
"Gue, bangun ... " Mama Gerald mencoba membangunkan sang putra yang tengah betah meringkuk di kasurnya yang empuk sembari memeluk selembar foto. Itu merupakan foto dirinya berdua Melodi. Ia mencetaknya sendiri agar ia bisa terus memandanginya sebelum terlelap. Sudah beberapa hari ini Gerald mengalami insomnia dan hanya dengan memandang foto Melodi saja dapat membuatnya tenang dan nyaman.
Mata Gerald mengerjap sayu. Terdapat lingkar hitam di bawah kelopak matanya. Ia seperti kehilangan semangat hidup, tidak seperti biasanya yang selalu penuh dengan baterai semangat.
"Mau ngapain, ma? Mau buat Gege makin menyesali kebodohan Gege yang kehilangan Melodi?" tanyanya dengan tatapan kosong, lurus menghadap langit-langit kamarnya.
Ya, hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu keluarga besar Gerald. Hari ini akan dilangsungkan pertunangan antara Melodi dan ... ah, Gerald tak sanggup membayangkan Melodi bersanding dengan pria lain.
Mata Gerald mulai mengembun. Ia menutup, kedua matanya dengan bahu bergetar. Ia menangis tersedu membuat sang ibu iba lalu memeluknya erat sambil tersenyum tipis. Diarahkannya kamera ponselnya yang ternyata sejak tadi terhubung dengan Melodi sambil memberi kode jari telunjuk di depan bibir agar tidak bicara sama sekali.
"Kamu kenapa, Ge? Laki kok cengeng," ejek mamanya membuat Gerald terkekeh sumbang dengan air mata yang masih mengembun di sudut matanya.
"Apakah salah kalau laki-laki menangis, ma? Gege nangis karena kebodohan Gege yang terlambat menyadari perasaan Gege ke Odi selama ini. Gege emang bodoh ya, ma. Setelah Odi mau tunangan sama Vero, Gege baru nyadar. Kenapa Gege bodoh banget, ma? Seandainya Gege sadar lebih cepat, semua pasti takkan menjadi seperti ini. Gege sayang Odi, ma. Gege cinta Di, tapi ... kini semua telah terlambat," tandasnya lirih membuat mamanya dan Melodi yang melihat itu dari sambungan video tersenyum tipis.
__ADS_1
Memang putranya ini harus diberi pelajaran terlebih dahulu biar nyadar. Kalau orang tuanya tidak bertindak cepat, bisa jadi sampai lebaran kucing pun dia nggak bakal sadar. Itulah yang ada dipikiran mama Gerald saat ini.
"Ge, mereka bukan menikah, hanya sekedar tunangan. Bahkan kalau kamu mau berusaha memperjuangkan, kemungkinan besar kesempatan itu masih ada. Makanya siap-siap, mandi yang bersih, yang wangi, terus yang ganteng. Harus lebih ganteng dari Vero supaya Odi klepek-klepek pas lihat kamu. Tuh, mama udah siapin tuksedo buat kamu! Asal kamu tahu, tuksedo itu pilihan Odi lho! Jadi gimana, masih mau meringkuk di sini buang-buang waktu dan kesempatan atau mau berjuang?" tanya mamanya dengan mata menyipit.
Gerald mengangkat wajahnya menatap mata sang ibu seolah bertanya mungkinkah ia masih memiliki kesempatan. Kemudian sang mama mengangguk membuat Gerald tersenyum lebar. Beruntung mama Gerald telah terlebih dahulu menyembunyikan ponselnya agar tidak ketahuan kalau ia baru saja memvideokan ungkapan perasaan Gerald pada Melodi.
Gerald berhambur memeluk tubuh sang mama seraya mengucapkan terima kasih atas semangat dan dorongan yang ia berikan. Setelah itu, dengan langkah lebarnya ia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya sebaik mungkin. Seperti kata sang mama, ia harus bersih, wangi, dan tampan. Ia harus tampil. sempurna hari ini. Ia akan memperjuangkan cintanya pada Melodi. Bukankah janur kuning belum melengkung, artinya ia masih ada kesempatan dong merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Dengan senyum sangat lebar dan penuh semangat, Gerald bersiap dan memakai tuksedo berwarna putih gading yang bahkan ukurannya sangat pas di tubuhnya. Dipandanginya penampilannya di cermin, sungguh sempurna, pujinya. Ia bagai seorang pangeran yang ingin memperjuangkan sang putri. Terserah apa kata keluarga besarnya nanti karena ia berusaha merebut calon tunangan sepupunya sendiri. Toh bukankah awalnya Melodi memang sudah terikat dengannya. Bahkan ini belum 6 bulan dari masa perjanjian. Namun kali ini ia akan membuat ikatan yang jelas, bukan perjanjian seperti tempo lalu. Ia serius ingin menjadikan Melodi sebagai miliknya. Semoga keluarganya mendukung dan tidak menghalanginya.
Azura yang memang si ratu jahil pun terus menggoda sang adik, membuat wajah Melodi bersemu merah hingga ke telinga. Ah, kakaknya memang keterlaluan sekali pikirnya. Tapi tanpa bantuan kakaknya, mungkin sampai sekarang mereka masih akan terjebak perjanjian yang hanya akan membuat batinnya tersiksa karena memendam perasaan tapi tak mampu mengungkapkan.
"Cie ... cie ... seneng nih ye! Akhirnya, cinta adik kakak nggak bertepuk sebelah tangan lagi." Goda Azura sambil menoel-noel lengan Melodi.
__ADS_1
"Iya nih nak Zura, beruntung Melodi memiliki kakak seperti nak Zura kalau nggak hmmm ... mama nggak tahu deh gimana hubungan mereka ke depannya." sahut mama Gerald.
"Nak Zura emang the best. Pantas saja dokter bedah termuda dan terhebat seperti dr. Arkandra bisa klepek-klepek sama nak Zura, ternyata nak Zura bukan cuma cantik dan baik, tapi juga hebat." Puji nenek Gerald.
"Nenek benar, kakakku emang kakak terhebat di dunia. Terima kasih ya kak atas segalanya. Tanpa kakak, entah bagaimana nasib Odi ke depannya. Odi sayang kakak," tukas Melodi sambil menatap lekat wajah Azura dengan mata berkaca-kaca.
"Udah jangan nangis, sayang make up nya. Udah cantik-cantik entar malah jadi cemong," bukannya menanggapi pujian dan ungkapan terima kasih sang adik. Azura justru khawatir make up Melodi rusak. Ia pun segera mengambil tisu dan menyeka air mata adiknya agar tidak sampai menetes dan merusak make up nya.
"Cck ... kakak, nggak bisa diajak serius." Melodi mencebikkan bibirnya membuat Azura terkekeh pun semua yang ada di dalam kamar itu.
"Kakak juga sayang kamu, Di. Jangan nangis lagi, ok!" pungkas Azura membuat Melodi tersenyum manis.
"Hufth ... sayang banget Odi nggak jadi sama Vero. Nggak kaos punya calon mantu nih." seloroh mama Vero membuat yang lainnya terkekeh.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🙏...