Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 115. Si galak yang bucin dan posesif


__ADS_3

"Bagaimana dok keadaan papa saya? tanya Kencana saat dokter yang bertugas memeriksa Bimantara.


Azura yang sedang bersandar di bahu Arkandra pun lantas menoleh saat mendengar suara Kencana. Ia dan Arkandra segera berdiri dan menghampiri Kencana dan dokter itu. Mario tidak ikut serta sebab ia diminta mengurus jenazah baby Betrand.


Dokter itu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap Kencana dan Arkandra bergantian membuat ketiga orang yang berada di sana merasakan ketegangan.


"Kondisi Beliau kurang baik, ayah Anda mengalami syok kardiogenik. Kita harus melakukan operasi sesegera mungkin untuk mengembalikan fungsi jantungnya agar bisa bekerja dengan normal." Tukas dokter itu menjelaskan. Arkandra, Kencana, dan Azura terdiam. Mereka tengah berpikir tindakan apa yang harus segera mereka ambil.


"Lakukan yang terbaik, dok! Saya percaya dengan kemampuan Anda," tukas Arkandra mengambil keputusan.


Walaupun ia kecewa berat dengan ayahnya, namun ia tidak bisa benar-benar membencinya. Bagaimana pun Bimantara adalah ayahnya. Tidak mungkin ia mengabaikan keselamatan sang ayah hanya karena ego dan kecewanya. Bagaimana pun juga darah ayahnya mengalir di dalam tubuhnya. Ia tak mau menjadi anak yang durhaka hanya karena kekecewaannya yang begitu besar.


Kencana tersenyum tipis. Ia senang ternyata adiknya itu masih memiliki rasa sayang dengan sang ayah. Ia pun sama kecewanya dengan Arkandra, namun ia pun tak bisa berlarut-larut dalam kebencian dan kekecewaan. Bagaimana pun Bimantara adalah ayahnya. Mereka bisa hadir di dunia karena Bimantara dan mereka pun pernah merasakan kasih sayang sang ayah sebelum siluman ular berkedok bidadari itu memporak-porandakan segalanya dan membuat sang ibu meregang nyawa dengan penuh kekecewaan.


Mungkin mereka dapat memaafkan, namun itu bukan berarti mereka bisa kembali seperti semula. Kekecewaan itu akan tetap ada dan takkan mungkin bisa dihilangkan begitu saja. Sebab malapetaka itu terjadi bukan hanya karena kesalahan dari pihak Vinandia, tapi juga ayahnya. Vinandia memang menggodanya, tapi bila sang ayah bisa lebih kuat iman dan dapat menjaga kesetiaan hanya pada ibunya, tentu semua malapetaka ini takkan pernah terjadi.


"Arkan benar, dok! Atas izin Allah, kami yakin Anda dapat melakukan yang terbaik." Kencana turut mendukung keputusan Arkandra.


"Terima kasih atas kepercayaan dokter Arkan dan keluarga. Kami akan berusaha sebaik mungkin," balas dokter bernama Asraf tersebut dengan tersenyum. Kemudian dokter itu kembali ke ruangan Bimantara dan meminta perawat segera menyiapkan ruang operasi juga menghubungi partnernya nanti.


Azura yang mendengar keputusan Arkandra pun lantas menggenggam tangannya untuk memberikan dukungan. Arkandra lantas menoleh lalu tersenyum dan mencium punggung tangannya mesra.

__ADS_1


"Tenanglah, aku yakin papa akan baik-baik aja." Ucap Azura mencoba menenangkan. Ia tahu, dibalik wajah dingin Arkandra saat ini, terselip kegelisahan akan keadaan sang ayah. Arkandra memang terlihat seperti sosok yang dingin, tapi hatinya begitu hangat dan lembut. Sangat berbanding terbalik dengan sikap yang ditampakkannya.


"Terima kasih, sayang," ucapnya lembut lalu tangannya menarik bahu Azura hingga merapat padanya dan mengecup pelipisnya mesra. Kencana yang melihat itu hanya bisa mencibir gemas.


"Cih, sok romantis banget sih! Dulu bilangnya ogah, nggak minat, nggak tertarik, nggak mau, nolak mati-matian, eh sekarang bucin. Emang enak jilat ludah sendiri," cibir Kencana membuat mata Arkandra mendelik tajam, sedangkan Azura malah terkekeh geli membenarkan perkataan Kencana.


"Iya ya kak, tapi sekarang pak dokter galak aku udah jinak lho. Udah bucin juga, jadi makin sayang deh. Emmuach ... " Tanpa malu, Azura mengecup bibir Arkandra di koridor rumah sakit membuat orang-orang yang melihatnya melototkan mata mereka. Bisa-bisanya pasangan itu malah bermesraan di rumah sakit. Padahal ayah mereka sedang bersiap untuk menjalani operasi. Sungguh pasangan absurd.


"Astaga, kak Kencana bener banget! Gue udah jadi pihak yang dirugikan akibat tingkah konyol pasangan ini kak. Bisa-bisanya Arkan jadiin gue pasangan beloknya demi ngehindarin bininya. Sok nolak, sok benci, sok nggak suka, eh taunya sebaliknya, dasar dokter gila. Gue sampai diteror bininya habis-habisan setiap hari. Cewek-cewek gue jadi ngira gue beneran belok tahu nggak kak. Masih sebel banget kalau ingat itu," celetuk Stevan yang entah sejak kapan berdiri di belakang Azura dan Arkandra. Ia datang bersama William.


Azura dan Kencana lantas tergelak mendengar penuturan yang lebih ke curhatan Stevan. Lantas Azura mendekati Stevan dan menarik-narik tangannya seraya mengucapkan permohonan maaf.


"Oh, te-tenang aja, aku nggak marah kok. Itu wajar, ya wajar, ya kan Wil!" sahut Stevan gelagapan.


Arkandra yang melihat tingkah istrinya juga reaksi dan ekspresi Stevan sontak menggeram kesal. Ia lantas melepas paksa tangan Azura dan menariknya ke sisinya dengan tangan yang sudah melingkari pinggangnya posesif. William yang sejak tadi terdiam pun lantas terkekeh. Ternyata sahabatnya itu sudah seposesif itu pada istrinya yang pernah ditolak keberadaannya.


Stevan yang sempat terkejut lantas menyeringai.


"Arkan, loe bener-bener udah nerima bini loe apa nggak? Kalau nggak, gue bersedia kok jadi pelakor eh pebinor maksudnya," ucapnya dengan tatapan menggoda ke arah Azura.


Arkandra yang melihat itu lantas mendelik tajam, "Silahkan aja kalau loe mau gue kirim ke Ukraina buat jadi relawan," desis Arkandra membuat Stevan bergidik ngeri.

__ADS_1


"Ih, ancaman loe serem amat! Gue pikir bakal dikirim ke Cappadocia sama bini loe, dengan senang hati gue terima." godanya lagi membuat Azura tersenyum geli.


"Nggak usah senyum-senyum gitu!" delik Arkandra tak suka Azura tersenyum manis ke semua orang khususnya Stevan. Azura lantas menutup mulutnya yang tak bisa berhenti tersenyum geli melihat interaksi antara Arkandra dan sahabatnya.


"Astaga mas bro, posesif amat!" ejek William sambil geleng-geleng kepala.


"Ya gitu deh Wil, dulunya nolak mati-matian, sekarang posesif abis." timpal Kencana lalu ia mengajak Stevan dan William ke kafetaria untuk bertanya-tanya. Azura dan Arkandra pun turut ikut setelah memastikan ayahnya masuk ke ruang OK.


"Mas Arkan, sejak kapan mas tahu kalau yang mau mencelakai aku dan Alice adalah perempuan itu?" tanya Azura yang sebenarnya telah penasaran sejak tadi. Begitu pula Kencana yang juga baru mengetahuinya.


"Iya Kan, kok loe nggak cerita ke aku sih! "


"Kalau loe tahu duluan bisa-bisa rencana kami kacau balau," tandas Arkandra yang membuat Kencana mencebikkan bibirnya.


Arkandra pun lantas bercerita bagaimana mereka menyelidiki kasus itu. Mereka juga memanfaatkan seorang sipir yang menurut penyelidikan merupakan kenalan Beni. Tentu hal itu sangat menguntungkan. Mereka pun sebenarnya sengaja membocorkan perihal rencana penangkapan itu guna membuat mereka panik lalu berkumpul di satu tempat. Ternyata rencana mereka tak meleset. Akhirnya keduanya kini berhasil ditangkap tanpa ada perlawanan berarti.


...***...


Makasih kakak yang tetap support karya othor baik melalui like, komen, hadiah, dan vote. Semoga terhibur! 🙏🥰


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2