Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM.51 Di kamar


__ADS_3

Azura kini telah berdiri di depan kamar hotel yang diperuntukkan untuk mereka berdua. Acara resepsi pernikahan akan diadakan di malam hari jadi sebelum itu mereka memiliki waktu untuk beristirahat. Azura tampak menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu dengan pelan-pelan, ia membuka pintu kamar sembari mengintip keberadaan Arkandra.


Azura menghela nafas lega saat tidak melihat keberadaan Arkandra. Mereka memang sempat bertengkar tadi, tapi Azura tak memendamnya dalam hati. Ia sebenarnya paham bagaimana perasaan Arkandra yang dipaksa menikah. Tapi ia tidak memiliki pilihan selain menjalankan rencana Kencana.


"Kemana si galak itu ya? Tadi kan naik ke lantai ini? Apa dia check in kamar lain?" gumam Azura seraya berjalan pelan-pelan. Ia memakai bawahan songket yang dililit ketat membuat gerakannya terbatas.


"Ahhh, leganya! Udah lama banget nggak tidur di kasur seempuk ini!" desah Azura saat tubuhnya terhempas di atas kasur king size di kamar itu.


Baru saja Azura hendak memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki mendekat ke arahnya. Azura pun lantas membuka mata dan segera mendudukkan tubuhnya. Matanya membelalak saat melihat ternyata Arkandra ada di sana dengan hanya mengenakan kaos polo warna putih dan celana jeans pendek berwarna biru. Baru kali ini ia melihat penampilan santai Arkandra. Bila biasanya Arkandra sering mengenakan celana bahan dan kemeja, tak jarang juga dengan snelli yang membalut tubuhnya, tapi kali ini penampilannya begi santai. Namun hal tersebut tak mengurangi kadar ketampanan pak dokter galaknya. Walaupun tubuhnya nggak gede-gede amat, tapi ternyata otot-ototnya terlihat begitu kokoh. Begitu menonjol di tempat semestinya. Sangat serasi dengan tubuh tingginya. Ternyata selama ini Arkandra sukses menyembunyikan tubuh seksinya di balik penampilan formal ala dokternya.


"Eh, pak dokter kok ada di sini?" tanyanya bingung dengan dahi berkerut. Lalu ia menoleh dari mana asal ia datangnya, ternyata sedari tadi Arkandra berada di balkon, pikirnya.


"Kenapa? Apa aku tak boleh masuk ke kamarku sendiri?" tanyanya heran.


"Eh ... bukan, bukan begitu maksudnya." tukas Azura sambil mengibaskan telapak tangannya di depan. "Aku pikir pak dokter tadi karena lagi marah sama aku jadi check in di kamar lain." imbuhnya dengan kelopak mata mengerjap beberapa kali.


Arkandra mengerutkan keningnya, "Apa kau mengharapkan para calon suami cadanganmu itu yang masuk ke mari?" desis Arkandra yang masih saja terbawa emosi saat mengingat trio icikiwir itu.


Azura menghela nafas lelah, "Terserah pak dokter aja deh mau mikir apa. Aku lelah. Lelah batin lelah fisik. Apalagi dengerin omelan pak dokter galak yang nggak ada filter." tukas Azura sambil menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang lalu menutup matanya. Tak peduli dirinya yang masih mengenakan kebaya dan songket. Ia memang benar-benar lelah. Semalaman ia tidak bisa tidur. Bahkan pagi tadi karena diburu waktu ia tidak sempat sarapan. Lalu siang ini, tubuhnya sudah terlalu lelah untuk mengambil makan.


Krukkk ... krukkk ...


Terdengar suara perut yang begitu nyaring. Azura malu setengah hidup. Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Malu ...


'Aduh, cacing-cacing di perut, kenapa harus demo di depan pak dokter galak itu sih? Aku kan malu.' Batinnya berdecak kesal.


Arkandra yang baru saja hendak beranjak dari sana lantas mengehentikan langkahnya dan menatap tajam Azura yang tengah berpura-pura tidur. Ia berdecak, tak bisakah gadis menyebalkan ini tidak merepotkannya sekali saja.

__ADS_1


"Cepat ganti pakaian!" titahnya acuh.


Tanpa membuka matanya, Azura menyahut.


"Nanti saja. Aku sedang lelah." cicitnya yang sudah setengah tertidur.


Arkandra kembali berdecak lalu menghubungi pihak hotel agar segera mengantarkan makan siang untuk mereka. Ia sadar, sejak tadi Azura belum makan sama sekali.


"Aku sudah pesan makanan, ayo ganti baju dulu. Kau pasti sudah tak nyaman dengan pakaian itu!" titahnya lagi tapi Azura tetap tak bergeming. Saat ia lihat, ternyata Azura benar-benar tertidur. Ia kini mulai berpikir, mungkin asam lambungnya seminggu yang lalu naik karena Azura yang lebih memilih tidur daripada makan saat ia telah kelelahan. Sepertinya pekerjaan Arkandra akan bertambah satu lagi, yaitu mengingatkan Azura untuk makan.


Tak lama kemudian, bel berbunyi. Ternyata layanan kamar yang datang untuk mengantarkan makan siang. Setelah troli berisi makanan itu di dorong ke dalam, mereka pun pamit keluar.


"Hei, bangun! Makan dulu." Arkandra berseru pelan untuk membangunkan Azura tapi gadis itu tak kunjung bangun.


"Hei, ayo buruan bangun!" tukasnya lagi.


Deg ...


Arkandra mematung melihat gumaman Azura yang nampaknya masih terlelap itu. Sepertinya, ia tengah bermimpi saat ini. Ia pikir, sang mama lah yang membangunkannya. Entah mengapa, hati Arkandra tiba-tiba saja bagai diiris sembilu. Ia memang tak pernah tau dan tak mau tau siapa Azura dan bagaimana kehidupannya selama ini. Tapi dari gumaman itu, dapat ia lihat, beratnya kehidupan Azura selama ini.


Arkandra pun duduk di samping Azura yang masih terlelap lalu menepuk pelan pipinya.


"Hei, bangun! Ayo, kamu makan dulu!" tukasnya pelan.


Azura lantas mengerjapkan matanya dan sontak saja terduduk saat melihat Arkandra tengah duduk di sampingnya.


"Eh kok pak dokter ada di kamar aku?" Azura masih linglung sampai lupa ia kini tengah berada di mana.

__ADS_1


"Cuci muka dulu sana. Saya sudah pesan makan siang buat kamu."


"Makan siang?" Mata Azura masih mengerjap.


"Iya makan siang atau kamu mau aku yang makan kamu, hm?" desis Arkandra sambil menyeringai membuat Azura bergidik ngeri.


Lalu matanya menelusuri ke sekeliling ruangan.


"Astagfirullah, aku lupa. Kita udah nikah ya pak dokter? Ini bukan mimpi kan?" seloroh Azura. "Jadi beneran nih pak dokter mau makan aku?" goda Azura sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Arkandra menggeleng tak percaya melihat tingkah Azura yang kian menyebalkan menurutnya.


"Cepat ganti pakaian, cuci muka, terus makan. Aku nggak mau tiba-tiba kamu sakit lagi karena kelalaian kamu itu. Seperti anak kecil saja, makan pun harus diingatkan." ketus Arkandra mengabaikan selorohan Azura.


Bukannya marah, Azura justru terkekeh sambil beranjak dari tempat tidurnya.


"Wah, suami aku ternyata perhatian banget! Nggak salah aku milih suami pak dokter. Jadi makin sayang deh!" goda Azura sambil tersenyum cengengesan.


Cup ...


Tiba-tiba saja Azura mengecup pipi Arkandra kemudian segera berlari dari sana sambil mengangkat bawahan songketnya.


Arkandra seketika mematung di ditempat sambil menatap pintu kamar mandi yang telah tertutup rapat.


"Astaga, gadis itu!" gumamnya hingga tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat ke atas.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2