
Ting tong Ting tong ...
Terdengar suara bel yang ditekan berulang kali membuat Azura segera bangkit dari sofa yang ia duduki dan berjalan menuju pintu.
"Hai, Ra ... " seru trio icikiwir bersamaan membuat mulut Azura menganga sempurna melihat kedatangan mereka.
"Eh, kalian! Mau ngapain?" tanya Azura dengan sorot mata bertanya-tanya.
"Persilakan masuk dulu kek!" ketus Leon yang sudah memegang sebuah kantong plastik kecil. Entah apa isinya.
"Oh, sorry!" ujar Azura seraya nyengir lebar. Kemudian ia mempersilakan trio icikiwir itu masuk dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Azura sengaja tidak menutup pintunya sebab di dalam ruangan itu hanya dirinya saja yang perempuan. Ia khawatir orang berasumsi macam-macam tentangnya.
Mata Mario tampak celingukan kesana-kemari. Semua itu disadari oleh Azura.
"Nyariin apa sih pak dokter?" tanya Azura.
"Si galak itu dimana? Kami pikir kalian lagi mau ngadon karena itu kami kemari mau gangguin kalian." ujar Mario seraya terkekeh.
"Ngadon? Emangnya lagi buat adonan pempek, roti, ih aneh-aneh aja pak dokter. Temen sendiri malah mau diusilin." ujar Azura tak percaya dengan niat teman suaminya itu. "Kalo pak dokter nanyain dimana pak dokter galak, jangan tanya aku deh. Aku juga nggak tau dimana rimbanya tuh orang." ujar Azura seraya mengangkat bahunya.
"Bukannya kenapa, Ra kami datang. Kan entar malam loe mau resepsi tuh. Bisa kacau kalau siang-siang gini loe di ajak ngadon sama si nyebelin itu. Bisa-bisa entar malam loe malah K.O." seloroh Eza membuat Azura melemparkan bantal yang ia peluk ke arah Eza.
__ADS_1
"Gila banget ya kalian bisa mikir sampai kesana. Kayak udah pengalaman aja." ujar Azura sambil geleng-geleng kepala.
"Kami kan laki-laki, Ra. Kalau udah nikah apalagi istrinya secantik elo, siapa yang bisa tahan." timpal Mario sambil tergelak.
"Udah ih, kalian meracuni otak polosku aja. Kalau cuma mau bahas hal-hal kayak gituan, mending keluar deh." Rajuk Azura dengan wajah memberengut.
"Hehehe ... " Eza dan Leon terkekeh. Pun Mario yang ikut menyengir lebar.
"Jangan dong! Emang sih, niat kami yang awal itu. Kami cuma mau jagain kamu, Ra. Eh tapi gue nggak nyangka, ternyata pengantin baru kita malah ditinggalin sendirian. Tega bener. Apa jangan-jangan rumor tentang si dokter itu beneran ya?" celetuk Leon.
"Rumor apaan?" tanya Azura.
"Itu tuh, gue dengar ya, Ra, kalau laki loe tu sebenarnya gay." ujar Leon dengan sorot mata penuh keseriusan.
"Udah ... udah, dari pada loe pusing mikirin laki loe yang nyebelin itu, mending kita main monopoli aja. Tuh, Mario bawa monopoli." tunjuk Eza ke kantong plastik yang dipegang Leon.
"Hah! Gila! Emang gue anak kecil main begituan." tolak Azura.
"Ih, mending kita main permainan anak kecil tau, lebih seru. Ayolah, gue juga bawa jepitan baju. Siapa aja yang kalah bakal kena jepit. Bebas mau jepit dimana aja buat seru-seruan." tukas Mario yang sudah merampas kantong plastik dan mengeluarkan isinya. Lalu Mario mengajak mereka duduk lesehan di lantai untuk bermain.
Azura pun akhirnya setuju. Mereka pun main dengan riang sambil tertawa. Sesekali mereka menyantap pizza dan Thai tea yang dipesankan Eza.
__ADS_1
"Yes, aku naik tangga lagi!" seru Azura saat dadunya berhenti di sebuah tangga membuatnya naik ke baris teratas.
"Sial, dapat ular lagi." umpat Leon saat dadunya stop di kepala ular membuat caturnya turun lagi ke bawah membuat Eza dan Mario terkekeh.
.
Sudah satu jam berlalu, telinga Mario dan Leon telah dijepit kanan dan kiri. Sedangkan Azura dan Eza hanya mendapatkan satu jepitan di salah satu telinganya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata menatap nyalang trio icikiwir itu dengan tatapan emosi. Bagaimana bisa kamar pengantinnya kini justru didatangi trio icikiwir itu. Dengan langkah panjang, Arkandra menarik kerah baju Mario dan mendorongnya keluar. Lalu ia beralih pada Eza, tapi Eza menepis.
"Apaan sih loe! Lepas!" seru Eza tak suka.
"Apaan? Kalian yang apaan senang-senang di kamar pengantin gue, hah!" bentak Arkandra geram.
"Ck ... pemarah banget nih orang! Ra, seriusan dia sekarang jadi laki loe? Bisa-bisa loe gelud tiap hari kalo laki loe modelan kayak gini tiap hari." celetuk Leon sambil geleng-geleng kepala. "Loe yang ninggalin istri loe sendirian, eh datang-datang malah mau marah-marah." imbuh Leon lagi.
"Harusnya loe makasih sama kami sebab kami sudah berbaik hati menemani pengantin cantik ini yang ditinggalin gitu aja sama pasangannya. Kami cuma mau menghiburnya, bro." cetus Mario membuat bibir Arkandra sampai berkedut-kedut menahan segala umpatan yang ingin terlontar dari mulutnya.
"Okay, terima kasih atas kebaikan kalian yang mau menemani istri gue dan sekarang karena suaminya ini sudah kembali, silahkan kalian semua keluar. Gue juga mau menghabiskan waktu berduaan dengan istri gue." ujarnya sambil tersenyum smirk. Lalu tanpa malu ia mengecup bibir Azura di depan Mario, Eza, dan Leon membuat Azura membelalakkan matanya.
"S h i t! Yuk, kita pergi!" ajak Eza dengan wajah memerah membuat Arkandra menyeringai puas. Mario dan Leon pun terpaksa ikut pergi meninggalkan pasangan pengantin baru itu.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...