Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 96. Ra, aku mau kamu sekarang!


__ADS_3

"Dokter sendiri yang bilang kalau dokter tidak akan mungkin menyukai saya apalagi tertarik dengan saya meskipun saya telan*jang sekalipun," ujar Azura mengingatkan perkataan Arkandra tempo hari. "Dokter takkan mungkin mau tidur sama saya apalagi saya ... " nafas Azura tiba-tiba tercekat saat teringat peristiwa pelecehan yang ia alami.


"Aku tarik kembali semua omong kosong itu. Aku mau kamu sekarang, apa kamu siap?" bisik Arkandra lirih di samping telinga Azura membuat gadis itu meremang.


Azura tertegun di tempatnya. Mulutnya terbuka ingin menjawab tapi entah mengapa pikirannya tiba-tiba kosong saat ini. Ia belum mampu mencerna apa yang dikatakan Arkandra barusan.


Di saat Azura sedang sibuk dengan pikirannya sendiri dengan pandangan fokus ke arah manik legam milik suaminya, tiba-tiba Arkandra menyapukan bibirnya di atas bibir Azura. Membungkamnya dengan hangat, lembut, dan penuh kasih sayang membuat Azura membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang barusan Arkandra lakukan. Perlahan, mata Azura terpejam menikmati sapuan lembut di bibirnya itu. Ketika ciuman itu makin diperdalam, tiba-tiba Azura mendorong dada Arkandra hingga ciuman terlepas menyisakan tanda tanya di benak Arkandra. Bukankah biasanya Azura sangat menyukai kontak fisik terjadi diantara mereka, lalu kenapa ...


"Tidak dok, jangan ... jangan lakukan itu! Aku ... hiks ... aku ... aku kotor pak dokter, aku kotor, aku menjijikkan. Hiks ... hiks ... hiks ... Aku ... aku nggak pantes buat pak dokter. Pak dokter pantas mendapatkan gadis lain yang lebih baik. Aku udah kotor, pak dokter. Aku hanyalah gadis yang menjijikkan, aku ... nggak pantes buat pak dokter," raung Azura seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia meraung dan merintih, benaknya kembali teringat saat tangan-tangan kotor itu menjamah tubuhnya, menciumi kulitnya hingga meninggalkan jejak yang membuat merasa jijik dengan dirinya sendiri.


Arkandra lantas segera menarik Azura ke dalam pelukannya. Mendekapnya dengan erat. Tubuh Azura bergetar hebat dalam pelukannya. Dapat ia rasakan betapa istrinya itu terpuruk dengan apa yang bajing-an itu lakukan. Darah Arkandra rasanya kembali mendidih mengingat hal tersebut. Karena perbuatan mereka, istrinya jadi terpuruk seperti ini.


Arkandra terus memeluk Azura dengan erat seraya mengusap punggungnya dengan lembut. Ia biarkan istrinya itu menumpahkan segala beban yang menghantam jiwanya dalam pelukannya. Arkandra terus memberikan ketenangan hingga perlahan Azura mulai tenang. Tangisnya pun mulai mereda, menyisakan isakan kecil di bibirnya.


"Ra, tatap mataku!" titah Arkandra seraya mengangkat dagu Azura agar menatap matanya. Mata Azura masih terlihat basah karena bulir itu belum benar-benar berhenti. "Ra, aku mau kamu sekarang! Hanya kamu. Yang aku mau hanya kamu. Aku sangat-sangat menginginkanmu," ujar Arkandra seraya menyeka lelehan asin yang membasahi pipi Azura.


"Ta-tapi ... "

__ADS_1


"Sssst ... " potong Arkandra mendesis sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Azura. "Kamu nggak kotor, Ra. Kamu bersih, kamu cantik, tubuhmu indah," kata Arkandra sambil membuka satu persatu kancing piyama yang melekat di tubuh Azura.


"Rambutmu juga sangat indah saat terurai dan harum," lirihnya seraya menciumi ujung rambut Azura yang memang sangat harum dan Arkandra menyukainya.


"Jangan mengingat sentuhan lelaki lain lagi, aku tak suka!" tegas Arkandra. "Mulai saat ini, yang harus kau ingat adalah sentuhanku, hanya aku, karena kamu adalah milikku dan hanya milikku," gumam Arkandra seraya mengecupi leher Azura sampai gadis itu melenguh saat gelenyar aneh itu mulai menguasai akal sehatnya. Kini gelora asmaranya kian menyeruak memenuhi rongga dada dan pikirannya, berkumpul dalam satu titik dalam kabut gairah.


Perlahan, Arkandra membaringkan tubuh Azura lalu mengungkungnya. Tangan Arkandra menuntun tangan Azura agar mengalung di lehernya. Dada Azura seakan meledak karena sensasi menggelitik itu. Sentuhan Arkandra membuainya hingga menimbulkan sensasi melayang. Ini sungguh menakjubkan. Sangat berbeda dari saat-saat ia menggodanya dahulu. Sensasi ini sungguh luar biasa hingga rasanya ada yang meletup-letup di dalam sana.


Bibir keduanya kini kembali berpagutan mesra. Kimono tidur yang dikenakan Arkandra beserta kain lainnya pun telah tanggal entah kemana, begitu juga dengan Azura. Arkandra telah melepasnya tanpa gadis itu sadari. Kini mereka berdua sudah sama-sama polos. Tak ada sehelai benang pun yang tersisa.


"Pak Dokter ... hen-ti-kan jika ka-mu hanya ingin ... me-ning-galkan saya di ... tengah-tengah ja-lan seperti biasanya," lirih Azura memperingatkan Arkandra dengan mata sayunya. Ia takut terbuai dan melayang tinggi lalu terhempas ke bumi. Ia tidak sanggup bila harus kembali merasakan dicampakkan.


"Aku akan tuntaskan semua ini. Jangan berpikir macam-macam, cukup nikmati. Yang ku inginkan saat ini hanya kamu, Ra. Hanya kamu, istriku."


"Pak dokter ... "


"Sudah saya katakan aku bukan dokter kamu!"

__ADS_1


"Mas ... aaaargh ... "


Pekik Azura saat tiba-tiba Arkandra menerobos dinding pertahanannya dan menyatukan miliknya di dalam pusaran surgawi Azura. Terlihat bulir-bulir bening mengalir dari sudut netra Azura saat Arkandra berhasil mengoyak sesuatu yang berharga bagi perempuan yang sudah tidak gadis lagi itu. Ada sebuah kebanggaan di sudut hati Arkandra saat tau kalau istrinya itu telah benar-benar menjaga dirinya dengan baik. Walaupun diterpa berjuta kesulitan ternyata istrinya itu tetap mampu mempertahankan kehormatannya hanya untuk suaminya, yaitu dirinya sendiri.


Arkandra tersenyum saat melihat nafas Azura kian memburu ketika ia mulai menggerakkan dirinya di dalam pusaran surgawi sang istri.


"Faster please ... aaaahhhh ... "


"As you wish, sayang."


Arkandra pun mempercepat tempo hentakannya membuat Azura kian menggelinjang hingga membusungkan dadanya. Desa*han demi desa*han kini telah memenuhi ruangan itu. Peluh pun kian membanjir seolah ikut berpacu dalam hentakan gelombang hasrat. Hingga semua rasa kini berkumpul menjadi satu yang padu, mereka pun melenguh dan menjerit secara bersamaan seiring tibanya mereka di puncak kenikmatan yang luar biasa indahnya.


...***...


...Komen, like, hadiah, vote, ditunggu! 🤭...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2