Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 126. Gara-gara Bakso


__ADS_3

Azura melewati masa-masa kehamilannya dengan penuh suka cita. Apalagi sesibuk apapun Arkandra, dia tetap mengusahakan memberikan perhatian yang begitu besar membuat Azura merasa begitu bahagia. Bukan hanya sang suami yang begitu memperhatikan dirinya, tapi juga keluarga besarnya. Bahkan Melodi pun begitu memperhatikannya. Karena ia sudah cukup dekat dengan keluarga Gerald, nenek dan mama Gerald pun ikut-ikutan memperhatikannya. Nikmat mana lagi yang dapat ia dustakan setelah segala cinta dari berbagai arah tercurah untuknya.


"Assalamu'alaikum," ucap Azura saat panggilan teleponnya diangkat Arkandra.


"Wa'alaikum salam, sayang. Ada apa? Kok tumben jam segini udah telepon? Kangen, hm?" ucap Arkandra seraya menggoda sang istri. Diliriknya jarum jam masih menunjukkan pukul setengah 10 pagi. Entah apa yang diinginkan istrinya itu, sebab tak biasanya ia menghubunginya di jam seperti ini. Sedangkan dirinya saja baru tiba di kantor pukul 8 tadi.


"Kangen? Ih, PD!" kilah Azura. "Kalau mas Arkan nanya dedeknya yang kangen, baru jawabannya iya," imbuhnya disusul sebuah kekehan yang sontak saja membuat kedua sudut bibir Arkandra terangkat ke atas.


"Halah, nggak mau ngaku?" ejek Arkandra.


"Cius, nggak bohong. Aku mana ada kangen sama mas, kalau dedeknya nah baru iya. Kalau ibunya, bukan kangen sama mas, tapi sama bakso di dekat kontrakan lama ibunya. Apalagi kalau kuahnya ekstra pedas, hmmm syedaaap. Eh sama sop buahnya juga, habis makan yang panas dan pedas, diminumin yang seger-seger plus dingin, hmmm ... duh dek, ibu jadi ngiler nih. Kita kesana aja yuk dek! Tapi kita minta izin sama ayah dulu, boleh kan yah ibu sama dedek makan di sana?" Ucapnya dengan suara selembut mungkin dan sedikit didramatisir.


"Nggak boleh!" tolak Arkandra cepat.


Azura yang mendengar penolakan itu lantas memberengut masam dengan mata yang sudah memerah.


"Yah dek, kita nggak dibolehin ayah tuh! Ya udah, kita tiduran aja yuk! Assalamu'alaikum,"


Tut tut tut ...


Panggilan ditutup sepihak membuat Arkandra menganga dengan mata membulat sebab ia belum selesai bicara tapi Azura


"Hah, sial! Pasti Azura ngambek," gumamnya seraya menatap layar ponselnya yang menggelap.


Arkandra mengusap tengkuknya lalu terkekeh sendiri.


Ia paham, Azura bersikap demikian karena pengaruh hormon kehamilan. Ia pun paham, kalau istrinya itu tengah ngidam. Ia sebenarnya tidak bermaksud melarang, tapi ia hanya ingin mencegah Azura pergi seorang diri. Sebab ia tahu, kalau Azura pergi seorang diri, dapat ia pastikan kalau istrinya itu akan mengendarai motor sportnya. Sebagai suami sayang istri sekaligus khawatir dengan keselamatan ibu dan calon buah hatinya, tentu ia melarang hal tersebut. Namun, bukan dalam arti melarang makan di sana. Justru sebaliknya, ia ingin mengantarkan sendiri istrinya itu ke pondok bakso itu. Ya, Arkandra sudah tahu dimana letak pondok bakso itu sebab Azura pernah mengajaknya ke sana satu kali.


Tak mau istrinya merajuk lebih lama ataupun makin parah, Arkandra segera membereskan pekerjaannya lalu bergegas pulang ke rumah.

__ADS_1


"Pending semua urusan saya hari ini. Kalau ada yang mencari, katakan saja, saya ada urusan penting." Titah Arkandra pada sang sekretaris.


Sekretaris Arkandra yang merupakan wanita yang berusia di atas 35 tahun itu hanya bisa patuh sambil mengiyakan perintah dari atasannya. Walaupun ia sedikit kesal karena harus mengatur ulang daftar pekerjaan sang atasan, tapi apalah daya, dirinya hanyalah seorang bawahan. Tugasnya hanyalah mengerjakan setiap tugasnya dengan baik dan benar termasuk dengan selalu mematuhi perintah atasan selagi itu masih dalam tahap kewajaran.


Tak butuh waktu lama, mobil Arkandra telah tiba di depan gerbang kediamannya dan Azura. Penjaga rumah pun segera membukakan pintu gerbang kemudian Arkandra pun membawa masuk mobilnya ke halaman rumah yang cukup luas itu.


"Ma Cherie," panggil Arkandra setibanya di dalam kamar tapi Arkandra tak menemukannya. Lalu ia mencoba mencari ke kamar mandi juga tak ada. Di balkon juga, di taman belakang juga tak ada. Arkandra mengusap rambutnya kasar, khawatir istrinya nekat ke pondok bakso seorang diri.


"Sayang, Azura," panggilnya kembali. Suaranya sampai menggema memenuhi rumah itu. Mendengar suara majikannya menggema dari lantai atas membuat Tukinem, asisten rumah tangga di rumah itu berlari tergopoh-gopoh menuju Arkandra.


"Istri saya dimana, mbak?" tanya Arkandra to the point. Ia memanggil mbak karena usianya lebih tua 5 tahun dari dirinya.


"Nyonya sedang berenang di samping, tuan," tukas Tukinem.


Arkandra menghela nafas lega saat mendengar kalau istrinya ternyata sedang berenang di kolam renang yang berada di samping rumah mereka.


'STOP!' maki Arkandra pada pikirannya yang sudah traveling kemana-mana. 'Stop Ar, jangan buat otak deterjen eh netijen maksudnya traveling kesana-kemari! Ingat, ini bulan puasa!' batin Arkandra berteriak memperingatkan tapi mata dan tubuhnya justru tak sejalan.


Arkandra pun diam-diam melucuti pakaiannya dengan terlebih dahulu menutup rapat pintu menuju kolam renang. Was-was saja kalau tiba-tiba ada yang memergoki.


Kini tubuh Arkandra hanya ditutupi segitiga bermuda miliknya. Azura tampak begitu menikmati momen berendam seraya bersandar di tepi kolam sampai ia tidak menyadari kedatangan suaminya.


"Aaaaa ... ," teriak Azura saat sepasang tangan kokoh sudah memeluk tubuhnya erat membuat Azura terkejut.


"Mas Arkan, ih usil banget sih! Kaget tau, mas. Kalau aku jantungan gimana?" Azura mencebik membuat Arkandra mengecupnya sekilas. Azura yang masih merasa marah karena tidak diizinkan pergi makan bakso di dekat kontrakan lamanya lantas membuang muka.


"Marah, hm?" goda Arkandra sambil mere*mas salah satu aset kembar milik istrinya.


"Iya, kenapa? Nggak boleh!" desis Azura sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan segala rasa yang kian bergelora karena gerakan tangan Arkandra telah mampu menguasai sisa-sisa kesadarannya.

__ADS_1


"Kenapa marah?"


"Udah tau nanya." ketus Azura.


"Mau makan bakso, hm?"


Azura mengangguk pelan dengan bibir yang mengerucut.


"Kenapa teleponnya ditutup? Kan mas belum selesai ngomong."


"Buat apa? Endingnya juga pasti sama kan, aku nggak boleh makan bakso di ... "


"Kata siapa? Makanya, jangan asal tutup telepon, dengarkan dengan jelas terlebih dahulu. Mas bilang nggak boleh tapi bukan nggak boleh makan bakso tapi nggak boleh pergi sendiri. Mas nggak mau ambil risiko terjadi sesuatu yang buruk pada kalian karena kalian adalah separuh nafas, mas. Jadi mas yang akan anterin ke sana,,": jelas Arkandra membuat mata Azura seketika berbinar indah.


"Mas Arkan serius?" tanya Azura penuh semangat dengan kedua tangan yang telah melingkari leher Arkandra.


Arkandra mengangguk lembut dengan tatapan mata yang telah tertuju pada bibir Azura.


"Jadi?"


"Kasi mas makan dulu, sebentar! Oke. Mas udah lapar." Ucap Arkandra dengan sorot mata memuja.


Azura yang paham kemana arah pembicaraan suaminya hanya bisa mengangguk pasrah. Toh, dia juga suka. Iya kan para readers! 😁


Lalu terjadilah apa yang seharusnya terjadi di tengah hari itu. Makan baksonya terpaksa dipending dulu karena ada bayi besar yang sudah tak sabar ingin menyantap hidangan istimewanya.


...***...


...Happy reading 🥰🙏🥰...

__ADS_1


__ADS_2