
Siang itu Arkandra tidak ada jadwal jadi ia hanya menghabiskan waktu untuk mengerjai istrinya dengan menyuruhnya mengerjakan segala hal. Lelah dengan sikap bossy sang suami, Azura pun menghempaskan tubuhnya tepat di samping Arkandra yang sibuk membaca jurnal medisnya.
"Mas dokter, udah ya, bersihin WC nya besok aja, capek!" Rajuk Azura seraya mencebikkan bibirnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arkandra membuat laki-laki itu sontak bergeser menghindar hingga Azura hampir jatuh ke lantai.
"Ckk ... mas dokter nyebelin ih!" desis Azura kesal. Lalu ia berlalu sambil menghentakkan kakinya, masuk ke kamar.
Setelah hampir satu jam berlalu, Azura tampak keluar dengan pakaian yang telah rapi. Ia juga menggunakan make up minimalis membuatnya terlihat sangat cantik dan memesona.
"Mau kemana?" tanya Arkandra dengan alias bertautan.
"Mau pulang. Dari pada disini, ada orang nyebelin."
"Pulang? Rumahmu sekarang di sini."
"Belum sah kan belum menang. Aku mau liat Melodi. Udah 2 Minggu lebih nggak ketemu, kangen." ucap Azura seraya mencangklong tasnya ke pundak.
"Tunggu. Biar saya antar." ucap Arkandra membuat Azura lantas mengehentikan langkahnya.
"Nggak usah. Aku bisa sendiri." jawab Azura ketus.
"Tak ada penolakan. Tunggu, hanya 10 menit." tegas Arkandra membuat Azura mematung di tempatnya. Tumben-tumbenan mas dokternya itu mau mengantar dirinya. Padahal biasanya juga acuh tak acuh. Azura sampai menggaruk kepalanya sakin bingung melihat tingkah dokter kesayangannya itu.
"Kenapa garuk-garuk? Ada kutu?"
"Ckk ... gila aja cantik-cantik gini kutuan. Mas dokter kali tuh ada banyak kutu. Kutu buluk yang suka nempel-nempel sama suami orang." ujar Azura sambil mengulum senyum.
__ADS_1
Arkandra yang sadar kalau Stevan kah yang dimaksud sontak tersenyum tipis. Azura memang aneh dan menyebalkan tapi di sisi lain, berinteraksi dengannya memberikan hiburan tersendiri. Dan itu cukup menyenangkan.
30 menit kemudian Azura dan Arkandra telah sampai di kontrakan minimalis Azura. Tak butuh mengetuk pintu lama, Melodi telah membuka pintu depan senyum mengembang sempurna. Tapi ada yang sedikit berbeda, wajah Melodi terlihat pucat. Tentu saja hal itu membuat Azura khawatir.
"Kamu sakit, Di?" tanya Azura seraya menempelkan punggung tangannya di atas dahi Melodi dan ia pun terbelalak. "Kamu demam, Di? Kok nggak kasih tau kakak sih!" ucap Azura khawatir. Lalu ia meminta Melodi agar berbaring saja di atas ranjang lalu ia segera mengambilkan handuk dan air hangat lalu mengompresnya.
Azura juga sempat memberikan Melodi makan siang dan obat agar Melodi dapat beristirahat.
"Mas dokter kalo bosan, pulang aja. Aku kayaknya mau di sini aja deh sama Melodi udah mendingan." ucap Azura.
Arkandra menoleh sekilas lalu merebahkan punggungnya di sandaran sofa, "Aku temani."
Mendengar kata-kata itu, sontak saja Azura tersenyum lebar.
"Cie, mas dokter nggak bisa jauh-jauh dari aku ya karena itu lebih milih nemenin aku."
"Mas dokter, ada nggak harapan mas dokter suka sama aku?" tanya Azura tiba-tiba sambil mendekatkan wajahnya.
Arkandra menoleh, "Nggak." jawabnya singkat, padat, dan jelas membuat Azura memberengut sambil mengerucutkan bibirnya.
"
Bibirmu jelek sekali kalau lagi dimonyongin kayak gitu." ejek Arkandra .
"Eh, enak aja ngatain bibir seksi kayak gini. Gini-gini, bibir aku ini bisa bikin mas dokter mabuk, tau."
__ADS_1
"Itu bibir atau alkohol?"
"Nggak percaya?"
"Nggak ... "
Baru saja Arkandra hendak kembali mendebatnya, Azura sudah menempelkan bibirnya di atas bibir Arkandra. Arkandra awalnya hendak mendorong Azura, tapi reaksi tubuhnya justru tampak menikmati apa yang dilakukan Azura. Azura bahkan kini telah berpindah ke atas pangkuan Arkandra. Tangannya terulur membimbing tangan Arkandra agar menyentuh bola kenyalnya. Seakan terbawa suasana, tangan Arkandra justru merem*as dada Azura pelan lalu menaikkan blouse Azura beserta cup bra-nya hingga bola kenyal itu terlihat begitu menantang di depan mata Arkandra. Lalu tanpa basa-basi, Arkandra memasukkan ujung bola kenyal itu ke dalam mulutnya membuat Azura menggelinjang saat merasakan puncak dadanya terasa hangat dan lembab karena permainan mulut Arkandra. Azura sampai mendes*ah karena permainan mulut dan lidah itu.
Brakkk ...
Suara cangkir jatuh ke lantai membuat kedua insan yang tengah terbakar gelora asmara itu sontak menghentikan kegiatannya. Keduanya menoleh ke arah pintu kamar Melodi yang kini terbuka dengan Melodi yang sudah membalik badannya.
"Ma-maaf, silahkan dilanjutkan!" ujar Melodi gelagapan tak menyangka akan melihat secara live adegan 21+ di rumah kontrakannya. Ia awalnya terbangun karena haus jadi ia berinisiatif mengambil air putih di luar tapi saat baru saja membuka pintu, ia justru tanpa sengaja melihat sang kakak dan kakak iparnya sedang terbawa suasana dalam buaian mesra.
Dengan wajah merah padam, Azura lantas berdiri dan membenahi pakaiannya. Arkandra pun sebenarnya terkejut, tapi ia mampu menguasai dirinya dan bersikap biasa saja. Azura pun segera mengambil gelas itu. Paham kalau Melodi ingin minum, ia pun segera mengambilkan air minum dan mengantarkannya ke kamar Melodi.
...***...
Hadeh, makanya pak dokter, Azura, liat-liat tempat kalo mau aserehe! 😄
Malu kan kepergok kayak gitu!
Tapi yang namanya terbawa suasana, kadang nggak nyadar tempat ya! Kan mereka pikir Melodi bobok jadi santai waelah eh taunya jeng jeng jeng! 😵
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...