Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 67 "Awal Mula"


__ADS_3

Sore, sepulang dari Mahbubah, Abimana mengambil donat pesanan dengan adik perempuannya, Niar. Donat sejumlah dua ratus lima puluh buah itu nantinya akan dibagikan gratis kepada pengunjung warung dan anak-anak didiknya di LBB. Dalam rangka memperingati anniversary orang tua yang ke-36.


"Mas, Mas, yang Mbak Nana itu orangnya gimana? Pinter kaya Mas Abi nggak?" Niar di belakangnya mengoceh.


"Nggak tahu."


"Kok nggak tahu? Aneh. Katanya suka. Katanya cinta. Bo-ongan tuh berarti. Kemarin, kan, udah lamaran. Mbak Nana mau jadi kakak iparku."


"Ngerti apa kamu cah cilik."


"Aku sudah remaja, Mas. Re-ma-ja. Aku punya pacar loooooh." Niar terkikik.


"Aku bilangin ke Bapak kapok kamu."


"Aku bahas Mbak Nana. Mbak Nana orangnya gimana?"


"Dia jutek."


"Iiiiih, so sweet sama dong kaya Mas Abi."


"Terus?"


Sambil menyetir, Abimana meladeni pertanyaan Niar.


"Judes."


"Samaan lagi. Terus terus?"


"Kreatif."


"Kapan-kapan Mas Abi ajak main ke rumah dong. Aku mau kenalan. Ya, Mas, yaaaaa?" Niar menarik-narik jaket Abimana.


"Kapan hari dia ke warung."


"Maksudku ke rumah. Kan beda kalau ke warung."


"Dia itu repot."


"Orang sibuk, ya?"


"Ya."


"Sesibuk apa pun, tapi kalau sama Mas Abi pasti Mbak Nana mau. Kan udah jadi calon is-three."


"Jika ada perempuan yang lebih siap dan layak, Mas Abi lebih baik sama yang lain. Kondisiku sekarang sedang tidak memungkinkan untuk mengiyakan lamaranmu, Mas. Kuharap Mas Abi nggak nunggu. Jalani saja. Nggak perlu ada komitmen dan saling menunggu. Aku khawatir aku yang akan mengecewakan."


Abimana ingat perkataan Vey malam itu. Saat ini, dia tak ingin merencanakan apa pun dulu. Dia tahu kalau lamarannya tidak tepat waktu dan Vey belum siap menerima kedatangannya. Dia berniat akan memberikan ruang dan waktu agar Vey dapat berpikir jernih. Langkahnya terkesan tergesa-gesa setelah perkenalan Vey dengan Gus Omar justru berpindah pada Kala.


"Satu-satunya perantara di antara kita saat ini, mungkin hanya soal pekerjaan, Na."


Sebetulnya Abimana itu bukanlah tipikal laki-laki yang romantis. Walau dia bisa melakukannya, hanya saja dia merasa perlu menemukan alasan kuatnya. Dan untuk kondisi seperti ini, dengan memberikan bunga, mempersembahkan kalimat romantis, atau malah terus mendekati Vey dengan alasan ingin meraih hati, baginya itu kurang tepat. Menurutnya, jika dirinya sampai melakukan hal-hal semacam itu, dia khawatir Vey malah akan menjauh.


Saat ini, dia pun sudah mengetahui kalau Vey baru saja putus cinta dengan kekasihnya, Kafil. Berbekal informasi dari salah satu karyawan di kantor Papanya Kafil yang kebetulan makan di warungnya.


"Niar? Cil?"


"Heemmm? Napa?" Niar fokus menoleh ke kanan kiri.


"Pilih dikejar cowok apa dibiarin?"


"Wiiih? Kenapa ini Mas Abi nanya gitu?"


"Tinggal jawab."

__ADS_1


"Jawabannya nggak semudah itulah, Mas. Mas Abi aneh."


"Iya jawab terus dikasih keterangan, Cil."


"Ih, macam soal essay ajalah."


"Aku turunin di sini mau kamu?"


"Ogaaaahlah."


"Kalau masalahnya pas lagi marahan, nih, ya Mas. Niar kasih tahu...cewek sukanya dibujuk-bujuk, Mas. Juteknya dia tandanya mau. Itu kalau aslinya cinta...atau sukalah misalnya. Tapi, jangan salah kalau dia udah nggak suka sama laki-laki, jadinya bisa ilfeel. Jijik."


"Kaya sudah pengalaman aja kamu, Cil."


"Sudah kubilang aku, kan, ada cowok, Mas."


"Mau masuk pesantren berani pacaran kamu?"


"Biar."


"Kira-kira Nana tipikal yang ilfeel atau demen dikejar?" batinnya. Abimana mendadak kepo. Untuk urusan cinta, dia kurang begitu pandai. Selain karena tidak banyak pengalaman menjalin hubungan dengan perempuan, Vey ialah cinta pertamanya yang bertahan sampai sekarang.


Di warung.


Abimana dan Niar membawa kardus-kardus roti itu. Niar berbisik sebelum masuk pintu warung dari samping. "Mas, awas jangan ngomong sama Ayah loo."


Abimana menatap sinis.


"Ishhhh." Niar mengerenyot. Melangkah mendahului.


"Buk, Buk? Buk, Mas Abi itu kapan nikahnya sih, Buk?" tanya Niar. Tak sadar suaranya melantang.


Pak Cipto dan Bu Cipto menoleh bersamaan.


"Buk, Niar punya pacar." Menyusul suara Abimana dari tengah pintu. Dia meletakkan kardus rotinya.


"Pak, sidang saja sekarang," katanya kemudian.


Niar menteleng, sedangkan Abimana memasang wajah datar.


Niar berniat membalas. Dia mendekati ayahnya. "Yah, masak tadi Mas Abi pas aku tanyain Mbak Nana itu orangnya bagaimana, terus itu...Mas Abi jawab Mbak Nana orangnya jutek, judes.."


"Dasar tukang ngadu." Mengacir.


Niar tersenyum, lalu berlari mengambil handphone Abimana--sedang dipegang. Dia pun cepat-cepat mencari chat Abimana dengan Vey. Kebetulan Abimana tak pernah memprivasi handphone-nya.


"Waaw, Mas Abi pernah ngirim puisi bahasa Arab ke Mbak Nana. Lihat, Buk! lihat, Yah!"


Pak Cipto dan Bu Cipto berpandangan. Tersenyum. Keduanya ikut mengintip pesan yang dimaksud Niar. Tapi, Abimana berusaha merebut handphone-nya.


"Nggak bisa. Mas Abi mulai duluan." Niar menyembunyikannya. Mengancam akan menjatuhkan handphone Abimana ke air kobokan.


"Pak, kalau Niar ketahuan bener pacaran, aku nggak akan mengizinkan dia berangkat ke pondok sebelum dia mutus pacarnya itu." Abimana berkata tegas. Tak ada nada bercandanya.


Handphone itu akhirnya terjatuh ke air kobokan tanpa sengaja.


"Yah, waduuuuuh." Niar terkaget. Mendadak khawatir setelah melihat ekspresi Abimana yang garang.


"Mas, nggak sengaja," ujarnya sembari mengelap handphone Abimana dengan bajunya.


Abimana merebutnya.


"Lagi badmood itu Mas Abi," kata salah satu karyawan.

__ADS_1


"Emang badmood kenapa, Buk?"


"Soal Nana, Niar. Kamu mbokya dikurangin jailnya. Masmu itu pendiam, tapi kamu candain terus, Nduk."


"Maaf, Buk. Lha kayanya mereka lamaran, tapi kok aku nggak dikasih tahu apa-apa."


"Sudah sudah. Nanti kamu tahu sendiri. Biar Bapak bicara dengan Mas." Pak Cipto menengahi.


***


Vey mengerjakan pesanan souvenir.


Ujian tasmi' kubro sepuluh juz sekali duduk membuatnya bekerja sendirian. Kala sudah menyendiri sejak asar tadi.


Dret! Dret!


Vey menoleh mendengar getar handphone-nya. Kali ini, dia tak mengabaikan notifikasinya. Beberapa pesan menumpuk. Lima chat teratas dari nomor yang tidak dikenal, customer. Sekrol ke bawah, masuk kiriman sebuah video tiga puluh menit yang lalu. Juga dari nomor yang tidak dikenal.


Vey membuka video yang berdurasi sepuluh menit sebelas detik itu. Awalnya dia bingung menerka--video apa? Ketika dia sadar tempat itu adalah warung Abimana, dia terkejut. Lantas dia menjadi sebal setelah mendengar Abimana mengatainya jutek dan judes.


"Dasar. Jutek dari mananya," sungutnya.


"Terus ini siapa yang ngirim videonya?"


^^^"Siapa, ya?" Send.^^^


Dibiarkan centang dua.


Sembari menunggu, dia menelepon Abimana.


📞"Assalamualaikum?"


📞"Waalaikumsalam. Aku lagi ada acara. Nanti aja kalau mau ngomong."


📞"Nggak bisa. Aku maunya sekarang. Mas Abi emang dasar, ya."


📞"Dasar kenapa maksudmu?"


📞"Ngatain aku jutek, judes, itu apa maksudnya?"


📞"Kalau kamu nggak merasa begitu ya sudah, Na."


📞"Lama-lama nyebelin, ya, orang ini," gumam Vey. Tak sadar kalimatnya masih bisa didengar Abimana.


📞"Itu kamu juga ngatain aku nyebelin."


📞"Nggak terima juga?"


📞"B aja."


📞"Sssssss." Vey mendesis.


📞"Nelpon cuma karena mau membela diri begitu?"


📞"Ya perkataan Mas Abi itu nggak berdasar. Aku nggak seperti itu."


📞"Nggak perlu dijelaskan. Lagipula kita siapa. Kamu siapa dan aku siapa."


📞"Sumpah nyebelin banget. Makin nyebelin," gumamnya lagi.


Abimana mematikan tanpa salam.


📞"Aku yang telepon, dia yang matiin duluan?" Vey geram. Mendadak kekanak-kanakan.

__ADS_1


Terima kasih semuanya.. Selamat menjalankan ibadah puasa esok hari. Ramadhan hari ke-18. 🥀🥀🤩🤩🙏


__ADS_2