
"Akbar?" Suara melantang. Membuat Akbar seketika menoleh setelah menutup pintu mobilnya.
"Lu, Vey?"
Tanpa basa-basi, Vey langsung mengambil kerah kemeja Akbar. Menunjukkan wajah muram durjanya.
"Kasih tahu aku gimana caranya aku bisa menghubungi Kafil?" Dia melotot. Mengeratkan cengkeramannya.
"Vey, apa-apaan lu? Lepasin nggak?"
"Kamu nggak lupa, kan, kalau aku bisa mukul kamu? Kasih tahu aku gimana caranya menghubungi Kafil? Cepet!" Dia berniat akan memukul Akbar seketika itu juga apabila Akbar benar-benar tidak mau mengaku.
"Lepasin dulu!" Akbar membentak.
Vey pun melepaskan tangannya.
"Lu pasti nggak akan ngira. Lebih baik kamu nggak ngerti. Karena selama ini lu memang nggak banyak tahu."
"Nggak ngerti aku." Dia meletakkan telunjuknya ke dada Akbar. "Yang pengen aku denger cuma kejujuran lu, Bar. Kalau elu masih anggep aku temen, kasih tahu. Aku tahu elu udah banyak ngerti. Nyatanya elu bela-belain ke Malaysia."
"Vey, lu harusnya juga ngerti. Ngerti kalau Kafil nggak mungkin ceritakan semua hal ke elu. Kalian siapa? Suami istri? Bukan, kan? Harusnya elu nyadar."
"Bukan soal sadar atau enggaknya. Komitmen, Bar. Kita udah janji mau ke pelaminan. Tapi, tiba-tiba dia ngilang gitu aja. Apa salah aku marah? Bilang, Bar! Ayo ngomong kalau gue salah."
Akbar pun geregetan. Dia memegang kedua pundak Vey.
"Vey, please! Turunkan ego kamu."
"Lu yang egois." Vey melotot. Menunjuk muka Akbar.
"Kenapa Kaf kamu nggak bisa merjuangin masalah kamu dan masalah kita? Sedangkan, nanti malam aku akan berkenalan dengan pria lain," batin Vey seraya menatap dalam-dalam bola mata Akbar.
Akbar melepaskan kedua tangannya.
"Gue hanya bisa bilang, gue sebetulnya nggak banyak tahu, Vey." Akbar memelankan suaranya. "Oke kita duduk di gazebo aja." Dia menggiring langkah Vey yang tertahan.
"Haaaa?"
"Sumpah. Aku ke sana cuma punya niat njenguk Mamanya dia yang lagi kena jantung. Habis itu gue ngurusin kerjaan Papah."
"Tapi, ada satu hal yang belum bisa aku ceritakan juga, Vey. Aku khawatir lu syok," batinnya.
"Sorry, Vey. Sorry banget. Gue juga mohon ke elu, nggak usah repot nyari-nyari gue. Gue kasihan ngelihat lu malah capek kaya gini. Saran gue, ya udah elu turutin aja maunya Kafil. Toh, dia yang akan menyesal sendiri kalau dia sampek nggak jadi nikah sama lu."
__ADS_1
Vey justru mendesis. "Enak banget ngomong." Memalingkan muka.
"Mau gimana lagi? Lu mau ngejar Kafil yang nggak mau memperjuangkan lu?"
"Harusnya lu dulu sama gue, Vey. Sayangnya aku telat," batinnya kemudian.
"Nggak semudah itu. Beneran nggak se-mu-dah itu. Kamu nggak ngerasain. Dan, kamu nggak akan ngerti. Bahkan, kamu nggak akan ngerti gimana rasanya kehilangan."
Vey lupa, apa yang pernah dikatakannya pada dirinya sendiri. Bahwa sekali pun dirinya akan kehilangan Kafil, rasa sakit itu tidak akan sesakit saat dirinya ditinggalkan kedua orang tuanya.
"Pergi kamu! Aku bisa nenangin diriku sendiri." Dia justru mengusir Akbar.
"Oke." Akbar bangkit. Memperhatikan sebentar wajah muram dan sendunya Vey.
Setelah beberapa langkah membelakangi Vey, dia kembali menoleh. "Vey, gue hanya anak pungut. Gue ngerti rasanya."
Deg! Vey tidak sempat bertanya karena Akbar sudah membelakanginya.
Dan, tibalah di malam pertemuan. Tapi sayang sekali, Gus Omar justru membuat Vey harus mengulang kenangan. Dia terpaku sebelum turun dari mobil. Sampai akhirnya Kala mendorongnya agar segera keluar.
"Onni, aku cuma bisa memberikan doa terbaik. Aku bahagia kalau Onni segera nikah. Aku udah nggak mempermasalahkan siapa yang akan tinggal di rumah Ayah. Semangat!" Kala berusaha memelankan suaranya.
Vey menurunkan kakinya. Tak begitu fokus mendengarkan perkataan Kala.
"Kenapa?"
"Entah kenapa tiba-tiba aku punya feeling lain. Kamu siap-siap."
"Maksud Onni?"
Vey sendiri tak terlalu paham. Dia hanya mendadak ingin berkata begitu.
Kala dan Vey berjalan beriringan. Lalu sebelum masuk ke ruang VIP itu, Kala tiba-tiba ingin mengeluarkan sepatah kata. Dia menyembunyikan separuh badannya di balik tubuh Vey.
"Pak Gani?" panggil Gus Omar.
***
Gus Omar mencium tangan abah sepuh. Meminta restu. Dia pun menjelaskan seperti apa gadis yang akan ditemuinya nanti. Di akhir penjelasan itu, tidak banyak kata yang diungkapkan abah. Abah hanya mengatakan bahwa menikah itu adalah perkara sunah. Peringatan untuk yang ke sekian kali. Maka artinya, abah pun menginginkan Gus Omar menyegerakan itu.
Abah menahan tangannya. "Omar, kemarin Abimana pamitan mencari jodoh," ujarnya sangat lirih.
"Dengan siapa, Bah? Nurmaya?"
__ADS_1
Abah menggeleng.
Gus Omar tak menghiraukan itu. Dia meninggalkan kamar abah setelah Abimana memanggilnya dari pintu.
Kali ini Abimana yang menjadi sopir. Gus Omar hanya merasa membutuhkan kawan untuk menemani. Pun supaya terkesan lebih menyenangkan. Agaknya terlalu formal jika dia hanya datang sendirian.
"Bi, sudah punya calon kamu?"
"Ikhtiar, Gus."
"Berhasil?"
"Masih pendekatan."
"Padahal menurutku kamu cocok sama Yaya. Orang mana dia?"
"Orang Pasuruan juga, Gus. Nana namanya."
Gus Omar mengangguk saja. "Ya sudahlah. Semoga kamu jodoh dengan dia."
Abimana mengangguk. Mengaminkan dalam hati.
Berangkatlah mereka ke tempat makan yang sudah di-booking ruang VIP-nya. Mereka sampai sebelum keluarga Vey datang. Sembari menunggu, Gus Omar merapalkan lafaz-lafaz zikir dengan jari-jarinya. Tak menghiraukan handphone-nya yang menyala karena notifikasi baru.
Terdengarlah uluk salam dari seberang pintu. Abimana menatap Vey sekilas, lalu memperhatikan Kala yang seketika menundukkan wajah dan menyembunyikan tubuhnya.
"Pak Gani?"
Paman Gani tersenyum. Menyuruh Kala dan Vey duduk agak berjauhan dengannya--tidak dalam satu barisan.
"Saya kira sendirian, Gus."
"Maaf, Pak. Ya biar tidak suwong saja sebetulnya. Monggo diicip makanannya dulu, nggih. Setelah itu, kita membicarakan hal-hal intinya."
Di saat semua orang terlihat makan dengan lahap, Abimana memperhatikan Vey dan Kala barang sebentar. Mempertanyakan siapakah di antara mereka berdua. Di situlah dia mulai berubah gusar. Dia berharap bukanlah Vey orangnya. Tentu dia tidak ingin bersaing dengan gurunya sendiri. Pastilah dia yang harus mundur karena kedudukannya sebagai seorang murid.
"Semoga harapanku Engkau makbulkan," batin Abimana.
Sekitar dua puluh menit--makan sekaligus bincang basa-basinya--sesi makan pun telah terakhir.
Vey menunduk. Menatap kosong ke arah lantai. Menyedekapkan tangan di perutnya. Sedangkan, Kala memainkan jari-jarinya--ingat perkataan Bu Maria kala itu.
Entah kenapa Kala bisa berdebar melihat Vey yang akan dijodohkan. Seakan-akan dirinyalah yang sedang menerima perjodohan itu. Setiap kata yang keluar dari mulut Gus Omar, dia memperhatikan dengan baik-baik.
__ADS_1
Ngapunten terlalu malam sanget. Semoga masih bisa menikmati ceritanya. Terima kasih doa-doanya..❤️❤️❤️