Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 85. Diculik


__ADS_3

Setelah mendapatkan lokasi Alice, Arkandra pun bergegas menuju ke lokasi dimana Azura dan Alice berada setelah sebelumnya mengirimkan lokasi tersebut ke William dan memintanya membawa timnya untuk meringkus orang-orang yang telah menculik Azura dan Alice.


"Kan, loe mau kemana main ninggalin gue aja kayak gitu?" pekik Mario seraya mengimbangi langkah panjang Arkandra yang setengah berlari.


"Azura sama Alice diculik, gue mau nyusulin mereka," sahut Azura dengan tergesa.


Mata Mario membelalak, ia terkejut, ia tak menyangka Azura bisa diculik, bagaimana bisa pikirnya.


"Loe tau tempatnya?" tanya Mario.


Arkandra mengangguk seraya tetap melangkah, "Untung aja setiap bepergian, Alice selalu memakai smartwatch yang pernah gue kasih pas dia ultah. Gue pernah aktifin GPS nya. Dari sana kita bisa cari lokasinya."


"Gue ikut. Gue nggak terima kalau sampai terjadi sesuatu sama Azura," tukasnya dengan tatapan mata nyalang. Ia pun ikut emosi.


Mata Arkandra memicing tajam, entah dia tiba-tiba kesal mendengar perkataan Mario yang sarat kekhawatiran dan perhatian. Tapi tak mungkin ia mempermasalahkannya saat ini. Ada yang lebih penting dari pada menunjukkan ketidaksukaannya pada perkataan Mario. Keselamatan Azura dan Alice, itu hal yang paling utama.


Arkandra dan Mario pun segera masuk ke dalam mobil. Kali ini, Arkandra lah yang memegang kendali atas mobilnya. Ia tengah memburu waktu. Ia tidak tenang bila bukan dirinya sendiri yang menyetir. Untung saja, tremornya telah berhasil ia atasi.


Mario masuk ke mobil dengan patuh tanpa banyak bertanya. Walaupun dalam otaknya kini bertanya-tanya bagaimana bisa ini terjadi dan siapa yang ingin menyakiti Azura?


Bukan hanya Mario, Arkandra pun demikian. Ia begitu penasaran. Apalagi ia tahu, Azura memiliki kemampuan bela diri yang cukup tinggi. Bagaimana bisa ia ditaklukkan semudah itu? Ia yakin, para penculik itu telah merencanakan semua ini dengan matang. Tapi siapa mereka dan mengapa? Tangan Arkandra meremas kemudi dengan erat. Rasa khawatir kian membuncah. Ia bahkan sampai mengumpat beberapa kali karena kesulitan mengontrol emosi. Apalagi hari sudah kian larut. Azura dan Alice pasti saat ini tengah ketakutan. Mereka kini pasti tengah kedinginan.

__ADS_1


"Ya Tuhan, tolong lindungilah Azura dan Alice! Aku mohon," lirih Arkandra seraya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


1 jam sebelumnya,


"Tante, itu mobil punya opa," pekik Alice saat melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam pekat telah terparkir tak jauh dari tempat mereka makan es krim.


"Beneran?" tanya Azura meyakinkan sebab ia belum tau mobil apa dan siapa sopir yang akan menjemput mereka.


"Iya Tante, kan Alice setiap hari diantar jemput mobil itu kalau mau sekolah," jelas Alice yang diangguki oleh Azura.


"Ya udah, yuk kita naik. Udah sore ini, bentar lagi malam. Entar om galak kamu marahin Tante karena telat bawa pulang keponakannya tersayang," seru Azura seraya mencubit pipi Alice gemas. Alice terkekeh sebab memang benar om Arkandra nya itu terkenal galak, tapi tidak dengannya. Jadi wajar kan kalau orang-orang mengatakan Alice keponakan tersayang Arkandra. Bagaimana nggak kesayangan coba, Alice itu merupakan keponakan Arkandra satu-satunya.


Lalu Azura dan Alice pun langsung masuk ke dalam mobil. Alice langsung merebahkan kepalanya ke pangkuan Azura tanpa melihat lagi sang sopir. Alice merasa matanya sangat mengantuk karena itu ia langsung saja memejamkan matanya setelah kepalanya direbahkan. Setelah Alice memejamkan mata, Azura mengangkat kepalanya dan menatap sang sopir yang masih asing di matanya.


Sopir itu mengangguk tanpa menoleh, "Benar nona." Lalu sopir itu melajukan mobil itu membelah jalanan yang masih agak padat.


Tapi yang membuat Azura heran, mobil itu justru melewati jalan yang berbeda dengan jalan biasanya. Sopir itu justru membawa mereka melewati jalanan yang sepi membuat Azura bersikap waspada.


"Pak, kok lewat sini? Ini bukan jalan menuju apartemen. Bapak tau kan jalan menuju apartemen dokter Arkan?" tanya Azura tapi sopir itu justru tersenyum miring membuat Azura tersentak.


"Kau bukan sopir suruhan dokter Arkan? Siapa kau, hah? Jangan macam-macam! Aku bisa menghabisimu kalau sampai berbuat macam-macam," seru Azura dengan suara cukup nyaring membuat Alice jadi terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Tante, Tante kok teriak-teriak sih?" tanya Alice dengan mata sayu karena masih mengantuk.


"Lice, buka mata kamu! Liat, dia sopir opa atau bukan?"


Alice pun mengerjapkan matanya dan terkejut.


"Lho, om siapa? Kenapa bukan pak Sarmin yang menjemput?" Lalu mata Alice mencoba memastikan benarkah ini mobil opa nya, ternyata benar. Tapi mengapa bukan pak Sarmin pikirnya. "Mobilnya bener Tante, tapi sopirnya Alice nggak kenal," imbuh Alice dengan wajah polosnya.


"Kamu siapa? Di mana sopir yang membawa mobil ini? Cepat jelaskan!" pekik Azura tapi sopir itu justru meningkatkan kecepatan membuat Azura memeluk Alice yang mulai ketakutan.


"Berhenti! Berhenti aku bilang! Kamu siapa, hah! Cepat hentikan mobil ini! Jangan macam-macam dengan kami, sialan!" teriak Azura kesal karena diabaikan. Bahkan ia sampai tanpa sadar mengumpat di depan Alice karena khawatir sopir gadungan itu berbuat macam-macam.


Namun sopir itu masih acuh tak acuh. Beberapa detik kemudian, mobil itu berhenti di tempat yang sepi secara mendadak membuat kepala Azura sampai terbentur kaca jendela mobil dengan keras. Beruntung, kepala Alice berada di pelukannya hingga tidak membentur seperti dirinya. Azura pun segera berusaha membuka pintu mobil sekuat tenaga, tapi pintu terkunci. Azura pun bertolak ke arah depan untuk menekan kunci agar pintu dapat dibuka, namun sopir itu segera mengambil kunci itu. Azura pun berusaha melawan dengan memukul sopir gadungan itu hingga beberapa kali, tapi sopir gadungan itu justru memasukkan kuncinya ke saku celana membuat Azura kesulitan merebutnya.


Azura kembali mencengkram kerah baju sopir gadungan itu dan memukulnya tepat di hidung hingga berdarah. Tak terima, sopir itu mengambil sebuah sapu tangan yang sepertinya telah ia siapkan di atas dashboard lalu ia mencengkram tangan Azura sekuat tenaga dengan sebelah tangannya agar tidak bisa memukul lagi. Kemudian tangan satunya lagi bergerak membekap hidung Azura dengan sapu tangan yang sepertinya telah ditetesi obat bius tersebut. Dalam hitungan detik, pandangan Azura pun mengabur kemudian tak sadarkan diri.


"Tante ... Tante ... Bangun tante! Tante, bangun! Alice takut," pekik Alice panik sambil menarik-narik lengan Azura yang kepalanya tertelungkup di celah kursi. "Tante ... "


"Diam kamu anak kecil! Atau kamu mau saya tinggalkan di sini, hah!" bentak laki-laki itu dengan mata melotot membuat nyali Alice ciut. Apalagi saat matanya melirik ke luar jendela, langit sudah mulai menggelap, tempat itu juga begitu sepi dan dipenuhi semak belukar. Ia takut, sangat-sangat takut. Ia hanya bisa terisak sambil menutup mulutnya, khawatir sopir gadungan itu kembali marah dan membentaknya. Apalagi ini kali pertama ada seseorang yang membentaknya, tentu ia merasa amat sangat takut.


'Om Arkan, tolong Alice dan Tante Rara.' lirih Alice dalam hati dengan bibir bergetar karena takut.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2