
Sementara Melodi dan Gerald sedang mereguk madu indahnya menjadi pasangan halal di Cappadocia. Menikmati kebersamaan dengan naik balon terbang sembari menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan dari atas sana, maka di sebuah apartemen mewah milik Arkandra yang telah berganti kepemilikan jadi milik Azura, tampak seorang perempuan sedang merajuk sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Jadi kamu mau apa, Ma Cherie? Masa' iri sama adik sendiri sih?" Goda Arkandra sambil menyusupkan tangannya ke dalam selimut dan menari-nari di dalam sana.
Azura lantas menurunkan selimut yang menutupi wajahnya. Azura mendelik kesal ke arah Arkandra yang justru sedang sibuk tersenyum dengan jemari yang sudah menari-nari di atas perut datarnya.
"Cck ... dokter me*sum," desis Azura sambil menepis tangan Arkandra dari dalam selimut yang justru membuat Arkandra terkekeh. "Gimana aku nggak iri coba, mereka baru aja nikah eh langsung terbang ke Turki buat bulan madu, sedangkan kita udah bukan hitungan hari jadi suami istri tapi nggak pernah bulan madu. Mana mereka ke luar negeri juga. Aku aja belum pernah. Biarpun pernikahan mereka dadakan, tapi Gerald berhasil melamar Odi dengan romantis di hadapan semua orang. Lah aku, dilamar aja nggak, boro-boro dilamar, diancam malah yang ada. Iiih ... aku pingin aku pingin aku pingin ... " Rajuk Azura dengan bibir mencebik dan tangan memukul-mukul sisi kasur.
Arkandra tergelak melihat tingkah Azura. Bila dulu ia akan mengumpat bahkan menganggap tingkah Azura menyebalkan, maka sekarang justru sebaliknya. Arkandra justru menilai tingkah Azura sangat menggemaskan. Mungkinkah ini bucin effect atau sindrom bucin yang tengah dialaminya?
Ah, bisa-bisa Azura memberinya julukan baru dokter bucin!
"Ya mau gimana lagi Ma Cherie, mereka kan baru nikah jadi wajar kalau mereka pergi bulan madu. Sepertinya mereka ingin mencetak Gerald dan Melodi junior di balon terbang." Ujarnya sambil terkekeh. "Lagian kan kita udah sering bulan madu." ucap Arkandra ambigu.
"Kapan? Kita aja nggak pernah sekalipun pergi bulan madu. Bulan madu dari mana? Dari Hongkong." Azura mendelik kesal. Nggak peka banget. Istri protes itu artinya pingin, masa' istri sih yang inisiatif ngajakin bulan madu. Boro-boro ke luar negeri, selama nikah aja mereka selalu stay di apartemen. Olahraga ranjang pun cuma pernah di apartemen.
"Lah, yang kita lakukan seminggu 3 sampai 4 kali itu kan bulan madu." Jawab Arkandra acuh membuat Azura membulatkan matanya.
Azura pun segera duduk dan memukuli Arkandra dengan bantal dan guling sehingga semuanya berceceran.
Arkandra merasa sangat puas mengerjai istrinya itu. Entah mengapa, ia sangat suka melihat ekspresi kesal Azura. Bukan hanya ekspresi kesal sebenarnya, tapi semua ekspresi kecuali ekspresi sedih dan putus asanya tempo hari. Ia harap, ia takkan pernah melihat ekspresi itu lagi. Ia ingin Azura bahagia selamanya. Dan Arkandra ingin memastikan itu benar-benar terjadi seumur hidupnya.
"Mas Arkan nyebelin, ih! Yang namanya bulan madu itu kan perjalanan pasangan yang baru aja menikah, menghabiskan waktu berdua bersama pasangan ke suatu tempat, kalau yang mas Arkan bilang tadi mah bukannya bulan madu, tapi making love." Ujar Azura sebal. Ia yang sudah kesal makin bertambah kesal saat melihat cengiran khas yang hanya suaminya tunjukkan padanya.
"Nah kan, apa tadi kamu bilang? Perjalanan pasangan yang baru menikah, emangnya kita baru nikah? Nggak kan artinya kita udah nggak butuh bulan madu bulan maduan kayak gitu lagi."
__ADS_1
"Aaa ... mas Arkan jahat, aku sebel, kesel, nggak ngerti banget keinginan istri." teriak Azura sambil kembali menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh hingga wajahnya.
Arkandra tersenyum lembut lalu mendekap tubuh Azura dari belakang.
"Jangan ngambek dong Ma Cherie, entar cantiknya hilang lho!" bujuk Arkandra.
"Biarin, mas Arkan nyebelin. Dasar dokter menyebalkan."
"Gini-gini, biar menyebalkan tapi ngangenin kan! Emang nggak takut cantiknya hilang? Entar kalau ada yang coba godain aku gimana? Nggak takut?"
"Nggak takut, kalau mas sampai tergoda kan artinya iman mas lemah. Nggak pantas buat dipertahankan orang kayak gitu."
"Ih kamu kok ngomongnya gitu! Kamu tenang aja Ma Cherie, ganteng-ganteng gini aku itu orangnya setia dan kuat iman. Lemahnya cuma sama kamu doang! Aneh kan! Pakai pelet apa sih?"
"Wah, bisa ya!"
"Bisa dong, kan mas Arkan ikannya."
"Kalau mas ikannya, kamu peletnya, artinya kamu makanan mas dong dan sekarang mas sedang lapar jadi mas mau makan. Selamat makaaaan ... "
"Aaaa ... dasar dokter ca bul bin me sum," teriak Azura saat Arkandra melancarkan aksinya membuai dan mengeksplor seluruh tubuh istrinya. Menumpahkan ha*srat, menyatukan raga, menciptakan gelombang pasang bertabur gai*rah sembari menabur benih-benih cinta.
"I love you, Ma Cherie," bisik Arkandra seraya mengecup pelipis Azura yang telah terlelap setelah lelah dengan sesi tabur-tabur benih mereka.
...***...
__ADS_1
"Kan, gue ada kabar yang mengejutkan buat loe." tukas William setelah duduk di sofa ruang kerja Arkandra.
"Apa? Jangan bilang masa tahanan kedua baji*ngan tengik itu hanya sementara?" dengus Arkandra yang kini telah berpindah tempat duduk ke sofa single yang ada di seberang William.
"No, ini berita spektakuler! Loe pasti bakal nggak menduganya." sahut Stevan lalu ia menyesap kopinya yang baru saja dihidangkan sekretaris Arkandra. "Serius sekretaris loe cowok?" desis Stevan saat melihat pria yang mengantarnya kopi ternyata sekretaris Arkandra. Bukankah biasanya sekertaris itu cewek!
"Gue nggak mau menciptakan skandal, loe taulah maksudnya apa. Dah, lanjut yang tadi, maksud kalian apa?"
"Vinandia ... dia dipindah dari lapas ke ... "
"Kemana?" tanya Arkandra tak sabar saat William menjeda ucapannya.
"Ke rumah sakit jiwa. Dia mengalami gangguan kejiwaan. Kerjanya setiap waktu meracau nggak jelas. Kayaknya dia benar-benar terpukul melihat anaknya mati di depan matanya sendiri." jelas Stevan.
"Karena itu, setiap tindakan itu harus mikirin risikonya, bukan cuma mau enaknya aja." imbuh William.
"Tepat, loe bener banget."
"Dan ada satu lagi kabar entah menurut loe ini kabar baik atau kabar buruk. Si Beni, setelah mendengar kabar kalau Vinandia jadi gila, dia bunuh diri di dalam kamar mandi. Gila kan! Pasangan itu patut dimasukkan ke Genius World Record sebagai pasangan ter ter ter pokoknya. Entah ter apa tahunya ter ... "
Arkandra menghela nafas panjang saat mendengar berita mengejutkan itu. Ia tak menyangka mantan kekasih sekaligus ibu tirinya itu bisa mengalami gangguan mental. Ia juga tak menyangka kalau kekasih Vinandia bisa melakukan hal nekat dengan mengakhiri nyawanya sendiri. Mungkin itu karena rasa bersalah yang kadung bercokol begitu besar di dadanya. Kehilangan anak lalu kekasihnya mengalami gangguan mental. Mungkin juga Beni sudah masuk ke titik terendah dalam hidupnya sehingga ia tak mampu berpikir secara rasional dan mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidup. Sungguh miris masih mereka. Arkandra memang marah dan benci pada kedua orang itu. Tapi setelah mereka mengalami hal seperti ini, rasa iba itu justru muncul tiba-tiba. Manusiawi kalau kita merasa iba, tapi bukan berarti kita membenarkan segala perbuatan mereka.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1