Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 84. Ra, kamu dimana ?


__ADS_3

Taman Bermain,


Tak ingin memperlihatkan kesedihannya, Azura pun lantas berdiri lalu menemani Alice menaiki sebuah jungkat-jungkit di taman itu. Arkandra hendak membeli es krim untuk kedua gadis berbeda usia itu, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring hingga beberapa kali. Arkandra mengernyit saat melihat panggilan itu ternyata dari rumah sakit. Setelah mengangkat panggilan itu, Arkandra pun segera mendekati Azura dan Alice yang masih asik bermain.


"Ra, kita harus pulang sekarang. Ada pasien yang harus menjalani penanganan segera," ujar Arkandra.


"Tapi kita baru tiba di sini belum lama, mas dokter. Alice juga belum puas bermain."


"Kita bisa lanjut besok, Ra."


"Tapi kamu kan besok udah kerja lagi, mas dokter," ujar Azura seraya mengerucutkan bibirnya. "Gini aja, mas dokter ke rumah sakit aja. Biar Alice sama aku di sini. Atau mas dokter tanya dulu pendapat Alice," imbuh Azura.


Arkandra pun mengangguk lalu bertanya pada Alice. Ternyata jawaban Alice pun sama, ia belum mau pulang. Jadi dengan berat hati, Arkandra meninggalkan Alice dan Azura di taman bermain itu dan segera pergi ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, sebenarnya entah mengapa hati Arkandra terasa tidak nyaman. Rasanya begitu berat meninggalkan istri dan keponakannya itu. Apalagi setelah mendengar sedikit curahan hati Azura. Bahkan sampai sekarang ia masih merasakan sesak di dadanya. Ia tak menyangka, Azura berpikir untuk meninggalkannya. Ya, memang awalnya mereka melakukan perjanjian. Sebab saat itu ia tidak bisa menerima pernikahan paksaan itu. Apalagi saat itu ia masih memendam ketidaksukaan pada Azura.


Namun dari hari ke hari, Arkandra menyadari, ia telah menemukan kenyamanan pada istrinya itu. Bukan hanya rasa nyaman, tapi juga kebahagiaan yang telah lama hilang itu seakan kembali lagi. Hari-hari yang dilaluinya kini lebih hidup dan berwarna. Mungkinkah ia sanggup berpisah dengan Azura kelak? Mungkinkah ia sanggup kehilangan kembali? Mungkinkah ia mampu merelakan seseorang yang telah tanpa sadar memenuhi ruang hatinya yang kosong?


Arkandra menggeleng cepat. Rasanya ia tak rela dan takkan pernah rela. Walaupun ia belum menyadari pun mengakui ia telah mulai memiliki rasa pada Azura, tapi ia sudah terlanjur nyaman dan tak ingin merasakan kehilangan kembali tuk kesekian kalinya.


...***...


Dua jam telah berlalu, akhirnya Arkandra dapat keluar dari ruang OK dengan bernafas lega. Operasi itu berjalan lancar walaupun di pertengahan jalan tadi sempat terjadi hal tak terduga, namun dengan kemampuannya, ia bersyukur mampu mengatasinya dengan baik.


Sekeluarnya dari ruang OK, Arkandra segera membuka handscoon dan membuangnya di tempat sampah. Ia juga membuka pakaian khusus operasi dan mencuci tangannya hingga bersih.


Saat menuju meja kerjanya, ia langsung terpikir dengan istri dan keponakannya. Hari sudah menjelang malam, ia tidak tau mereka sudah pulang ke apartemen atau belum. Ia tadi sempat meminta sopir pribadi keluarganya menjemput Azura dan Alice di taman bermain dan mengantarkannya pulang ke apartemen.


Entah mengapa, kini jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Ada perasaan tak enak, tak nyaman, seperti ada sesuatu yang buruk terjadi. Ia menepis pikiran buruk itu. Ia yakin, istri dan keponakannya itu tidak apa-apa. Ia pun segera mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Azura, saat panggilan pertama panggilan tersambung tapi tak diangkat. Panggilan kedua pun juga begitu, tapi Arkandra tetap mencoba menghubunginya, bisa saja saat ini Azura sedang sibuk dengan Alice, pikirnya. Tapi pada panggilan ketiga hingga kelima mendadak panggilan tidak tersambung. Nomor Azura tiba-tiba tidak aktif. Rasa cemas kian menggelayuti benaknya. Lalu Arkandra mencoba menghubungi sopir keluarganya, tapi hingga panggilan ketiga, nomor itu tak kunjung aktif. Tangan Arkandra sampai bergetar karena cemas.


"Ra, kamu dimana? Kenapa nomor kamu nggak aktif? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku harap kalian baik-baik saja." gumamnya dengan jemari bergetar. Lalu ia meraup wajahnya kasar. Ia panik, ia cemas, ia benar-benar mengkhawatirkan keadaan istrinya dan Alice.


Tak putus asa, Arkandra pun mencoba menghubungi kediaman kakeknya untuk menanyakan apa sopir yang dimintanya menjemput Azura telah berangkat

__ADS_1


"Bi, ini Arkan, apa pak Sarmin sudah berangkat menjemput Azura dan Alice?" tanya Arkandra to the point saat panggilannya diangkat salah satu asisten rumah tangga kakeknya.


"Sudah den, sudah sejak tadi, kira-kira udah 2 jam lebih pak Sarmin pergi." sahut asisten rumah tangga kakek Arkandra.


Panggilan pun ia tutup setelah mengucapkan salam. Ia tak mau membuat keluarganya cemas. Apalagi hal ini masih abu-abu. Ia belum menemukan titik terang, apa yang terjadi dengan Azura dan Alice. Dengan wajah penuh kepanikan, Arkandra langsung meraih kunci mobil dalam laci meja kerjanya dan berlarian sepanjang koridor rumah sakit. Saat ini tujuannya adalah apartemen. Ia harap, Azura dan Alice ternyata telah berada di apartemen, tertidur pulas. Ditepisnya segala prasangka yang mulai berdengung di telinganya. Ia tak mau pikiran buruknya justru jadi kenyataan. Walaupun memang sejak di perjalanan menuju rumah sakit tadi ia sudah merasakan perasaan tak nyaman. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi, tapi apa? Arkandra tak mengerti.


"Ar, loe kenapa? Wajah loe kok kayak panik gitu? Apa terjadi sesuatu?" tanya Mario saat berpapasan dengan Arkandra yang hendak masuk ke dalam lift.


Arkandra menoleh dengan nafas memburu, "Gue nggak tau, Yo, perasaan gue nggak nyaman banget. Tadi gue ninggalin Azura dan Alice di taman karena ada panggilan darurat. Selesai operasi, gue mau hubungi Azura, tapi nggak bisa. Sopir kakek yang gue utus buat jemput mereka juga nggak bisa dihubungi, padahal menurut art kakek, pak Sarmin udah berangkat lebih dari 2 jam yang lalu. Gue takut Yo, gue khawatir udah terjadi sesuatu sama Azura dan Alice." ujar Arkandra dengan wajah penuh kepanikan. Matanya bahkan sampai memerah. "Sial! Seharusnya gue bawa mereka kemari dulu, bukannya gue tinggalin gitu aja. Astaga, gimana ini, Yo? Gue beneran takut terjadi sesuatu."


"Loe harus tenang dulu, Ar! Mungkin aja mereka udah pulang dan tidur di apartemen loe. Loe jangan panik dulu." tukas Mario mencoba menenangkan.


Arkandra mengangguk, "Ini gue mau ke apartemen dulu buat periksa."


"Gue ikut. Biar gue yang nyetir. Tangan loe tremor. Gue nggak mau terjadi apa-apa sama loe gara-gara mengemudi dalam keadaan panik." tukas Mario.


Lalu mereka pun segera pergi menuju apartemen. Tapi setibanya di apartemen, hasilnya nihil. Ia tak menemukan jejak Azura maupun Alice. Arkandra menyugar rambutnya frustasi.


"Ra, please, kasi tau aku, kamu dimana!" gumam Arkandra dengan mata berkaca-kaca. Tak mampu ia tutupi, kini ia benar-benar khawatir. Mario pun bisa melihatnya dengan jelas.


"Halo, Wil, ada apa?"


"Ar, gue mau nanya, kalau nggak salah, pak Sarmin itu merupakan sopir keluarga loe kan?" tanya William dari seberang telepon membuat jantung Arkandra makin bertalu-talu.


"Iya, Wil, ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan pak Sarmin?" tanya Arkandra panik.


"Ar, ada yang menemukan tubuh pak Sarmin dibuang di semak-semak. Keadaannya kritis. Telat sedikit saja, mungkin pak Sarmin udah nggak bisa diselamatkan. Kayaknya percobaan pembunuhan."


"A-apa? Apa ada yang lain di dalam mobilnya?"


"Mobil? Nggak ada, dia ditemukan nggak sama mobilnya. Emang dia pergi dengan mobil? Kalau iya, bisa jadi ini kasus perampokan?" tukas William.


Arkandra makin frustasi, "Wil, please, tolong gue, tadi gue minta pak Sarmin jemput Azura sama Alice di taman bermain dekat apartemen, tapi pak Sarmin kondisinya justru kayak gitu. Azura juga nggak bisa dihubungi. Mereka belum pulang sampai sekarang." tukas Arkandra dengan nada frustasi. Mario menepuk pundak Arkandra, memintanya tenang.

__ADS_1


"Apa? Loe nggak ada petunjuk yang lain?"


Arkandra tanpa sadar menggeleng. "Nggak ada, Wil. Tadi gue sempat melewati taman bermain, tapi udah sepi. Mereka nggak ada, di apartemen juga nggak ada, di rumah kakek juga."


Arkandra benar-benar kalut saat ini. Ia begitu tertekan karena terlalu mengkhawatirkan dimana keberadaan Azura.


"Sebentar, gue ingat, Alice pakai smartwatch, gue coba hubungi dulu. Loe tolong stand by ya, kalau-kalau gue butuh bantuan loe." tukas Arkandra dan langsung menutup panggilan itu sepihak tanpa menunggu jawaban.


Tuuuttt ... tutttt ... tuttt ...


Panggilan pertama diabaikan. Panggilan kedua pun sama. Hingga pada panggilan ketiga.


'Lepasin kami, breng-sek! Kalian mau apa?' terdengar teriakan dari Azura dari panggilan yang telah terhubung itu. Sontak saja, Arkandra menegang, Azura dan Alice ternyata dalam keadaan bahaya.


'*tante ... hiks ... hiks ... '


'Lepasin kami, sialan! Kenapa kalian membawa kami ke sini, hah! Sebenarnya kalian siapa dan mau apa?'


Plakkkk ...


'Aaargh ... '


'Tanteeee ... 'hiks ... hiks ... hiks* ... '


Rahang Arkandra mengeras saat mendengar bunyi pertemuan antara telapak tangan dan pipi yang begitu nyaring serta teriakan kesakitan Azura. Ia tahu, Azura baru saja ditampar seseorang di seberang sana.


"Om Arkan ... " bisik Alice takut-takut di depan smartwatch nya, khawatir orang-orang jahat yang menangkap mereka mendengar.


"Sssst ... jangan bersuara, dengarkan om, Alice, tenang ya! Jangan khawatir! Om akan segera menjemput kalian." ucap Arkandra yang diangguki oleh Alice. "Alice jangan tutup teleponnya ya! Biar om bisa melacak keberadaan kalian."


Arkandra menghela nafas berat sambil mengepalkan tangannya, ia mencoba menenangkan diri. Kalau ia panik, bagaimana ia bisa menyelamatkan istri dan keponakannya. Siapa yang sudah berani bermain-main dengannya? Ia bersumpah, akan memberikan pelajaran yang setimpal kalau sampai terjadi sesuatu dengan dua orang kesayangannya itu.


...****...

__ADS_1


Mas Dokter, tolong selamatkan Azura dan Alice ya! 😭😭😭


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2