
"Mas, kita ke tempat Melodi naik motor aja yuk!" ajak Azura seraya bergelayut manja di lengan Arkandra yang tengah membaca sebuah artikel medis di tablet miliknya.
"Motor? Tapi aku nggak bisa ngendarain motor," jawab Arkandra serius sambil menatap sang istri setelah terlebih dahulu menutup layar tabletnya.
"Hah! Serius mas nggak bisa ngendarain motor?" tanyanya lalu Arkandra mengangguk membuat Azura tergelak kencang.
"Hahahaha ... akhirnya, ada suatu hal yang mas Arkan nggak bisa toh! Aku pikir, mas Arkan itu serba bisa lho, eh ternyata ada juga yang nggak bisa." ucapnya bahagia membuat Arkandra menjentik dahinya hingga Azura meringis. "Sakit mas, nggak sayang istri banget sih! Kalau aku gegar otak terus amnesia gimana?as mau aku lupain?"
Arkan terkekeh lalu mencium dahi yang terlihat sedikit memerah karena ulahnya.
"Mana ada sejarahnya dahi yang disentil bisa membuat seseorang jadi gegar otak terus amnesia. Itu sih mau kamu aja lupain aku, ya kan!" goda Arkandra.
"Ih, buat apa lupain mas Arkan. Rugi tau, entar diambil pelakor, enak pelakor itu dong udah dapat mas suami aku yang ganteng, kaya raya, tajir melintir, super husband deh pokoknya."
"Iya kah?"
"Iya, makanya aku tuh cinta banget sama mas suami aku yang galak tapi penyayang ini."
Ucapan manis itu sontak saja membuat Arkandra tersenyum lebar, bagai ada bunga-bunga yang bermekaran di hatinya. Arkandra pun segera meraih tengkuk Azura dan membenamkan bibirnya di bibir Azura dengan lembut tapi menuntut.
"Mas juga cinta sama kamu, Ra. Jangan pernah tinggalkan mas ya!" ujarnya lirih setelah melepas ciumannya.
"Asal mas selalu setia dan menjaga kepercayaan aku, aku pasti nggak akan pernah ninggalin mas," ucap Azura tanpa keraguan sedikitpun.
Arkandra pun segera merengkuh tubuh Azura ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat.
"Jadi gimana? Mau kan ke kontrakan kami pake motor?" tanya Azura lagi. "Mas cukup duduk anteng sambil peluk aku, biar aku yang bawa motornya. Aku udah nggak sabar mau cobain motor baru aku, mau ya mas, please!" bujuk Azura dengan puppy eyes'nya membuat Arkandra mengangguk tanpa bisa menolak.
"Yes," serunya girangnya. Azura lantas berdiri dan segera berlari menuju kamarnya. "Ayo mas, buruan siap-siap." pekiknya dari kamar tak sabaran ingin mencoba motor baru saja dibelikan Arkandra melalui temannya. Ia tahu, istrinya itu berbeda dengan gadis lain. Ia sangat menyukai kendaraan beroda dua itu terlebih itu motor sport. Karena itu, ia sengaja menghadiahkan sebuah motor sport kepada Azura untuk menggantikan motornya yang diberikannya kepada Melodi. Azura memang bisa mengendarai mobil dan ia pun telah menyerahkan salah satu mobilnya untuk istrinya, tapi Azura mengatakan ia lebih menyukai mengendarai motor, namun ia tetap menerima mobil itu dengan senang hati. Rugi dong ditolak.
...***...
Saat di basemen, Arkandra menatap ragu pada motor sport di depannya. Ia memang membelikan motor itu untuk Azura, tapi ia tak pernah terpikir sedikit pun untuk menungganginya.
__ADS_1
"Kamu yakin, Ra? Kita naik mobil aja ya! Lebih nyaman juga." Arkandra bergidik sendiri saat melihat motor itu. Bentuknya bukan hanya besar, tapi bagian belakang terlihat menung*ging tinggi ke atas, bagaimana kalau ia terpelanting?
"Cck ... mas Arkan, ayo, masa main scalpel nggak takut, main bedah-bedah tubuh orang nggak takut, tapi naik motor kayak gini takut sih, aneh tahu nggak!" cibir Azura membuat Arkandra melototkan matanya.
"Aku itu bukan main, Ra, tapi operasi. Nyawa lho taruhannya jadi nggak bisa dianggap main-main." Ujar Arkandra menjelaskan membuat Azura terkekeh.
"Iya, iya, mas dokter galakku tersayang. Canda, canda, cius deh! Makanya buruan naik!" pangkas Azura membuat Arkandra akhirnya mengalah kemudian naik ke atas motor setelah memakai helm terlebih dahulu.
Setelah Arkandra sudah berpegangan erat pada pinggang Azura, Azura pun segera menyalakan motornya dan menjalankannya dengan kecepatan normal. Ia ingin memacu motornya dengan kecepatan tinggi, tapi ia takut kena protes dokter galaknya tersayang.
Setibanya mereka di lampu merah, Azura menghentikan motornya. Pemandangan seorang perempuan membonceng seorang pria tampan sontak jadi bahan tontonan. Bila biasanya sang perempuan lah yang dibonceng, kini justru sebaliknya. Tak sedikit pengguna jalan yang sedang berhenti di lampu merah mengambil gambar mereka apalagi Azura dan Arkandra tampak sangat romantis di atas motor itu. Mereka sesekali bercanda lalu tersenyum lebar. Arkandra juga tak malu-malu mencubit pipi Azura gemas dan mengusap lembut punggung tangannya lembut membuat para perempuan yang melihatnya ikutan baper.
So sweet banget ih pasangan itu!
Ih, pingin kayak gitu, romantis banget!
Satu cantik, satu cakep, romantis-romantisan di jalan serasa dunia milik berdua aja euy!
Komentar setiap orang yang melihatnya. Bahkan ada yang sengaja memposting pemandangan itu di sosial media dan menuai banyak komentar positif maupun like. Namun, ada juga yang julid dan mengatakan mereka nggak modal, pacaran di jalan raya. Tapi saat mereka menelusuri siapa pria dan wanita itu, mereka tiba-tiba bungkam dan tak berani berkomentar lagi.
...***...
Melodi membelalakkan matanya tak percaya kakaknya akan secepat itu mengetahui perihal uang itu. Walaupun dalam hati ada kebahagiaan sebab ternyata kakak iparnya sangat baik hati mau melunasi hutang-hutang mendiang orang tuanya yang tidak sedikit, tapi tetap saja ada ketakutan dalam benaknya tentang bagaimana cara ia menjelaskan sumber uang itu.
"Itu ... itu sebenarnya ... "
"Jelaskan Odi, jangan bertele-tele!"
Melodi menelan ludahnya sendiri, bingung harus memulainya dari mana. Tapi tidak mungkin ia berbohong, ia tak mau kakaknya tahu dari orang lain sehingga membuatnya kecewa.
Melodi menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Kemudian Melodi pun mulai menjelaskan dengan sejujur-jujurnya membuat Azura dan Arkandra terperangah tidak percaya. Bagaimana adiknya itu pun mendapatkan misi yang hampir menyerupai dirinya.
Melodi mengatupkan bibirnya dengan jantung berdegup kencang. Ia khawatir kakaknya tiba-tiba marah dan kecewa padanya.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan itu, Azura menoleh ke arah Arkandra yang juga menatapnya dalam. Kemudian mereka tersenyum lebar dan terkekeh membuat Melodi melongo tak percaya, mengapa bukannya marah, kakak dan kakak iparnya justru terkekeh setelah mendengar penjelasannya.
"Terus gimana hubungan kamu sama cowok itu?" tanya Azura yang justru penasaran tentang hubungan sang adik dengan pacar bohongannya itu.
Melodi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kak Gege baik sih kak. Tapi kak, nenek kak Gege minta kami tunangan."
"Respon lelaki itu?"
"Dia bingung karena itu dia sedang pergi ke Prancis untuk menemui kekasihnya. Kak Gege bermaksud membawanya pulang," jawab Melodi sendu membuat Azura menatapnya dengan tatapan memicing.
"Odi, jujur sama kakak, kamu udah menyukainya?"
Melodi sontak gelagapan mendapatkan pertanyaan itu, ia pun segera mengangkat kedua tangannya dan mengayunkannya di depan wajah.
"Ih, mana ada. Nggak kok kak, bagaimana mungkin aku suka sama kak Gege. Odi nggak sebanding sama dia, kak. Siapakah Odi ini." kilah Melodi membuat Azura mendengus.
"Mas kamu percaya apa kata, Odi?" Azura justru bertanya pada Arkandra dan Arkandra menggeleng pasti membuat Melodi makin gelagapan.
"Tuh, kakak ipar kamu aja nggak percaya, jadi mau jujur atau nggak?" tekan Azura meminta penjelasan.
Melodi menelan ludahnya bulat-bulat kemudian menunduk lesu.
"Kalau pun suka, percuma juga Kak. Kak Gege udah punya kekasih, seorang model dunia lagi. Apalah Odi dibanding kekasih kak Gege." Jujur Melodi membuat Azura tersenyum lembut.
"Jangan merasa rendah diri, Odi! Kamu percaya sama kakak, kan?" tanya Azura membuat Melodi bingung.
"Odi selalu percaya dengan kakak. Nggak ada yang lebih Odi percayai dari kakak setelah Tuhan tentunya." Jawabnya mantap.
"Oke, cukup kamu percaya dengan kakak. Kita akan lihat, apa arti kamu bagi pria bernama Gerald itu," ucap Azura sambil menyeringai
Entah apa yang ia rencanakan. Arkandra pun hanya bisa menatapnya bingung. Tak dapat menebak jalan pikiran sang istri yang terkadang di luar dugaannya.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...