"Gue banyak pacar biar bisa diseleksi mana yang terbaik buat dijadiin bini dan calon ibu."


"Yayaya, terserah loe aja. Gue balik ke rumah sakit dulu. Sekali lagi, thanks bro," ujar Arkandra seraya beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari sana.


Sementara itu, di Paris langit sudah mulai gelap. Gerald pun bersiap untuk mengunjungi Aurelia dan memberikan kejutan padanya. Sepanjang jalan koridor hotel, ia tak henti-hentinya tersenyum membayangkan keterkejutan Aurelia saat melihat dirinya. Ia sengaja mengunjunginya malam hari sebab ia tahu jadwal kekasihnya siang itu sangat padat. Siang tadi ia sempat menghubungi Aurelia sebentar. Ia yakin, jam seperti ini Aurelia telah berada di apartemen miliknya.


Kini ia telah memasuki lift untuk mengantarkannya ke lantai satu menuju lobi hotel. Ia akan naik taksi dari sana. Namun, saat berjalan di lobi hotel, tiba-tiba matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya baru keluar dari sebuah mobil mewah. Gerald tersenyum lebar saat melihat sosok yang ingin ia temui justru berada di sana.


"Apa dia sudah tahu kedatanganku?" gumamnya sambil tersenyum lebar. Rasanya sudah tak sabar untuk menemui kekasihnya yang sudah cukup lama tidak ia temui.

__ADS_1


__ADS_2