
Jangan lupa baca doa.. Bismillah 🤗
Sebetulnya ada perempuan yang diam-diam menyimpan suka pada Omar. Tak hanya suka, tapi juga mengidolakannya. Perempuan itu bernama Nurmaya. Dia yang setiap hari menyediakan tempat duduk dan meja untuk singgasana Omar saat mengajikan kitab di pesantren putri. Dia yang merelakan parfumnya habis untuk membasahi sajadah dan bantal di singgasana itu. Dia yang pertama kali bersiaga membalikkan alas kaki Omar saat tiba di pintu aula. Dia yang menyediakan minum, entah itu kopi ataupun teh, supaya Omar tak merasa kehausan di tengah membacakan maknan kitab. Tapi, dia selalu tak percaya diri menunjukkan dirinya saat Omar terlihat lebih membuka diri pada santri-santrinya. Dia malu merekomendasikan dirinya sebagai calon istri yang pantas, sedangkan dirinya hanya anak seorang nelayan. Tinggal di Gondang Wetan, di wilayah pesisir Pasuruan.
Nurmaya yang kerap disapa Yaya. Bukan santri kesayangan dan bukan santri ndalem. Juga bukan pengurus dan santri dengan prestasi baca kitab kuning yang baik. Dia hanya santri dapur yang biasanya dimintakan memasak khusus untuk Omar. Karena, Omar sendiri tak pernah memikirkan urusan makan. Disamping memang sudah ada tim khusus untuk memasakkan keluarga ndalem, terutama abah sepuh dan Omar.
Dalam dua tahun terakhir sejak abah sepuh sudah sering sakit-sakitan, sedangkan bu nyai telah wafat, kakak ipar dari kakak Omar yang bernama Ning Bulqis merekrut santri-santri yang pandai memasak. Dalam perekrutan itu, Nurmaya yang telah menyimpan kekaguman pada Omar, nekat mendaftarkan diri. Dia tahu, selain diminta untuk memasakkan untuk keluarga ndalem kesepuhan, dia juga akan lebih sering berkesempatan mempersembahkan cinta dan pengabdiannya dengan cara yang sederhana. Maka, dia dan tiga orang kawannya pun diterima. Hingga kini, dia dan tiga kawannya itulah yang setiap hari memasakkan untuk ndalem kesepuhan yang hanya dihuni oleh anak pertama dan anak kedua abah sepuh.
Pagi ini, Nurmaya melihat Omar tengah menggerai rambut basahnya di bawah sinar mentari yang baru saja keluar dari balik pohon kelengkeng. Sekali-kali dia ingin sekali melihat Omar mengikat rambut itu, lalu ditutupinya dengan peci rajut warna hitam. Meski begitu, kapan pun dan di mana pun tempat dan keadaannya, Nurmaya tetap menganggap Omar begitu luar biasa. Dia selalu memandangnya di atas rata-rata laki-laki lain. Dengan tetap menyendirinya Omar saat ini, Nurmaya diam-diam melambungkan harap. Bila suatu saat nanti, barangkali ada kemungkinan Omar akan memandangnya sebagai santri yang pantas untuk dirinya.
Dan alangkah terkejutnya saat dia tiba-tiba dipanggil Omar. Sementara, dia tengah asik melamunkan sesuatu bersama pemilik suara.
"Kelengkengnya sudah mateng, Nduk."
Hanya inilah yang disayangkan Nurmaya. Kenapa dari awal Omar bertemu dengannya, dia selalu dipanggil dengan sebutan itu. Memberi kesan terpaut jauhnya usia mereka.
"Njenengan purun (mau), Gus?"
"Boleh, Nduk. Gak usah banyak-banyak. Sedompol aja."
Nurmaya pun mengambil sapu karena dia tak bisa meraihnya dengan tangan. Sekali pun berjinjit. Hingga Omar sedikit menertawakannya.
"Bisa gak?"
"Bisa, Gus."
Pyok! Pyok!
Nurmaya pun berhasil menjatuhkan kelengkeng itu. Dengan sigap, dia mengambili kelengkeng yang menggelundung ke mana-mana. Meniup-niup kelengkeng yang sekiranya terkena debu.
"Sini, sini, sini!"
Nurmaya diminta untuk membawakannya ke meja. Lalu, kembali memunguti kelengkeng yang lain. Dia juga berniat mengambilnya lagi.
"Udah ini aja," kata Omar sembari mengupasnya sebiji.
"Nduk, kamu tak jodohkan sama Kang Abi mau?"
Dahi Nurmaya otomatis berkerut. Nama itu terdengar tidak asing, tapi dia tak berhasil menemukan wajah pria itu dalam sekejap. Dia pun mendekat. Memperjelas kembali melalui tatapannya yang tak lurus.
"Kalau kamu mau, gampang tak obrolkan sama dia."
__ADS_1
"Ngapunten, Gus. Tapi....anu Kang Abi itu siapa?"
"Kamu nggak kenal Abi?"
Nurmaya menggeleng pelan. Karena mendengar pertanyaan itu, dia merasa harus mengulang kembali sederet wajah santri di pesantren Mahbubah ini. Yang sekiranya lebih famous di antara santri lain. Tapi, dia menggeleng lagi.
"Abimana Gulzar. Dia sering di ndalem. Kapan-kapan aku temukan."
Nurmaya kembali menggeleng. Lalu, menunduk.
"Inget askutu tadullu 'ala na'am lo. Mau nggak?"
"Belum berani, Gus."
Omar pun tertawa. "Nduk, Nduk, sepolos ini kamu itu. Berapa to usiamu?"
Deg! Seperti gemuruh petir yang akan mengiringi tangis langit. Dia bahagia sekali mendengar pertanyaan itu. Baru pertama kalinya dia bisa berbincang-bincang sesyahdu ini dengan Omar. Yang biasanya hanya bertegur sapa dengan kata minta tolong, permintaan maaf, dan terima kasih.
"Ssyyaya..saya sembilan belas tahun."
"Ya nggak remaja. Kamu udah gede, Nduk. Dah pantes nikah kamu itu."
"Aku siap jika yang melamar njenengan," batin Nurmaya menjerit.
"Ngomongin soal Abimana tadi. Dia itu santri yang tak sukai. Selain karena dia juga pernah kuliah di luar negeri. Habis lulus, ngabdi di sini nggak lama, lalu boyong. Kamu tetap nggak ingat?"
"Kalau misalnya dia nikah sama santri ini, kan, enak. Tak suruh tinggal di sini mungkin dia mau. Gampang kalau masalah rumah. Itu kamar kosong banyak."
Tiba-tiba dia pun bermasygul hati. Pria yang tengah ditatapnya itu sebenarnya juga sibuk mencari jodoh untuk dirinya sendiri, tapi dia malah memikirkan jodoh orang lain. Dia bertambah kagum atas kebesaran hati itu.
Kling! Pesan masuk. Omar membuka handphone-nya. Tertulis Mbak Habibah.
"Assalamualaikum, Tad. Mohon maaf mengganggu waktunya sebentar saja, nggeh. Berhubung waktu sudah mendekati hari sarasehan milad sekolah kami, kami memohon kesediaan panjenengan mengirimkan biodata."
"Woh, iya lupa," gumamnya.
Dia langsung mengetik.
^^^"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Oke siap. Bentar." Send.^^^
Beberapa detik kemudian dia menyusulkan gambar yang berisi biodatanya. Lengkap.
"Terima kasih kami sampaikan. Mohon maaf mengganggu waktunya."🙏
__ADS_1
"Oke."
Omar kembali meletakkan handphone.
"Kenapa kamu nggak pengen sekolah, Nduk? Di sini ada sekolah formal."
Nurmaya tetap berdiri di tempat semula sembari memegang gagang sapu.
"Supaya biaya tidak terlalu mahal, Gus." Dia menjawab apa adanya.
Sekarang saja jika dia tidak terbantu dengan bisyaroh bulanan atas kesediaannya memasak untuk ndalem, mungkin uang syahriah per bulan bisa menunggak.
"Pernah ada keinginan sekolah di luar."
"Enggeh, Gus."
"Mana?"
"Di MAN."
"MAN Pasuruan?"
Dia mengangguk.
"Tapi, akhirnya kamu malah mondok'."
Di mengangguk lagi.
"Gapapa. Kalau kamu mau, kamu bisa sekolah. Nanti aku yang ngurus administrasinya."
Dia bersikeras menolak. Dengan lantang dia menolak pemberian itu. Saking sungkannya atas sikap Omar kepadanya.
"Atau gini aja, deh. Kamu besok ikut aku ke MAN Pasuruan. Setidaknya kamu ngerasain masuk MAN."
Dia membeku. Semakin sungkan menerima tawaran Omar yang cuma-cuma. Bukan masalah dengan siapa saja dia akan ke sana, tapi dia sendiri tipikal perempuan yang pemalu.
Omar hanya tersenyum. Lantas dia bangkit meninggalkan Nurmaya sendirian. Dia pergi menemui beberapa pengurus putra. Memberikan utusan agar malam nanti diadakan rapat terakhir sebelum acara haul bu nyai yang ke-10 digelar minggu depan.
Tut! Tut! Tut! Panggilan tersambung.
📞"Kang Abi, assalamualaikum?"
📞"Iya, Gus?"
__ADS_1
📞"Nanti malam ke sini. Jam sembilan ba'da diniyah. Rapat haul."
Abimana mengiyakan. Walaupun dia tak tergabung dalam kepanitiaan haul tahun ini, Omar tetap memintanya hadir sebagai senior santri supaya ada yang membimbing. Karena, setiap tahun anggota kepanitiaan selalu ganti. Hanya mempertahankan beberapa panitia tahun lalu.