
Matahari sudah meninggi, tapi Azura justru masih asik bergelut di balik selimut tebalnya dengan keadaan polos. Mungkin terlalu lelah karena serangan bom nuklir dokter galaknya membuat Azura begitu kelelahan hingga bangun pun jadi kesiangan. ( Bom nuklir itu julukan dari kak KJH yah! 🤪)
Arkandra hanya menggelengkan kepalanya, namun ia tak membuka gorden, membiarkannya saja, ia sadar, istrinya itu pasti merasa remuk redam di sekujur tubuhnya. Padahal itu untuk pertama kalinya mereka bercinta, tapi ia sudah diserang bom nuklir tak tahu kalinya. Awalnya Azura menolak dan mengeluh sakit, tapi saat gelora asmara itu berhasil bangkit oleh ulah jemari dan bibir Arkandra, ia justru meminta lebih dan tak mau berhenti sebelum mencapai puncak bersama.
"Shittt, bagaimana bisa aku membayangkan ingin kembali bercinta! Azura saja masih terkapar tak berdaya. Coba aja dari awal aku nerima kamu, Ra, pasti sekarang di dalam sini sudah tumbuh calon anak kita," ujar Arkandra yang kini telah kembali berbaring di samping Azura seraya mengusap perut wanitanya dengan lembut.
Arkandra menelan ludahnya bulat-bulat saat melihat tubuh sang istri yang masih polos. Arkandra menyeringai puas saat melihat hasil maha karyanya telah memenuhi tubuh bagian atas Azura. Bahkan jejak-jejak sentuhan bajing-an tempo hari telah lenyap tak bersisa akibat ulahnya.
"Udah pegang-pegangnya?" cibir Azura dengan mata terpejam membuat Arkandra tersentak.
Arkandra pun tersenyum lebar saat mendengar suara perempuan yang kini telah jadi miliknya seutuhnya itu.
Bukannya menepis tangan Arkandra, Azura justru mengikis jarak dan memeluk tubuh Arkandra dengan kepala bersandar di dadanya.
"Kau mau menggodaku, hm?"
"Ih, siapa? Aku cuma mau peluk aja kok, nggak boleh? Kalau nggak boleh, entar aku minta peluk dokter Mario aja deh, Eza juga boleh," ucap Azura acuh tak acuh, sengaja mengerjai suaminya.
"Awas aja kalau sampai itu terjadi, aku mutilasi mereka berdua," ancam Arkandra dengan sorot mata tajamnya.
"Kan yang mau meluk mereka itu aku, kok yang dimutilasi mereka mas dokter?" tanya Azura yang kini telah membuka matanya. Sungguh tak pernah terbayang dalam benaknya, ia dapat bermesraan seperti ini. Posisi mereka sangat intim, sangat nyaman, rasanya ia tak rela melepaskan diri. Ia takut tiba-tiba kehangatan ini hilang bagai mimpi.
"Karena kamu nggak mungkin bisa meluk mereka kalau mereka nggak membuka tangannya untuk kamu," ucapnya acuh tak acuh.
"Cie ... bilang aja takut kehilangan!"
"Siapa? GR, kalau kamu hilang , tinggal cari gantinya aja."
"Beneran nih? Kalau aku beneran pergi gimana? Sebenarnya sebelum ini, aku sudah membuat keputusan, aku ... "
"Sssst ... jangan bahas itu, aku tak suka. Selama aku masih bernafas, takkan aku biarkan kau pergi dari sisi dan hidupku. Kau hanya boleh pergi saat aku yang memintanya, tapi aku pastikan itu takkan pernah terjadi. Because you're mine, one and only," desis Arkandra penuh kesungguhan memotong perkataan Azura yang ia sangat tahu kemana arahnya.
"Beneran mas Arkan nggak bakal pergi dariku? Yakin?" tanya Azura memastikan.
__ADS_1
"Sangat yakin, cukup sekali aku merasakan kehilangan. Kehilangan mama adalah kesedihan terbesar bagiku. Sesuatu yang sangat ku sesali hingga kini. Dan aku tak ingin semua itu terjadi kembali."
Azura memandang Arkandra penuh tanda tanya, paham istrinya butuh penjelasan lebih lanjut, ia pun melanjutkan ucapannya.
"Kamu tahu mengapa aku begitu menyesal?"
Azura menggeleng.
"Karena kalau saja aku tidak membawa perempuan itu ke dalam kehidupan kami, mungkin hingga kini mama masih ada di sini," ungkap Arkandra dengan tersenyum.
Azura mengulurkan tangannya mengusap rahang tegas Arkandra dengan lembut.
"Aku tahu, pasti mas Arkan tersiksa banget kan selama ini. Tapi ... kini sudah saatnya mas Arkan mengikhlaskan semuanya. Lepaskan semua beban di pundak mu. Aku yakin, mama telah berbahagia di sana. Bahkan mungkin mereka sedang mengobrol bersama mama papaku, mengawasi kita dari atas sana," ujar Azura menenangkan. "Oh ya, mulai sekarang jangan sungkan untuk membagi semua resah hatimu. Meskipun aku tidak bisa membantu, setidaknya bisa sedikit meringankan segala beban. Itupun, kalau mas Arkan benar-benar menganggap ku sebagai istri."
Arkandra pun menarik tangan Azura yang mengusap rahangnya dan mengecupnya.
"Kamu benar, Ra. Tapi setahu aku, aku udah banyak cerita tentang aku deh, justru kamu yang belum pernah sama sekali menceritakan tentang dirimu, keluargamu, benarkan?" ujar Arkandra berusaha mengorek informasi tentang segala sesuatu tentang istrinya itu. Termasuk masalah hutang. Ia sudah berniat melunasi segala hutang-hutang sang istri. Tentu ia tak tega melihatnya tertekan karena hutang yang tak sedikit itu.
Alis Arkandra terangkat ke atas dengan gerakan bibir mencibir, seolah menunjukkan ketidakpercayaan padanya.
"Kenapa? Mas Arkan nggak percaya aku?" tanya Azura kikuk.
"Aku percaya, tapi ada yang kamu tutupi dari aki. Aku minta kamu jujur sejujur-jujurnya, Ra. Jangan takut ataupun ragu, aku suamimu. Aku berhak tahu segala tentangmu juga permasalahanmu," ujar Arkandra menuntun penjelasan agar Azura lebih terbuka padanya.
Mendengar hal tersebut, membuat Azura gamang. Bolehkah ia menceritakan permasalahannya? Bolehkah ia meminta bantuan suaminya? Bagaimana pun juga hanya suaminya lah yang bisa membantunya.
"Itu ... sebenarnya ... " Azura gugup ingin mengungkapkan permasalahannya.
"Katakan aja aku siap mendengarkan. Kalau pun kamu ada masalah, katakan saja, siapa tahu aku bisa membantu," tukas Arkandra memancing Azura agar tidak ragu-ragu lagi.
Azura menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Mas Arkan, sebenarnya sebelum meninggal, orang tuaku punya hutang yang cukup banyak dengan rentenir. Karena itu, setelah mereka meninggalkan otomatis ahli waris hutang itu diturunkan ke aku. Udah 5 tahun ini aku berjuang untuk melunasinya, tapi tak kunjung lunas. Karena itu, saat kak Cana nawarin kerja sama, aku terima dengan senang hati. Uang itu ingin aku gunakan melunasi hutang-hutang itu. Tapi entah kenapa, tiba-tiba pak Jono minta hutang itu dilunasi dalam tempo 1 bulan," cicit Azura mengungkapkan semuanya dengan wajah tertunduk lesu.
__ADS_1
"Apa hal itu yang membuat kamu tiba-tiba murung saat di taman?"
"Hah! Kok mas Arkan tau?" seru Azura terkejut.
Arkandra terkekeh melihat reaksi di wajah Azura lalu menjentik dahinya pelan.
"Ya udah, kamu buruan mandi, setelah itu sarapan yang tertunda, terus ikut aku," ujarnya seraya mengangkat tubuh sang istri yang dibalut selimut.
"Kemana?" tanya Azura penasaran.
"Ada aja. Tapi sebelumnya, boleh minta satu ronde nggak?"
"Hah! Nggak ... nggak ... ini aja masih sakit, jalan aja susah, masa mau nambah lagi," tolak Azura cepat saat mendengar permintaan suaminya.
"Kamu nggak kasihan sama aku, Ra? Gara-gara kamu, ndusel-ndusel dada aku tadi, bom nuklirnya jadi bangun, pegang aja kalau nggak percaya," ucapnya dengan wajah serius.
Plak ...
"Mas Arkan ih, mentang-mentang udah ngerasain enaknya mantap-mantap, jadi nagih terus." cibir Azura seraya mencebikkan bibirnya membuat Arkandra terkekeh dan mengecup bibirnya sekilas.
"Aku jadi nyesel, kalau tau mantap-mantap itu secandu ini, kenapa nggak dari awal aku terima penawaran kamu," ujarnya sambil terkekeh. "Apalagi pas kamu pakai lingerie, so seksi bikin pingin nerkam," imbuhnya lagi.
"Ih, diam nggak! Dasar dokter me-sum!" hardik Azura kesal mendengar celotehan Arkandra yang kian me-sum menurutnya.
"Cih, pake ngatain orang me-sum, padahal dia sendiri lebih me-sum," ejek Arkandra.
"Iiih, udahan nggak, bisa ditutup nggak mulutnya ini! Nyebelin banget sih punya suami." Pekik Azura dengan mata melotot.
Arkandra hanya tergelak melihat Azura yang kesal karena ulahnya. Sungguh menyenangkan bisa melihat istrinya itu kembali seperti sedia kala.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1