
Tak lama kemudian, mobil yang membawa Gerald dan Melodi pun tiba di sebuah hotel mewah Swissotel The Bosphorus Istanbul. Swissotel The Bosphorus Istanbul merupakan hotel mewah dengan kesan romantis yang terletak di Turki. Hotel ini menyuguhkan pemandangan Bosphorus yang mempesona, terang saja Melodi sampai membelalakkan matanya setibanya di kamar yang menyajikan langsung pemandangan selat Bosphorus yang indah menawan.
"Masya Allah kak, bagus banget! Odi nggak sedang mimpi kan kak? Kita beneran sedang berada di Turki, kan!" serunya dengan mata berbinar cerah. Ia sampai lupa kalau ia masih dalam pengaruh jetlag karena terlampau bersemangat.
Melodi segera berlari menuju dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan birunya air di Bosphorus. Lidahnya tak henti-hentinya berdecak kagum melihat keindahan yang terpampang di hadapannya itu.
Setelah petugas hotel pamit, Gerald segera menutup pintu kemudian beranjak menuju Melodi yang sedang memandangi Bosphorus.
Melodi tersentak hingga tubuhnya menegang kaku saat sepasang tangan telah melingkari perutnya dengan dagu yang bertopang di atas pundak Melodi.
"Ini bukan mimpi. Ini nyata, kau suka?"
"Sangat. Sangat-sangat suka. Makasih kak, Odi suka banget," ujar Melodi penuh semangat.
Cup ...
Melodi melabuhkan sebuah kecupan ke pipi Gerald membuat Gerald terkejut karenanya. Wajah Melodi sudah bersemu merah menahan malu karena telah dengan berani mengecup pipi Gerald tanpa izin.
Tak ingin Gerald melihat wajahnya yang sudah memerah malu, Melodi pun segera berusaha melepaskan diri.
"Kak, lepas! Aku mau mandi dulu, udah lengket ini. Biasanya sehari 2 kali mandinya, eh ini udah lebih dari 24 jam belum mandi, nggak nyaman banget." Melodi mencoba beralasan agar segera lepas dari rengkuhan Gerald.
"Mau melarikan diri, hm?" cibir Gerald yang justru makin mengeratkan pelukannya.
"Kak, sesak tau! Lepasin! Siapa yang mau melarikan diri, itu perasaan kak Gege aja," kilah Melodi sedikit merengek membuat Gerald kian gemas.
"Nggak usah beralasan. Kalau emang nggak mau melarikan diri, kita mandi bareng aja yuk!" goda Gerald membuat bulu kuduk Melodi seketika berdiri. Gerald yang menyadari kalau Melodi tengah merinding karena ucapannya lantas terkekeh geli. "Udah kayak liat hantu aja, pake merinding segala. Semakin mengenal kamu, ternyata kamu itu makin menggemaskan." Tukas Gerald lalu segera membalikkan badan Melodi agar menghadap dirinya. Ditatapnya lekat bola mata Melodi yang terus berlarian kesana-kemari, seolah takut kalau mereka saling bertatapan.
Lalu Gerald menarik dagu Melodi agar ia balas menatap wajahnya. Setelah pernikahan dadakan kemarin, memang mereka belum sempat menghabiskan waktu berdua saja seperti ini. Saling bertatapan dalam jarak begitu dekat pun baru kali ini, di hotel ini.
"Kamu ... cantik." Puji Gerald membuat semburat merah kembali menghiasi pipi Melodi. Jarak yang begitu dekat membuat jantung keduanya bertalu-talu.
Tiba-tiba Melodi ingat, ia belum menanyakan perihal kepergiannya ke Paris tempo hari. Bagaimana hubungannya dengan Aurelia? Masih berlanjut atau sudah usai. Melodi sebenarnya khawatir, ia sudah begitu jatuh ke dalam pesona Gerald, bagaimana bila ternyata mereka masih memiliki hubungan? Lalu bagaimana dengan dirinya kelak?
"Kak, boleh aku nanya sesuatu?" tanya Melodi ragu-ragu.
"Kamu sekarang istri aku, Di, jadi kamu bebas mau nanyain apapun sama aku," ujarnya lembut seraya menatap lekat wajah cantik Melodi.
"Hmmm ... itu ... bagaimana dengan kekasih kakak di Paris? Bukankah kepergian kakak tempo hari untuk ... "
__ADS_1
" Nanti aku jelaskan! Bagaimana kalau kamu mandi dulu. Kita gantian aja. Apalagi sekarang udah masuk jam makan malam. Setelah makan, pasti aku jelasin, gimana? Nggak papa kan?"
"Emmm ... oke deh!" Melodi menyetujui ide Gerald. Ia pun segera mengambil pakaian ganti dalam koper lalu segera masuk ke kamar mandi. Ia juga sebenarnya telah merasa tak nyaman. Mandi air hangat sepertinya bagus, bukan hanya membuat nyaman, tapi juga bisa menghilangkan efek lelah dan jetlag-nya.
...***...
"Jadi gimana kak yang aku tanya tadi?" tanya Melodi lagi. Mereka baru saja selesai makan malam. Karena sudah terlalu penasaran, ia sampai makan dengan begitu cepat. Ia sudah tak sabar menantikan penjelasan suami dadakannya itu.
Gerald terkekeh lantas mengajak Melodi duduk sambil bersandar di ranjang sambil memandang keindahan langit malam yang bertabur bintang. Mereka tidak menutup tirai kamar mereka sehingga keindahan langit malam itu bisa langsung mereka nikmati tanpa harus bersusah payah keluar dari kamar mereka atau berdiri di jendela kaca.
"Kamu tenang aja, sayang, aku udah nggak ada hubungan apapun sama dia. Sama sekali nggak ada. Aku sudah mengakhiri hubungan kami dan hanya kamu lah satu-satunya yang kini memiliki hati ini."
"Hah! Benarkah? Bukannya kakak kesana untuk ..."
"Iya, itu awalnya!" potong Gerald. Melodi tampak begitu fokus mendengarkan penjelasan Gerald. "Saat itu aku memang sedang bimbang. Sejujurnya, sejak aku mengenalmu, aku sudah merasa nyaman. Tapi karena saat itu aku memiliki Aurelia sebagai kekasih, jadi aku nggak berani mengambil kesimpulan kalau aku sudah tertarik sama kamu, sayang. Tapi saat aku tahu kalau selama di Paris, Aurelia ternyata menjalin hubungan dengan pria lain, sejak itu aku memutuskan hubungan dengannya. Ditambah lagi nenek menghubungi dan marah-marah karena tahu kalau hubungan kita sebatas sandiwara sehingga berniat menjodohkan kamu dengan Vero, dari situ aku panik. Perlahan, aku baru menyadari kalau aku sebenarnya sudah mencintai kamu, Di. Jadi kamu nggak perlu khawatir karena saat ini pemilik hatiku hanyalah kamu, nggak ada yang lain." Jelas Gerald membuat hati Melodi menghangat dan bahagia. Ia tak menyangka rencana kakak dan nenek Gerald bisa sesempurna ini.
"Tapi yang masih buat aku penasaran, sayang, siapa yang bocorin rahasia kita? Bukannya nggak ada yang dengar saat itu apa mungkin itu ... "
Gerald menatap Melodi dengan tatapan menyelidik membuat Melodi gelagapan.
"Ma-maafin, Odi kak. Sumpah, Odi bukannya sengaja. Odi juga nggak cerita ke nenek tapi ... nenek tahu dari kak Azura." cicit Melodi membuat mata Gerald kian memicing. "Odi serius, kak! Odi mana punya keberanian sebesar itu buat bocorin rahasia kita. Tapi saat itu, Odi benar-benar terpaksa. Odi nggak bisa bohong saat kak Zura nanya dari mana Odi uang 200 juta buat nyicil hutang keluarga kami," ujar Melodi sambil menundukkan kepalanya.
"Hutang?"
"Mereka bilang apa?" cecar Gerald tak sabar menantikan kelanjutan penjelasan Melodi.
"Mereka bakal jual Odi ke orang yang bersedia bayar mahal," cicit Melodi dengan wajah menunduk dalam.
"Apa?" seru Gerald murka. Wajahnya sudah merah padam menahan emosi. Bagaimana tidak, gadis yang dicintainya ingin dijual demi melunasi hutang-hutang mendiang orang tuanya, itu sungguh keterlaluan. Tangan Gerald sudah terkepal erat. Rasanya ingin sekali ia menghajar orang itu. "Kenapa kamu nggak cerita?" tanya Gerald tak habis pikir dengan Melodi yang tidak menceritakan perihal masalahnya pada dirinya.
"Kan kita dulu bukan siapa-siapa kak," ujarnya lolos membuat Gerald tertohok. Memang benar dulu mereka bukan siapa-siapa. Mereka dekat hanya karena perjanjian tak tertulis diantara mereka.
"Jadi nggak mungkin kan Odi cerita. Odi juga tahu diri dan tahu malu, kak. Siapalah Odi sampai melibatkan kakak dalam masalah keluarga kami. Bisa-bisa kakak mikir Odi berusaha manfaatin kakak atau bisa jadi kakak malah ngira Odi mau nipu, benar kan!" tukasnya polos membuat Gerald menggaruk tengkuknya. Apa yang dikatakan Melodi memang ada benarnya, pikirnya.
"Jadi sekarang masalah hutang itu gimana? Perlu kakak bantu?"
Melodi menggeleng seraya tersenyum manis, "Beruntung kak Zura punya suami super Hero kayak kak Arkan, dia udah lunasin semua hutang kami kak. Kak Arkan baik banget ya! Kak Zura beruntung banget punya suami dokter udah tampan, gagah, kaya, baik hati, dan nggak pelit. Bayangin deh kak, 1 milyar dikasiin ke bandot tua itu cuma-cuma, kalau uang lain pasti mikir seribu kali buat ngasiin uang sebanyak itu ke orang lain walaupun itu untuk menebus hutang istri sendiri. Ih, jadi iri deh sama kak Zura," ucap Melodi sambil tersenyum manis membuat Gerald gerah melihatnya.
"Oh, jadi kamu suka sama suami kakak kamu, hm?" tanya Gerald dengan satu sudut bibir terangkat.
"Tentu dong, cuma orang bodoh yang nggak suka sama cowok seperfect kak Arkan, benar kan kak!" tanyanya dengan mata berbinar membuat Gerald tiba-tiba gerah padahal cuaca malam itu cukup dingin. Belum lagi AC yang menyala membuat udara jadi lebih dingin.
__ADS_1
"Sepertinya kamu harus aku hukum sekarang juga," ujar Gerald yang kini posisinya sudah di atas tubuh Melodi.
Melodi sontak membulatkan matanya terkejut, apalagi saat sorot mata Gerald terlihat begitu tajam seperti sedang menahan amarah.
"Hu-hukum? Kenapa aku mau kakak hukum? Emang salah aku apa?" tanya Melodi gelagapan.
"Belum sadar juga?"
"Belum," jawabnya polos karena memang tidak mengerti.
"Astaga, kamu ini Di, bikin aku makin gemes aja. Huh, kakak mau hukum kamu karena udah berani-beraninya memuji laki-laki lain di hadapan suami sendiri. Sekarang sudah paham?"
"Hah! Yang benar aja kak masa' marah karena itu. Kan Odi cuma kagum aja. Suka bukan berarti suka sebagai seorang perempuan, ih kak Gege cemburuan banget ternyata. Eh ... kakak beneran cemburu nih?" goda Melodi membuat wajah Gerald bersemu merah.
"Terserah, mau cemburu atau bukan, mau sekedar kagum atau bukan, pokoknya kamu nggak boleh puji-puji pria lain di hadapan aku. Karena kamu udah berani-beraninya memuji laki-laki lain. Karena kamu udah berani memuji laki-laki lain, malam ini kamu harus aku hukum."
"Kak, jangan aneh-aneh deh! Masa' gitu aja mau dihukum sih!"
"Terserah. Pokoknya harus dihukum, tenang aja hukumannya enak kok," ujar Gerald sambil menyeringai.
"Mana ada dihukum enak."
"Ada."
"Nggak ada."
"Ada, Odiiii," kekeh Gerald.
"Cck ... hukum kayak gimana, awas ya kalau nggak enak."
"Tenang aja, pasti enak kok. Awalnya aja yang sakit, tapi sesudahnya pasti enak. Yakin deh!"
"Hah! Beneran?"
"Bener, mau dibuktiin?" tanya Gerald yang sudah tersenyum penuh kemenangan. Melodi pun mengangguk pasrah lalu ....
...***...
...🥱🥱🥱🥱🥱...
...😂🤣🤪...
__ADS_1
...Lanjut besok ya! 🙏...
......Happy reading 🥰🥰🥰......