Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 117.


__ADS_3

Setelah mengudara hampir 25 jam lamanya, akhirnya pesawat yang ditumpangi Gerald dan Melodi berhasil mendarat dengan selamat di bandara Istanbul Attaturk, Turki. Karena mengalami jetlag, Melodi pun turun dari pesawat dengan langkah sempoyongan. Penglihatannya sedikit goyang, seakan baru turun dari roller coaster, membuat Gerald terkekeh. Ia pun segera memapah Melodi agar tidak sampai terjatuh.


"Ckk ... enak ya ngetawain, Odi," sarkas Melodi pada Gerald yang tengah menahan pundaknya agar tidak terjatuh.


"Pusing," tanya Gerald saat melihat Melodi memijit pelipisnya, mengabaikan ujaran sarkas sang istri.


Melodi mengangguk pelan, Gerald pun melingkarkan tangannya di pundak Melodi sembari menuntunnya turun dari pesawat.


Setelah selesai dengan segala urusannya, Gerald pun mengajak Melodi menuju lobi bandara untuk mencari taksi yang akan mengantarkan mereka ke hotel yang telah mereka pesan via online setibanya di bandara. Hal tersebut untuk mempermudah mereka tanpa perlu repot-repot check in lagi dan menghemat waktu tentunya.


"Masih pusing?" tanya Gerald untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Melodi tak menggubris, ia justru memejamkan matanya di pelukan Gerald. Sebenarnya jantung mereka berdua telah jumpalitan sebab ini kali kedua mereka menempel mesra seperti ini. Untuk pertama kalinya, mereka saling menempel dengan hubungan jelas saat di pesawat. Siapa yang tidak grogi, selama ini meskipun mereka terjalin hubungan simbiosis mutualisme, tapi mereka berusaha menjaga jarak aman. Mereka hanya akan benar-benar berdekatan saat berada di sekitar keluarga Gerald saja. Selebihnya, mereka saling menahan diri dan menjaga hati. Mereka pun kadang masih tak menyangka mereka akan tiba di titik ini, menjadi pasangan sesungguhnya dalam ikatan resmi tali pernikahan.


"Ya udah, kalau masih pusing, tidur aja dulu. Kalau sudah sampai, aku bangunin," tukas Gerald lembut lalu mengecup puncak kepala Melodi yang diangguki gadis itu dengan mata terpejam.


Diam-diam Melodi tersenyum, hatinya berbunga-bunga, jantungnya tak berhenti jumpalitan, ah rupanya seperti ini rasanya jatuh cinta. Bila selama ini Melodi berusaha menekan perasaannya sehingga ia tidak pernah benar-benar merasakan indahnya jatuh cinta, maka kali ini rasa cinta itu ia biarkan tumbuh kembang dari berakar, berkecambah, berdaun, beranting, berbunga, hingga berbuah-buah. Harum bunga cinta dan manis nektarnya membuat perasaan Melodi melayang tinggi. Rasanya begitu bahagia, sangat-sangat bahagia.


'Apakah ini mimpi? Ya Tuhan, bila ini mimpi, ku mohon jangan bangunkan aku cepat-cepat, ini terlalu indah! Ah, semoga saja ini bukan mimpi! Ini nyata. Ya, ini nyata!' monolog Melodi dalam hati.


Dulu, Melodi sempat berpikir, ia hanyalah pungguk merindukan bulan. Gerald bagaikan mimpi baginya. Gerald takkan pernah menoleh ke arahnya apalagi memiliki rasa yang sama padanya.


Hal yang sama pun dirasakan Gerald. Dalam diam, ia tak henti-hentinya mengulum senyum. Bahkan sang sopir pun sampai meliriknya berkali-kali karena bingung melihat pasangan pengantin baru itu. Yang satu tersenyum dengan mata terpejam, sedangkan yang satunya tersenyum sambil memandang ke luar jendela. Pasangan aneh pikir sopir itu.

__ADS_1


Bagaimana Gerald tak mengulum senyum tak henti-hentinya, ia merasa benar-benar dipermainkan keluarganya dan juga Azura, tapi ia sama sekali tidak marah atau tersinggung, sebab apa yang mereka lakukan itu untuk kebaikannya. Kalau saja orang tua, nenek, dan Azura tidak bertindak, mungkin hingga kini ia takkan pernah menyadari perasaannya pada Melodi. Bahkan mungkin saja hubungannya berakhir dengan penyesalan karena terlambat menyadari perasaannya pada Melodi. Apalagi ia tahu, sebenarnya Vero benar-benar menyukai Melodi, namun ia tidak bisa memaksakan kehendak sebab ia tahu, Melodi mencintai dirinya, bukan dia. Ia bersyukur, Vero bijak dalam bertindak, bila tidak, mungkin mereka justru akan berakhir dengan perselisihan.


Namun yang utama, hari ini, detik ini, ia sangat-sangat bahagia. Ia berjanji dalam hati, akan berusaha membahagiakan Melodi dengan segenap jiwa dan raganya.


"Aku mencintaimu, Di," lirih Gerald tepat di atas kepala Melodi.


Melodi mendongakkan kepalanya menghadap Geram lalu tersenyum manis, "Aku juga mencintaimu, kak."


Cup ...


Gerald mengecup bibir Melodi sekilas bertepatan dengan sang sopir yang melirik ke arah mereka dari rear-vision mirror.

__ADS_1


"Hhhmmm ... pantas saja mereka tersenyum-senyum sendiri, ternyata mereka pasangan yang sedang kasmaran," batin sang sopir menggunakan bahasa mereka.


...***...


__ADS_2