Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 75. Duren Gatir


__ADS_3

Sudah hampir 30 menit berlalu, Arkandra tak kunjung membuka suaranya untuk memberitahukan kemana ia akan membawanya sebab itu bukan jalan menuju ke apartemen miliknya. Tak lama kemudian, barulah Azura menyadari kemana Arkandra sebenarnya mengajaknya. Meski sedikit bingung mengapa ia mengajaknya ke sana, tapi Azura tak banyak bicara. Bahkan nyaris tanpa bicara sama sekali. Ia mengikuti saja apa sebenarnya yang akan dilakukan pak dokter galak kesayangan othor itu eh maksudnya kesayangan Azura. ✌️


Sekeluarnya dari dalam mobil, Arkandra membukakan pintu mobil dan kembali menggandeng tangan Azura agar mengikutinya. Dengan mulut terkunci rapat, Azura terus mengikuti hingga sampailah mereka di ruang kerja Arkandra. Lalu secepat kilat, Arkandra mengganti pakaiannya yang semula pakaian formal kini berganti pakaian kebesarannya.


Azura terkesima melihat perubahan penampilan Arkandra. Mau mengenakan apa saja, pak dokter galaknya tetap saja terlihat tampan. Azura sampai tersenyum-senyum sendiri memandanginya.


"Kamu tunggu di sini. Mungkin agak lama jadi kau bisa melakukan apa saja asal jangan sampai keluar ataupun pergi dari sini, kau mengerti!" ucap Arkandra lembut tapi tegas.


Tak ada yang bisa Azura lakukan selain mengangguk patuh. Ingin membantah seperti biasa, tapi ia tahu saat ini dokter galaknya sedang dalam mode tidak baik-baik saja. Pikirannya masih semerawut. Membantah sama saja mencari masalah jadi lebih baik tutup mulut lalu mengangguk. Anak patuh mode on.


"Good girl!" puji Arkandra seraya mengusap puncak kepala Azura membuat Azura mengerjapkan matanya dengan pipi bersemu merah.


Kemudian Arkandra pun segera keluar dari ruangannya meninggalkan Azura sendirian.


Azura menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia kini justru kebingungan sendiri apa yang harus dilakukannya di ruangan itu. Televisi tak ada. Jadi ia pun berinisiatif menelpon Melodi, tapi hingga panggilan ketiga, panggilan itu tak kunjung diangkat.

__ADS_1


"Kemana tuh anak? Apa sudah tidur? Kok tumben? Atau dia lagi jalan-jalan? Tapi kemana? Hmmm ... aku harus menasihatinya nanti agar tidak bertindak macam-macam. Bagaimanapun, dia keluargaku satu-satunya, adik satu-satunya, aku nggak mau sampai terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Melodi." gumam Azura seraya menatap layar ponselnya.


Lalu ia mencoba mencari nomor kontak yang lain, ingin menghubungi Leon tapi jam seperti ini biasanya Leon tengah sibuk. Namanya juga bartender. Semakin larut, pengunjung justru makin ramai. Ingin menghubungi Eza, tapi biasanya Eza dapat giliran malam, ia tak mau mengganggu Eza yang sedang bekerja. Tinggal satu kandidat yang belum ia coba hubungi, siapa lagi kalau bukan dokter Mario.


Azura lagi-lagi mendesah lelah sebab nomor ponsel Mario justru tengah tidak aktif.


"Tumben!" gunanya seraya menatap layar ponselnya.


Azura pun menghempaskan tubuhnya di sofa panjang. Matanya sibuk celingak-celinguk kesana kemari. Suasana yang begitu sunyi tiba-tiba membuatnya merinding. Apalagi aroma obat-obatan begitu kuat tercium di hidungnya membuatnya merasa tak nyaman. Azura sampai menelan ludahnya sendiri. Padahal ia telah biasa sendirian, bahkan di tengah jalan di malam hari, tanpa yang menemani pun ia merasa biasa saja, tapi kini kenapa ia justru merasa merinding.


Sudah 2 jam berlalu semenjak Arkandra meninggalkan Azura sendirian di ruangannya. Dengan langkah tergesa, ia kembali ke ruangannya untuk memeriksa keberadaan Azura. Azura bukanlah tipikal gadis penurut jadi ia sedikit sangsi Azura masih setia menunggunya di ruangannya.


Tapi sesuatu yang tak terduga justru tersuguh di depan matanya. Istri menyebalkannya itu ternyata masih setia menunggu dengan mata terpejam erat. Arkandra pun segera mendudukkan bokongnya di lantai dengan bersandar di bibir sofa. Ia merasa sangat lelah malam ini. Bukan hanya jiwanya saja, tapi fisiknya juga.


Sungguh, perdebatan dengan Vinandia tadi cukup mengusik ketenangannya. Ia kesal. Ia marah. Ia benci. Apalagi setelah mendengarkan kata-katanya yang seolah merasa begitu tertekan karena sikapnya dan Kencana. Ia berkata seolah-olah mereka begitu kejam pada ayahnya dan juga Vinandia. Seharusnya ia sadar, mengapa mereka sampai begitu membenci mereka berdua.

__ADS_1


Mungkin ia takkan begitu sakit hati bila Vinandia berselingkuh dengan orang lain, tapi yang membuatnya begitu terluka adalah mengapa Vinandia harus berselingkuh dengan ayah kandungnya sendiri. Bahkan ibunya saat itu masih ada. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat kehancuran sang ibu hingga akhirnya jatuh sakit dan meregang nyawa karena terluka. Hati anak yang mana yang tak ikut hancur ketika melihat kehancuran ibunya diakibatkan gadis yang ia bawa dan kenalkan sebagai kekasihnya.


Mengapa harus ayahnya? Tidak adakah lelaki lain yang bisa dijadikannya sebagai pasangan selingkuhannya? Mengapa harus ayahnya? Padahal ia tahu, ayahnya masih memiliki seorang istri dan lelaki itu adalah ayah dari kekasihnya sendiri?


Arkandra benar-benar terpuruk. Ia hancur luluh lantak hingga berkeping-keping. Rasa sakitnya membuatnya begitu membenci baik Vinandia maupun ayah kandungnya sendiri. Rasa benci itu pula yang membuatnya memilih angkat kaki dari rumah besar dimana keluarganya berkumpul. Ia takkan sanggup tinggal satu atap dengan orang-orang munafik seperti Vinandia dan ayahnya. Bahkan setelah membuat ibunya meninggal, mereka kini masih bisa berbahagia dengan menikah dan kini mereka justru sedang menantikan kehadiran putra pertama mereka. Itu yang mereka katakan hampir menjadi gila?


Bohong. Ia tak percaya itu. Kalaupun mereka menderita, itu bukan karena kesalahannya. Itu adalah buah dari perbuatan mereka sendiri. Seperti kata Azura, hukuman itu belumlah cukup. Kalau mereka merasa tersiksa karena cacian orang-orang, mengapa mereka tidak pergi? Mengapa mereka justru ikut tinggal di rumah keluarga besarnya? Bukankah itu artinya mereka pun turut menikmati segala fasilitas dan kemewahan di rumah itu? Atau bisa juga, mereka sebenarnya tengah menunggu sesuatu yang lebih besar. Tangkapan yang lebih besar. Apalagi kalau bukan warisan. Tapi sayangnya, warisan justru jatuh ke tangan Arkandra. Mereka justru hanya mendapatkan sebagian kecil. Bahkan sangat kecil. Beruntung keluarga mereka memiliki aturan warisan hanya diberikan kepada keturunan yang bersih dari kasus perselingkuhan. Bila tidak, bisa saja semua warisan justru jatuh ke ayahnya dan Vinandia. Walaupun sebenarnya Arkandra tidak memiliki ketertarikan sama sekali baik dengan perusahaan maupun warisan, tapi setidaknya dengan aturan itu, para peselingkuh seperti ayahnya dan Vinandia takkan bisa menikmati warisan itu sepuas hati mereka.


"Mas Dokter udah kembali?" tiba-tiba suara Azura menyadarkan Arkandra dari lamunannya.


"Kamu ... nggak tidur?" tanya Arkandra saat melihat Azura telah membuka lebar matanya.


"Tidur? Gimana mau tidur coba. Ruangan mas dokter ini kalau malam justru tampak menyeramkan tau. Liat tuh gordennya gerak-gerak kayak ada seseorang di baliknya. Liat ke sudut sana, kayak ada yang liatin. Liat ke atas kayak ada ... ah pokoknya gitu deh. Serem. Entar lagi enak-enakan tidur tiba-tiba ada yang nyekik terus aku mati gimana? Enakan dokter dong jadi duren gatir alias duda keren ganteng tajir melintir. Rugi dong akunya." ucap Azura panjang kali lebar membuat Arkandra tanpa sadar terkekeh mendengarnya.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2