Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 89. Perubahan sikap Azura


__ADS_3

Sudah beberapa hari Azura dirawat di rumah sakit, ia sudah sadarkan diri, tapi kini Azura justru jadi berubah. Ia menjadi pribadi yang berbanding terbalik 180° dari Azura yang biasanya. Azura jadi sosok yang pendiam dan tak banyak bicara. Ia hanya sesekali menjawab bila ada yang bertanya ataupun merespon dengan senyum tipis, tidak selebar biasanya. Tak ada Azura yang ceriwis, suka mengomel, mudah merajuk, ataupun Azura yang manja. Arkandra tidak banyak bertanya, ia pikir itu wajar karena Azura baru saja mengalami peristiwa yang tak terduga. Bukan hanya peristiwa tak terduga, tapi juga hari yang berat sekaligus membahayakan.


Beberapa hari ini juga Arkandra tidur di rumah sakit agar bisa selalu menemani dan memantau kesehatan Azura. Ia dirawat di rumah sakit tempatnya bekerja jadi ia sengaja mengambil pakaian ganti agar sepulang kerja bisa langsung menemani Azura.


"Pak dokter, bagaimana keadaan Alice? Apa dia baik-baik aja?" tanya Azura cemas. Ia justru mengkhawatirkan gadis kecil itu. Ia merasa bersalah tidak bisa menjaga dan melindunginya. Seandainya hari itu ia bisa membujuk Alice agar pulang saja, pasti peristiwa itu takkan pernah terjadi.


Arkandra mengernyit saat mendengar Azura kembali memanggilnya pak dokter, bukan mas dokter seperti yang akhir-akhir ini ia lakukan. Tapi untuk saat ini, ia tidak mau banyak bertanya. Entah apa alasannya, Arkandra belum bisa menerka.


Arkandra duduk di kursi dekat brankar lalu menyodorkan sepiring apel yang baru saja ia kupas dan potong kecil-kecil. Azura menerimanya, tapi tidak langsung memakannya sebab ia masih menantikan jawaban dari Arkandra.


"Kamu nggak usah khawatir, Alice baik-baik aja. Sekarang dia udah kembali ke rumah besar dengan Kak Cana," ujar Arkandra seraya tersenyum manis, tapi Azura hanya memasang wajah datar. Tidak ada Azura yang sumringah atau bahagia saat melihat ia tersenyum. Ia hanya diam. Tak ada komentar apalagi pujian. Mereka selayaknya orang asing yang berada di dalam satu ruangan.


"Pak dokter, saya mohon jangan pernah beritahu apa yang saya alami ini kepada Melodi. Juga perihal saya dirawat. Saya hanya tidak ingin Melodi khawatir," ujar Azura yang justru membuat Arkandra kembali mengerutkan keningnya karena gaya bicara formal.


"Kamu mau mengingatkan aku berapa kali lagi sih, Ra! 3 hari kamu di sini, 3 hari juga bicara yang sama sampai bosan aku," ujar Arkandra sambil geleng-geleng. Ya, sejak sadarkan diri Azura telah berpesan padanya agar tidak pernah menceritakan perihal peristiwa yang menimpanya pada Melodi, takut adiknya itu khawatir. Dan ini adalah hari ke tiga Azura di rumah sakit, dan 3 kali pula Azura mengingatkan hal yang sama padanya. Azura hanya diam mendengar penuturan Arkandra. Ia tidaklah lupa, hanya saja ia khawatir Arkandra tiba-tiba mengatakannya pada Melodi.

__ADS_1


"Tanteeee ... " seru Alice tiba-tiba saat pintu terbuka. Dari belakangnya, tampak Kencana berjalan mendekat seraya tersenyum. Azura cukup terkejut dengan kedatangan kedua orang itu. Azura lantas merentangkan kedua tangannya saat Alice mendekat ingin memeluknya.


"Kamu nggak apa-apa kan, Lice?" tanya Azura khawatir sambil memindai wajah, tangan, hingga tubuhnya.


Alice tersenyum lebar, "Nggak Tante. Alice nggak papa kok."


"Kamu nggak usah khawatir, Ra, Alice udah nggak papa kok. Kemarin emang sempat demam 2 hari, tapi sekarang udah baikan. Malah tadi dia maksa mau ikut ke sini padahal udah aku larang. Dia benar-benar mengkhawatirkan mu," jelas Kencana yang kini telah berdiri di samping brankar. "Gimana keadaanmu?" tanya Kencana.


"Syukurlah." Azura menghela nafas lega. "Udah baikan kok, kak. Rencananya aku minta pulang hari ini," ujarnya seraya memasang senyum tipis. Tapi senyum itu terlihat dipaksakan. Arkandra bisa merasakan itu. Mereka telah tinggal satu atap lebih dari satu bulan bahkan hampir 2 bulan, tentu ia sangat hafal perubahan pada istrinya itu.


"Syukurlah, kakak sempat panik banget waktu dapat kabar dari Arkan kalau kalian diculik. Kakak harap, dalang penculikan itu segera ditangkap biar mereka segera mendapatkan hukuman yang setimpal," geram Kencana dengan tangan mengepal.


...***...


Kini Azura telah kembali ke apartemen Arkandra. Setibanya di sana, Azura langsung masuk ke kamarnya dan menutup rapat pintunya. Arkandra hanya bisa menghela nafas panjang melihat perubahan istrinya itu. Mungkin ia masih merasa tak nyaman mengingat peristiwa itu baru terjadi 3 hari yang lalu. Arkandra pikir mungkin Azura memerlukan waktu untuk menenangkan diri.

__ADS_1


"Ra, seminggu ini aku ada seminar di Bandung, kamu mau ikut?" tawar Arkandra yang dijawab Azura dengan gelengan. Saat ini mereka sedang berada di meja makan. Mereka tengah menikmati sarapan yang telah Azura siapkan. Azura tetap melaksanakan tugasnya seperti biasa. Hanya bedanya, tidak ada lagi Azura yang ceria, suka bersenandung, suka mengusilinya, suka mengomel, suka menggoda, dan berdebat dengannya. Arkandra seakan kehilangan Azura-nya dan Arkandra tidak suka itu.


"Beneran? Kamu di sini entar kesepian lho? Kalau di sana kan selesai aku seminar, kita bisa jalan-jalan. Hotel tempatku menginap dekat pantai, kamu pasti senang bisa jalan-jalan ke sana." Arkandra masih mencoba membujuk agar Azura mau ikut. Ia berharap, Azura-nya dapat kembali lagi setelah jalan-jalan di sana.


"Nggak, saya mau tinggal di sini aja," sahutnya kekeh memilih tinggal. Arkandra tak dapat memaksa jadi ia hanya bisa menerima.


"Atau mau aku hubungi Melodi supaya menemanimu selama aku pergi?"


"Nggak usah. Saya mau sendirian saja. Paling kalau bosan, saya yang menginap di sana," sahutnya datar.


Kini Arkandra benar-benar pasrah. Arkandra menatap nanar Azura yang sikapnya makin berubah. Ia tidak tau apa yang terjadi dengan istrinya itu. Ia harap, sekembalinya dari Bandung, Azura-nya telah kembali seperti semula. Tanpa sadar, ia begitu merindukan canda tawa dengan istrinya itu. Tanpa sadar, ia merindukan saat-saat mereka berdebat dan saling mengusili, tanpa sadar, ia begitu merindukan tingkah manja dan absurd istrinya itu. Padahal baru beberapa hari saja sikap Azura seperti itu, tapi mengapa, ia seakan telah begitu lama tak melihatnya. Ia rindu, sangat rindu.


Sebelum berangkat, Arkandra mencoba mendekat untuk mengusap kepala Azura, tapi sesuatu yang tak biasa terjadi. Bila biasanya Azura akan dengan senang hati saat mereka melakukan skinship, tapi kini ... Azura justru menghindar. Ia justru memundurkan tubuhnya, meninggalkan tangan Arkandra yang menggantung di udara. Azura-nya ... menghindarinya.


...***...

__ADS_1


Udah double up ya kakak, ditunggu dukungan like, komen, dan hadiahnya. Vote bagi yang masih ada. 😁😁😁


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2