Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 106. Rencana


__ADS_3

"Ra, kamu yakin dengan rencana kamu ini?" tanya Arkandra seraya merebahkan tubuhnya di samping sang istri yang juga sedang rebahan di atas ranjang.


Baru saja Azura bercerita pada suaminya perihal dirinya yang menemui nenek Gerald. Ia menceritakan pada nenek Gerald kalau sebenarnya Melodi hanya kekasih pura-pura Gerald. Itu terpaksa ia lakukan karena Melodi ingin membantu dirinya melunasi hutang mendiang orang tuanya. Nenek Gerald awalnya sedikit kecewa, namun ia memaklumi Melodi yang terpaksa melakukan itu. Nenek Gerald justru menyalahkan cucunya yang tega-teganya memanfaatkan kesulitan seorang gadis polos untuk memuluskan rencananya.


Walaupun sebenarnya apa yang ia lakukan karena ingin menyenangkan dirinya, tapi tetap saja itu salah. Ia pun tak membenarkan perbuatan cucunya itu. Karena itu saat Azura mengatakan kalau sebenarnya Melodi sudah jatuh hati dengan Gerald, sang nenek begitu riang. Bahkan sang nenek lah yang meminta sarannya untuk membantunya memberikan cucunya itu pelajaran sekaligus menguji apakah cucunya itu memiliki perasaan yang sama pada Melodi. Tentu dengan senang hati Azura membantunya.


"Yakin nggak yakin diyakini aja sih, mas. Tapi aku sih percaya, kalau lelaki itu juga memiliki rasa sama Odi. Apa sih kurangnya Odi? Odi kan 11 : 12 cantiknya sama aku, walau masih cantikkan aku, tapi aku yakin banget, si Gerald-Gerald itu udah ada rasa sama Odi, cuma ya belum nyadar aja. Kayak kamu dulu kan gitu juga, mas. Mas baru sadar kalau kamu itu ada rasa sama aku pas aku sedang berada di titik terendah. Seandainya nggak ada kejadian itu, mungkin sampai sekarang kamu nggak akan pernah menyadarinya, benar kan!" tukas Azura yang kini sudah merebahkan kepalanya di dada bidang Arkandra yang hanya ditutupi kaos singlet.


"Kata siapa aku sadar punya perasaan sama kamu karena kejadian itu? Aku udah lama kok nyadar, tapi belum yakin aja. Sekaligus takut, takut peristiwa lalu terulang kembali." Arkandra menimpali sambil tersenyum manis.


"Oh ya?"


"Hhmmm ... aku serius," ujarnya sambil membelai rambut Azura.


"Wah jadi mas duluan toh yang suka sama aku!" ujarnya bangga.


"Karena itulah mas ngaku kalah," ujar Arkandra sambil mengangkat kedua tangannya membuat Azura terkekeh geli.


"Berarti selama ini, mas cuma pura-pura jual mahal toh! Aslinya udah tergoda, hahaha ... Azura dilawan." Azura tertawa jumawa. "Aaaa ... " Azura tiba-tiba memekik saat Arkandra menarik kakinya hingga kini tubuhnya sudah merebah di atas kasur. "Mas, apa-apaan sih!"


"Olahraga dulu yuk!"


"Olahraga itu pagi, mas, bukan malam kayak gini," ketus Azura sambil mencebikkan bibirnya.


"Itu olahraga untuk kesehatan fisik, kalau ini untuk kesehatan rohani, kata lainnya kebutuhan batin, mau ya!" bujuk Arkandra sambil tersenyum menggoda dengan tangan yang sudah berselancar di dada sang istri.

__ADS_1


"Cck ... sok minta izin, tapi tangannya udah gatel keliaran kesana kemari," cibir Azura sambil menggigit bibir bawahnya, menahan nada-nada syahdu yang hendak terlontar dari bibirnya akibat permainan jemari sang suami.


Arkandra terkekeh lantas mengecup bibir Azura, "Lanjut?" tanyanya. Azura yang sudah terbuai tentu saja mengangguk pasrah sambil mende*sah lirih karena Arkandra baru saja memilin ujung kismis miliknya.


...***...


Setelah menempuh perjalanan udara hampir 18 jam, akhirnya Gerald telah tiba di Indonesia. Wajahnya terlihat sangat kusut, penampilannya juga kuyu, tidak necis seperti biasanya. Dengan langkah gontai, Gerald meminta taksi mengantarkannya ke rumahnya.


Di sepanjang perjalanan, Gerald tak henti-hentinya mencoba menghubungi Melodi, tapi nomor gadis itu justru tidak aktif bahkan sejak semalam. Gerald resah tiada terkira. Ia khawatir neneknya benar-benar mewujudkan ucapannya. Ia sangat tahu dengan sifat sang nenek yang selalu berpegang teguh pada prinsip. Apa yang ia ucapkan, maka akan ia laksanakan.


Berkali-kali Gerald mencoba menghubungi Melodi dan hasilnya tetap sama.


"Bagaimana kalau nenek benar-benar menjodohkan Odi dengan Vero? Shittt, ini nggak boleh dibiarin! Apa yang sudah jadi milikku takkan ku biarkan diambil orang lain," gumamnya dengan tangan mengepal.


Tiba di rumah besar milik keluarganya, tempat ia dilahirkan, tumbuh dan dibesarkan hingga sebesar ini tampak ramai orang-orang. Gerald sampai menelan ludahnya sendiri saat melihat beberapa orang tampak memasang dekorasi di rumah besar itu.


Dihempaskannya koper yang baru saja diserahkan sopir taksi yang mengantarnya. Tak peduli dengan tatapan berpasang mata pada dirinya, ia segera melangkahkan kakinya setengah berlari mencari keberadaan orang tua dan neneknya.


Saat melihat sang nenek sedang duduk bersantai mengawasi beberapa pekerja di taman belakang sambil menyesap tehnya, Gerald pun mempercepat langkahnya mendekati sang nenek.


"Nek," seru Gerald dengan nafas terengah-engah. Ia pun segera menarik kursi yang ada tepat di samping neneknya dan mendudukkan diri di sana sambil menatap wajah sang nenek yang tampak bahagia. "Nek, apa ... "


"Nenek," seru seseorang yang ikut muncul di taman itu memotong perkataan Gerald yang belum sempat terucap.


"Ah, cucu nenek! Sini Vero, kau sudah memesan cincinnya?" tanya nenek antusias membuat Gerald membulatkan matanya sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Udah dong, nek. Nenek tenang aja, saat harinya tiba cincinnya pasti sudah selesai," sahut Vero dengan senyum lebarnya. Saat matanya menangkap keberadaan Gerald, ia mengedipkan sebelah matanya membuat dada Gerald panas. Giginya bahkan bergemeletuk membuat sang nenek sampai menoleh ke arahnya.


"Eh, hampir aja lupa! Ada apa Ge? Kamu kok pulangnya cepat bener? Oh, kamu takut kelewatan hari spesial Vero ya? Iya, satu Minggu lagi Vero dan Melodi akan melangsungkan pertunangannya," ujar nenek Gerald acuh tak acuh. Tampak masa bodoh dengan ekspresi sang cucu yang sudah merah padam. Lalu nenek Gerald tampak celingukan, seperti mencari seseorang. "Kamu nggak ajak pacar kamu yang model itu?" tanya sang nenek membuat Gerald tersenyum kecut. Bahkan sepanjang perjalanan menuju ke rumah itu saja, ia sudah tidak teringat sama sekali pada Aurelia. Ia seakan tidak terbebani dengan apa yang sudah perempuan itu lakukan. Seolah ia tidak memiliki rasa sama sekali pada mantan kekasihnya yang sudah menjalin hubungan dengannya bertahun-tahun.


"Pacar mana? Pacar Gege cuma Melodi, nek, nggak ada yang lain. Aku pergi ke Prancis cuma ada keperluan aja, bukan mau cari pacar." Kilah Gerald tak mau mengakui kalau ia ke Prancis untuk menemui Aurelia. "Nek, kenapa nenek malah meminta Vero tunangan sama Melodi, kan Melodi pacar aku."


"Udahlah Ge, kamu pikir nenek nggak tahu. Pacar? Pacar sewaan maksud kamu? Pacar bayaran? Udahlah Ge, nenek udah tahu semuanya. Jangan berkilah lagi!" ucap nenek Gerald tegas.


"Siapa bilang? Kami beneran pacaran, nek. Kok nenek nggak percaya sih?"


"Kalau emang dia pacar kamu, kenapa pas nenek minta kalian tunangan kamu malah ragu? Karena kamu sendiri ragu, jadi nenek jodohin aja Melodi sama Vero, kamu suka kan Vero sama Melodi?" tanya Nenek yang sudah memalingkan wajahnya ke arah Vero.


Vero tersenyum lebar dan mengangguk pasti.


"Iya, nek! Malah Vero udah suka sama Odi jauh sebelum bang Gege kenal Odi." ungkap Vero sambil menyeringai.


"Sialan loe, Ver! Apa-apaan loe, hah? Melodi itu pacar gue, gue nggak akan biarin loe rebut dia dari tangan gue!" bentak Gerald yang kini telah berdiri.


"Loe nggak boleh egois, bang. Odi berhak bahagia. Ingat, kalian itu bukan pasangan sesungguhnya jadi kenapa loe mau marah? Dia aja nggak masalah tunangan sama gue, kok loe yang sewot!" balas Vero dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Jangan kita ia akan merasa terintimidasi dengan sorot mata tajam itu! Biarpun Gerald lebih tua daripada dirinya, tapi bukan berarti ia harus takut pada lelaki di hadapannya kini.


"Nggak, nggak mungkin dia nerima loe! Kalian pasti yang udah mendesak dia kan! Gue nggak akan biarin. Pokoknya, Odi hanya buat gue. Gue takkan biarin apa yang udah jadi milik gue diambil orang lain walaupun itu sepupu gue sediri." pungkas Gerald sebelum beranjak dari sana meninggalkan nenek dan Vero.


...****...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2