Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan

Dokter Galak Dan Gadis Menyebalkan
DGGM 45. Mario


__ADS_3

Tak terasa mobil yang dikemudikan Arkandra telah tiba dipelataran parkir rumah sakit tempatnya bekerja. Ia sengaja membawa Azura kesana sebab ia yakin Azura sedang tidak baik-baik saja saat ini. Sebagai seorang dokter, tentu ia bisa melihat kondisi seseorang yang baik-baik saja atau tidak.


Setelah mobil berhenti, Arkandra segera turun dari dalam mobil.


"Cepat turun!" titahnya sambil menutup pintu agak kencang. Tapi tidak sekencang tadi saat di apartemen.


Tapi setelah pintu tertutup, tak ada pergerakan sama sekali dari Azura. Ia pikir Azura mungkin tertidur jadi ia membuka pintu samping dan mencoba membangunkannya.


"Hei bangun!" ujar Arkandra sambil mengguncang bahu Azura, namun hingga beberapa detik berlalu, Azura tak kunjung bangun. Jadi ia menempelkan punggung tangannya di dahi Azura, sontak saja, alisnya berkerut dalam. Suhu tubuhnya ternyata sangat tinggi. Arkandra merutuki kebodohannya yang tidak menyadari kalau Azura telah pingsan. Sejak kapan? Lalu ia ingat saat tiba-tiba saja Azura terdiam dan memejamkan matanya. Arkandra pun segera meraih Azura masuk ke dalam gendongannya kemudian membawanya masuk ke dalam rumah sakit.


"Dasar, gadis menyebalkan yang menyusahkan." omelnya sambil menggendong Azura.


Perlakuan Arkandra pada Azura sontak saja jadi perhatian dan buah bibir di rumah sakit, khususnya para petugas medis yang mengenal sosok dokter tampan tapi galak Arkandra.


"Ada yang bisa saya bantu, dok?" tanya salah seorang perawat yang kerap membantu Arkandra. Ia sempat melirik Azura yang digendong Arkandra. Ia masih ingat gadis yang ada dalam gendongan Arkandra, gadis yang beberapa waktu lalu juga ia bawa ke rumah sakit dalam keadaan pingsan. Dan kini lagi-lagi ia dibawa dalam keadaan pingsan.


"Siapkan ruangan dan panggil Mario ke sana!" titahnya tegas. Perawat itupun bergegas berlari untuk menyiapkan ruangan seraya memencet nomor telepon Mario.


Tak butuh waktu lama, kini Azura tengah ditangani Mario. Mario adalah seorang dokter umum jadi ia untuk tugas seperti ini memang sudah bagiannya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Arkandra setelah Mario selesai memeriksa keadaan Azura.

__ADS_1


Mario membalik badannya agar berhadapan dengan Arkandra.


"Sepertinya kau peduli sekali dengan dia?" cibir Mario seraya mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di dekat ranjang.


"Tak usah banyak bicara, jelaskan saja bagaimana hasil pemeriksaannya!" ketus Arkandra sambil melirik wajah Azura yang perlahan mulai berwarna setelah mendapatkan cairan infus yang sudah disuntikkan obat ke dalamnya.


Mario mendengus lalu melipat kakinya santai.


"Tak ada yang serius, hanya asam lambungnya yang sedikit naik. Faktornya karena kurang tidur, kelelahan, sering telat makan, terlalu sering makan makanan instan, dan terlalu banyak pikiran." ucap Mario membuat alis Arkandra terangkat sempurna. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, Mario tidak bisa menebaknya.


"Kau yakin ingin menikahinya?" tanya Mario keluar dari topik.


"Kenapa?" Arkandra justru balik bertanya.


Arkandra tertawa sinis, "Cinta? Apa kau bercanda?"


"Aku serius, Arkan. Kalau tidak mengapa kau ingin menikahinya?"


"Apapun alasannya, itu urusanku."


"Arkan, kalau kau hanya menikahinya karena keluargamu, biar aku saja yang mengambil alih tanggung jawab itu." ucap Mario seraya melipat lengannya di depan dada.

__ADS_1


"Mengapa?"


"Setidaknya aku memiliki alasan yang jelas, yaitu aku menyukainya." ucap Mario santai membuat Arkandra tersenyum kecut.


"Apa itu cukup?"


"Jauh lebih baik dari pada dirimu, kan! Aku yakin, kau tidak memiliki perasaan apa-apa padanya jadi aku akan menyelamatkanmu dari pernikahan yang tak kau inginkan." ucap Mario dengan sorot mata penuh kesungguhan.


Arkandra mendengus, "Apa kau bercanda?" tukasnya dengan sorot mata tajam.


"Sudah aku katakan, aku serius. Jadi batalkan saja pernikahanmu. Aku yang akan mengambil alih tanggung jawabmu. Kau tenang, aku senang, dan gadis itu pun akan lebih senang. Setidaknya ia takkan menderita karena dinikahi seseorang yang tidak memiliki perasaan seperti dirimu. Walaupun dia belum mencintaiku, setidaknya juga aku memiliki alasan yang kuat."


Arkandra terkekeh kecil. Netranya beralih ke Azura yang masih memejamkan matanya.


"Sorry Yo, aku tak mungkin membatalkannya. Kau sudah lihat kan, undangan telah disebar. Walaupun aku kecewa dengan keluargaku, tapi aku tidak ingin membuat mereka menanggung malu. Apalagi bukankah ini yang mereka harapkan. Walaupun yah ... gadis itulah yang akan menanggung akibatnya." ujarnya santai.


"Kau jangan egois, Ar! Kau tidak bisa menumbalkan dirinya untuk kepentinganmu dan keluargamu."


"Terserah. Tak usah ikut campur, Yo! Kau tidak tau apa-apa jadi lebih baik diam." tegas Arkandra dengan tangan terkepal.


"Oke, kalau kau masih bersikeras menikahinya. Tapi, bila suatu hari nanti kau menyakitinya, aku takkan segan-segan mengambilnya dari sisimu." tegas Mario. Lalu ia berdiri dan berlalu dari ruangan itu sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


...***...


__ADS_2