Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 91. Kedatangan Vinandia


__ADS_3

"Ra, kamu kenapa?" tanya Arkandra lirih dengan perasaan bersalah yang menggerogoti benaknya.


"Saya nggak papa kok pak dokter," sahut Azura dengan suara sedikit tercekat dan berat. Air mata Azura menetes saat mendengar suara Arkandra yang tampak mengkhawatirkannya. Mengapa ia justru mendapatkan perhatian itu di saat seperti ini? Di saat ia sudah ingin menyerah. Azura menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar di seberang sana.


"Tapi dari suara kamu, kami tidak terdengar baik-baik aja, Ra. Ngomong sama aku, cerita sama aku, aku akan mendengarkan segala keluh kesahmu. Jangan hanya diam seperti ini!"


"Saya nggak papa pak dokter, suara saya kayak gini soalnya sekarang saya sedang sakit tenggorokan," dusta Azura tak ingin Arkandra terus-terusan mengkhawatirkan dirinya.


"Ra ... "


"Pak dokter kok sekarang gini sih?"


"Maksudnya?" Arkandra mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan ambigu Azura.


"Kenapa sekarang kayak lebih perhatian gitu, nggak kayak biasanya. Pak dokter juga nggak pernah galak lagi," tukasnya seraya tersenyum getir.


"Emangnya nggak boleh perhatian dengan istri sendiri?" tanya Arkandra menggoda.


"Tapi kenapa baru sekarang? Di saat semuanya takkan lagi sama. Di saat saya sudah ... " Ucapan Azura menggantung membuat Arkandra kembali mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Sudah apa, Ra?" tanya Arkandra penasaran apa yang ingin dikatakan Azura.


"Ah, nggak, nggak kenapa-kenapa. Saya tutup dulu ya pak dokter teleponnya. Saya ngantuk, mau tidur," ujar Azura kemudian langsung menutup panggilan itu tanpa mendengar respon Arkandra sama sekali.


Tut Tut Tut ...


Panggilan ditutup, membuat Arkandra terpaku sambil memandang layar ponselnya yang menampilkan wallpaper foto Azura dan Alice saat berada di arena bermain. Senyum itu tampak cerah dan manis. Padahal baru beberapa hari berlalu semenjak tragedi itu, tapi mengapa seakan sudah lama sekali Arkandra tidak melihat senyum cerah dan manis istrinya?


Arkandra teringat kembali pertanyaan Azura yang terakhir, entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal dari kalimat tanya itu. Seperti menyiratkan sesuatu, tapi apa ia tak tahu.


'Tapi kenapa baru sekarang? Di saat semuanya takkan lagi sama. Di saat saya sudah ... '


"Tidak mungkin kan ia berpikir untuk meninggalkanku? Aku mohon, Ra, jangan sampai kau menyerah dan meninggalkanku! Aku akan benar-benar hancur kali ini bila aku kembali ditinggalkan apalagi itu olehmu. Aku pasti takkan bisa bertahan lagi. Aku takkan sanggup bertahan bila kau pergi meninggalkanku. Aku benar-benar akan mati bila kau tak lagi di sisiku," gumam Arkandra yang tanpa sadar meneteskan air mata, tak sanggup membayangkan bila ia kembali ditinggalkan oleh orang yang baru ia sadari begitu berarti bagi hidupnya.


...***...


Sesaat ia memeriksa aplikasi yang melayani delivery order, tapi ia tak berselera satu makanan pun. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli cemilan dan minuman ringan di minimarket yang berada di seberang apartemen itu.


Azura bergegas masuk ke kamar dan mengenakan celana jeans serta hoodie berwarna abu-abu. Ia tutup kepalanya dengan penutup kepala hoodie dan tak lupa memakai kacamata hitam untuk menutupi mata sembabnya. Setelah memastikan penampilannya aman, Azura pun segera mengambil dompet dan keluar dari apartemen. Tapi baru saja ia membuka pintu, di depannya telah berdiri seorang wanita cantik yang usianya seumuran Arkandra. Hal tersebut sontak saja membuatnya terkejut, mengapa wanita itu tiba-tiba berada di depan apartemen ini?

__ADS_1


"Mau apa mama mertua datang kemari?" tanya Azura sinis dengan tangan terlipat di depan dada.


Vinandia tersenyum mengejek sambil menatap Azura dari atas sampai ke bawah, membuat Azura merasa risih. Tatapan matanya seakan menelanjanginya di depan umum. Azura mengepalkan tangannya dengan dada yang bergemuruh. Peristiwa itu lagi-lagi melintas di benaknya.


Dengan tanpa basa-basi, Vinandia mendorong bahu Azura seraya melangkahkan kakinya masuk ke apartemen itu. Dengan tangan bersedekap di depan dada, mata Vinandia tampak memindai seisi apartemen itu dengan senyuman mengejek.


"Cck ... foto pernikahan aja nggak ada, keliatan banget kalau kalian itu cuma nikah settingan," cibir Vinandia dengan satu sudut bibir terangkat ke atas.


"Mau pajang foto pernikahan atau tidak, itu bukan urusan Tante deh! Ngapain ikut campur urusan orang."


"Apa kamu lupa kalau Arkan itu sekarang merupakan anak tiri saya?"


"Cih, ngaku-ngaku. Dasar, nggak tau malu," ejek Azura. Ia berusaha tenang dan santai mengahadapi Vinandia. Ia tak mau terlihat kalah di depan wanita itu.


Vinandia terkekeh lalu menatap tajam Azura, "Kamu itu hanya benalu, kenapa masih bertahan di sisi Arkan, hah? Apa kamu nggak punya malu? Kamu itu udah menjijikkan. Tubuh kamu bahkan udah sempat dijamah laki-laki menjijikkan itu. Harusnya kamu tahu diri, kamu udah nggak pantas untuk berdiri di samping Arkan," ujar Vinandia membuat tangan Azura berkeringat dingin. Ia mengepalkan tangan seraya meremas jemarinya. Mendadak, rasa rendah diri itu kembali menyeruak memenuhi rongga dadanya.


"Sebenarnya mau kamu apa sih? Uang? Aku akan memberi kamu banyak uang asal kamu mau meninggalkan Arkan. Ingat, kamu itu nggak pantas untuk Arkan. Kamu itu kotor, menjijikkan. Sudah seharusnya kamu pergi dari hidup Arkan. Biarkan Arkan bahagia dengan wanita yang lebih pantas untuknya yang pastinya itu bukanlah kamu. Saya melakukan ini bukan karena saya masih mencintai Arkan, tapi karena saya sekarang merupakan ibu sambungnya. Sudah kewajiban saya sebagai seorang ibu memastikan kebahagiaan dan masa depan Arkan, jadi saya harap kamu memikirkan kata-kata saya ini. Kalau kamu memang peduli dengan Arkan, lepaskan dia," imbuh Vinandia lagi membuat nafas Azura kian tercekat. Dadanya begitu sesak saat ini. Kata-kata Vinandia tadi makin memantapkan langkahnya untuk menyerah. Yah, mungkin inilah yang terbaik untuk Arkandra, pikirnya. Dia pantas bahagia walau dengan perempuan lain.


Seperginya Vinandia, kepala Azura seakan berputar. Pandangan matanya kian menggelap, beberapa detik kemudian, Azura pun tersungkur di lantai tak sadarkan diri.

__ADS_1


...***...


...Nggak berani buat kalimat happy reading, soalnya yang baca pasti berakhir crying. 😭😭😭...


__ADS_2