Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 70.


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu sejak kejadian memalukan dimana Azura mencoba menggoda Arkandra. Ia tak menyangka, ia akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Arkandra. Padahal ia telah rela merendahkan harga dirinya hanya demi membuat Arkandra menjadi lelaki normal, tapi bukannya berhasil, ia justru mendapatkan balasan telak yang menyakitkan dari Arkandra.


Azura malu sekaligus marah pada lelaki yang telah menyandang status sebagai suaminya tersebut. Karena itu selama satu bulan ini ia tak melakukan pergerakan apapun justru ia cenderung menghindari Arkandra. Ia merasa trauma berdekatan dengan suaminya sendiri. Bagaimana tidak, di saat libidonya naik dan butuh dimanjakan, Arkandra justru malah memelintir pu*tingnya dengan keras hingga ia menjerit kesakitan. Padahal sudah satu bulan berlalu, tapi ia masih terus teringat peristiwa malam ini. Dia benar-benar trauma mendekati seorang Arkandra Satya Nugraha. Bahkan kadang ia merasa rasa nyeri di pu*tingnya masih ada setiap ingatannya kembali ke malam nahas tersebut.


Azura sedang mengepel lantai dengan mulut terkunci rapat. Sedangkan Arkandra sedang asik mengubah-ubah channel televisi mencari siaran yang menarik sambil sesekali matanya melirik ke arah Azura yang tampak lebih pendiam selama satu bulan itu. Ia hanya terdengar sesekali mengomel saat kelelahan atau Arkandra mengusilinya.


"Mas dokter, jorok banget sih! Kulit kuaci merata-rata gini, aku capek tau dari pagi nyuci, nyapu, masak, sekarang lanjut ngepel. Mas dokter mentang libur malah enak-enakan nyantai. Enak kalau digaji, ini aja udah lebih satu bulan jadi istri tapi belum pernah satu kali pun dikasi nafkah lahir dan batin. Bunyinya aja dokter sukses, kaya, tapi ngasi duit belanja ke istri aja belum pernah. Jangan-jangan semua duit pak dokter, pak dokter kasiin sama si pelakor buluk itu karena itu jadi nggak punya duit buat kasi istri sendiri." omel Azura panjang kali lebar sembari mengumpulkan kulit kuaci yang sengaja Arkandra hamburkan di dekat meja. Arkandra bukannya jorok, tapi sengaja melakukan itu. Dia sudah terbiasa mendengarkan segala celotehan Azura jadi melihatnya hanya diam tanpa kata seperti itu membuatnya bingung sendiri. Setidaknya, melihat Azura mengomel bisa menjadi hiburan tersendiri untuk melepaskan rasa lelah dan bosannya.

__ADS_1


"Oh iya! Kenapa kamu selama ini nggak minta? Oh, iya, bukannya kamu udah dapat banyak uang dari Kak Cana?" ujar Arkandra sambil menaikkan sebelah tangannya ke sandaran kepala sofa.


"Itu mah beda. Lagipula duitnya aja belum cair. Yang lama mah udah habis kali mas dokter. Mana sekarang aku nggak kerja lagi gara-gara diomelin kakek, masa' cucu menantunya bekerja di kasir minimarket, malu-maluin, katanya. Kalau nggak kerja, dari mana aku punya duit coba? Aku juga punya banyak kebutuhan kali mas dokter. Aku juga pingin shopping. Masa' istri dokter sukses tapi selama menikah belum pernah dibeliin satu lembar baju pun. Ih, pelit banget! Pokoknya hari ini aku minta duit. Aku mau shopping, nyalon, spa, badan aku sakit semua jadi babu di apartemen mas dokter, tau. Nih liat, ada jerawat di pipi aku, malu-maluin. Ini karena skincare aku udah habis, belum beli. Nggak ada duit. Jadi entar minta duit ya mas dokter!! Yah yah yah, please!" mohon Azura dengan memasang puppy eyes'nya.


Arkandra menghela nafas panjang lalu berjalan menuju kamarnya tanpa sepatah katapun membuat Azura jengkel merasa diabaikan. Namun tak lama kemudian, Arkandra keluar lagi dengan sebuah amplop coklat di tangan. Lalu diberikannya amplop coklat itu kepada Azura membuat Azura melongo dan segera memeriksa isi amplop coklat tersebut.


"Wah, makasih banget ya pa dokter! Jadi makin semangat deh kerjanya!" serunya sambil melanjutkan pekerjaannya lagi. "Entar malam aku bakal masak enak sebagai ucapan terima kasih." imbuh Azura tapi dicegah Arkandra.

__ADS_1


"Nggak usah."


"Kenapa?" tanya Azura bingung. "Oh, pak dokter mau ngajakin dinner di luar ya! Oke, entar aku mau beli gaun yang pantas buat dinner kita nanti malam. Aku bakal dandan yang cantik biar mas dokter klepek-klepek sama aku." ucapnya penuh semangat.


"Bukan itu cerewet!" desis Arkandra. "Malam ini kita diminta datang ke rumah utama. Ada hal penting yang ingin kakek sampaikan."


"Masalah apa?"

__ADS_1


Arkandra mengedikkan bahunya tak tahu. Azura pun kembali melanjutkan pekerjaannya dengan sesekali bersenandung. Diam-diam, Arkandra memperhatikan segala gerak-gerik Azura. Dulu ia orang yang suka dengan ketenangan, tapi semenjak mengenal Azura, ia justru menyukai kebisingan yang ditimbulkan baik oleh perdebatan Azura maupun omelannya yang tiada henti. Baginya, kehadiran Azura merupakan hiburan tersendiri bagi jiwanya yang kesepian. Ada rasa hangat yang mulai menelusup dalam sendi-sendi kehidupannya. Ia pun jadi berpikir, bagaimana seandainya perjanjian Azura dan Kencana berakhir? Akankah ia bisa menikmati hari-hari seperti ini lagi? Ataukah kehidupannya akan kembali seperti dulu, sepi, kosong, hampa, dan hambar.


__ADS_2