
Brakkk ...
Pintu gudang tua itu didobrak tiba-tiba hingga mengejutkan ketiga pria yang sedang tak sabar ingin mencicipi tubuh mulus Azura bersamaan dengan Azura yang jatuh ambruk ke lantai karena tak sadarkan diri.
Pintu yang memang telah usang pun terpental karena tendangan yang terlampau keras itu. Tak lama kemudian, masuklah 2 orang yang masih mengenakan kemeja lengkap dengan sorot mata nyalang setajam mata elang yang tak sabar untuk mencengkram mangsanya.
Matanya makin berapi-api saat melihat bagaimana kondisi dua perempuan kesayangannya saat ini. Apalagi saat melihat kondisi Azura yang sudah sangat mengenaskan. Amarahnya meletup-letup, rasanya ingin segera meledak. Tangannya sudah mengepal dengan begitu erat.
Dengan gerakan cepat, kedua orang itu pun berhambur menghajar dua orang yang menghadang langkahnya sehingga terjadilah aksi pukul yang cukup sengit.
"Ar, serahin dua kunyuk ini sama gue aja, loe tangani bajing-an itu aja!" tukas Mario seraya meninju rahang salah satu dari dua orang itu. Sebelum melangkah ke arah bos dari kedua orang itu, Arkandra lebih dahulu menendang perut orang yang hendak memukul Mario dari belakang.
Setelah melihatnya tersungkur, Arkandra langsung membalik badan dan mendaratkan satu tinjunya tepat ke hidung pria yang tadi hendak melecehkan Azura.
Aaargh ...
Orang itu terhuyung ke belakang akibat tinju yang begitu keras hingga membuat hidungnya berdarah.
Tak ingin tubuh Azura jadi santapan mata orang-orang yang ada di situ, Arkandra melepaskan kemeja yang membalut tubuhnya dan menutupinya ke tubuh setengah telan*jang Azura lalu memberikan kecupan sekilas di pelipisnya.
__ADS_1
Dengan amarah yang kian menggelegak, Arkandra membalik tubuhnya menghadap pria tadi yang sedang menatapnya nyalang. Melihat kondisi Azura yang seperti itu, membuat amarahnya tak terbendung lagi. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju pria tadi.
"Kau lagi," desis pria itu saat menyadari yang menghajarnya adalah pria yang sama yang membuatnya harus meringkuk di penjara tempo hari. "Dasar bajing-an!" umpatnya marah sambil menyeka darah yang mengucur dari hidungnya.
"Kau lah yang bajing-an. Apa yang kau lakukan pada istriku, hah!" teriak Arkandra murka.
Tak terima, pria itu pun ikut maju hendak menghantamkan tinjuan balasan, tapi dengan tangan kirinya, Arkandra berhasil menepis tinju itu dan mencengkram pergelangan tangannya kemudian mematahkannya hingga orang itu menjerit kesakitan. Belum puas, Arkandra segera menendang perut lelaki itu hingga tersungkur. Saat pria itu coba bangkit lagi, Arkandra melakukan tendangan memutar tepat di leher pria itu membuatnya benar-benar tersungkur tak berdaya. Mungkin lehernya telah patah saat ini akibat tendangan itu. Tapi itu belum seberapa dengan apa yang kini di alami Azura dan Alice yang masih meringkuk ketakutan. Bahkan ia tak mengangkat wajahnya sedikit pun, malah mungkin tak menyadari kedatangan Arkandra karena saat itu mulutnya hanya menggumamkan kalimat 'om Arkan, mama, tolong Alice dan Tante Rara.'
Aaarghhh ...
Jerit pria itu kesakitan saat tubuhnya telah terhempas ke lantai yang dingin dan berdebu. Ia ingin menggerakkan lehernya, tapi justru ia menjerit karena rasa sakit yang mencengkram lehernya hingga untuk menelan ludahnya sendiri pun ia kesulitan.
Arkandra bersyukur ia tidak benar-benar terlambat menyelamatkan Azura. Namun tetap saja, apa yang menimpa Azura merupakan akibat kelalaiannya. Andai ia tidak meninggalkan istri dan keponakannya di taman, tentu hal buruk seperti ini takkan terjadi.
Arkandra menginjak bagian kejantanan pria kurang ajar itu dengan hati yang panas bergelora. Kakinya memang berada di atas milik pria itu, tapi tatapannya terpaku pada Azura yang tengah tak sadarkan diri. Melihat wajah Azura yang babak belur dan tubuh nyaris telan*jang, membuat api amarah itu kian berkobar hingga tanpa sadar ia menginjak kejantanan pria itu sekuat tenaga. Pria itu pun menjerit kesakitan kemudian tak sadarkan diri.
"Ar, udah Ar, dia bisa mati," tukas Mario mengingatkan. Arkandra pun segera mengangkat kakinya bersamaan masuknya William dan beberapa anggotanya.
Ketiga pria itupun segera dibekuk. Arkandra meminta Mario menggendong Alice, sedangkan dirinya menggendong Azura dengan terlebih dahulu memasangkan kemejanya agar tak ada yang melihat tubuh setengah telan*jang Azura.
__ADS_1
"Wil, tolong interogasi bajing-an itu, siapa yang sudah menyuruhnya sebab di telepon tadi aku sempat mendengar kalau ia sebenarnya diminta membunuh Azura. Tapi bajing-an ini justru ingin memperkosa Azura terlebih dahulu," tukasnya dengan Azura yang sudah berada di gendongannya. "Dan ... aku minta penjelasanmu mengapa bajing-an itu bisa sampai keluar dari penjara." Arkandra menatap tajam William.
Seumur-umur mengenal Arkandra, baru kali ini ia melihat tatapan tajam itu. Ia tau, sahabatnya itu kini tengah menahan emosi yang membuncah. Siapa yang tak marah saat ada yang menculik dan berniat memperkosa lalu membunuh istrinya? Ia pun bila telah memiliki istri, akan sangat marah dan tak segan-segan membunuh bajing-an yang berniat melakukan hal buruk itu pada istrinya.
William menghela nafas panjang dan mengangguk.
"Gue pasti akan berusaha semampu gue untuk mengungkapkannya. Loe nggak usah khawatir. Loe bisa andalin gue. Gue juga mastiin, bajing-an ini takkan pernah bisa menghirup udara bebas lagi apalagi sampai kabur untuk kedua kalinya dan nyakitin istri loe lagi," tukas William sambil menepuk pundak Arkandra. Secara tak langsung, William mengungkapkan kalau pria itu telah kabur dari penjara. Bagaimana kronologisnya, itu urusan nanti untuk menjelaskannya sebab sekarang ada hal yang lebih penting.
Setelah mendengar hal tersebut, Arkandra pun segera menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari lokasi dengan Azura digendongnya, sedangkan Alice telah tertidur di gendongan Mario.
William juga meminta salah satu bawahannya membawa mobil Arkandra sebab Arkandra saat ini tak mau melepaskan pelukannya sedetik pun dari Azura.
Sepanjang perjalanan, Arkandra tak melepaskan tatapannya dari Azura sedetik pun. Hatinya berdenyut sakit membayangkan apa yang telah istrinya alami. Dengan mata memerah, ia mengusap pipi Azura yang tampak memar. Kedua sudut bibirnya berdarah. Yang lebih membuatnya sakit, pria itu sempat mengecupi dan meninggalkan jejak di leher Azura. Tangannya kembali mengepal erat, seandainya Mario tak menghentikannya, sudah ia habisi bajing-an itu. Tapi mati dengan cepat belumlah setimpal, ia harap apa yang dilakukannya tadi membuat pria itu mengalami impoten. Dengan begitu, ia takkan pernah bisa lagi melecehkan seorang perempuan.
Bukan hanya pria itu, tapi juga dalang semua kejadian ini. Siapa orang itu, Arkandra harap William bisa segera menemukannya. Siapa yang berani-beraninya menyakiti dan berniat melenyapkan nyawa istrinya? Arkandra takkan pernah memaafkan orang itu. Orang itu harus mendapatkan hukuman setimpal atas segala perbuatannya.
"Maafin aku, Ra. Maaf, aku hampir terlambat menyelamatkanmu. Maafkan atas kelalaianku. Bangunlah Ra, aku disini. Dokter galakmu sudah di sini. Kamu sudah aman sekarang," gumam Arkandra dengan mata terpejam seraya mencium dahi Azura yang juga memar akibat terantuk di kaca jendela mobil.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🙏...