
Kala, Mela, dan Ruma makan di kantin. Mengisi energi sebelum setoran nanti. Sayang sekali Ruma dan Mela tak mampu mengikuti jejak pretasi tahfiz Kala yang semakin gemilang. Mela mengaku kesulitan setelah rampung di juz sepuluh, sedangkan Ruma berhenti di juz dua belas. Mereka bertiga berbincang ringan soal persiapan wisuda dan kemeriahan yang digadang-gadangkan oleh ketua OSIM yang baru dan Pak Waka.
"La, kamu harus siap-siap hafalan bareng sama sepuluh anak."
Berbeda dengan tahun kemarin memang. Menurut rencananya, di wisuda kelas XII tahun ini, akan ada penampilan khusus untuk sepuluh hafizah terbaik sebagai ajang pembuktian kepada wali santri atas keberhasilan program kelas unggulan agama di MAN Pasuruan. Dimana siswa dan siswinya sudah ditunjuk oleh masing-masing pembimbing tahfiz.
"Tapi, aku sedih banget gara-gara Syarif beneran pindah. Dan dia nggak mau ngomong dimana pindahnya. Aku tu sampek sekarang mikir, apa rencananya itu sebetulnya udah lama. Karena kaya nggak mungkin aja gitu kalau dia pindah semendadak itu hanya gara-gara aku mau nikah."
"Eh, jangan salah, La. Syarif itu beneran suka sama kamu dari dulu," ujar Ruma.
"Cowok kalau udah ambil keputusan, semua bisa terjadi dalam sekejap."
"Bener kata Mela." Ruma mengunyah tulang lunak ceker ayam.
"Aku jadi kangen dia yang pas dateng ke kelas, terus ngasih kita jajan. Ngasih aku pentol, Mel. Kehilangan yang aku rasain sekarang ini karena aku bener-bener anggep dia temen deket. Kalian gitu juga, kan?"
"Ya iya," jawab Mela.
"Apalagi dia udah nggak bisa dihubungi lagi. Bener-bener putus kontak. Dan, tiap aku lihat boneka yang dia kasih, aku mesti merasa salah karena baru menyadari kalau itu sebatas titipan karena dia udah nggak di Pasuruan lagi."
"Aku jadi mellow. Emang harusnya pas kita wisuda, kita bisa foto berempat."
Mereka terus membahas Syarif yang kini sudah menjadi kenangan. Kebersamaan selama di organisasi selama hampir tiga tahun, mereka mengulang kembali momen-momen itu.
"Terus Onni sama Pak Abi gimana?" tanya Mela.
Ruma menyambung, "Sorry, La. Kita nggak maksud lo. Pengen ngerti. Kali aja kamu mau ngebahas itu."
"Santai aja. Aku udah biasa kok sekarang. Mereka lagi renggang. Sampai sekarang Onni nggak ngasih jawaban. Onni itu bener-bener fokus sama pekerjaan dan tugas sekolahnya. Nggak ada waktu buat ngurusin itu. Tapi, dia deket sih sama Niar."
"Niar siapa?"
"Adik kita. Masak nggak ngerti? Yang agak pecicilan kaya kamu, Mel. Mukanya mirip kaya Pak Abi."
"Aku pecicilan, ya?" Mela meringis. Setelah itu terkikik.
"Kayaknya aku ngerti, deh. Kayaknya yang itu. He.em yang itu." Ruma mengangguk-angguk.
"Emang beda jurusan. Wajar kalian nggak ngerti. Aku ngertiku juga pas dia pertama nebeng aku pulang, pengen main ke rumah."
"Oh, jadi dia udah ke rumah kamu? Dekat berarti sama Onni?"
"Iya, Rum. Dah tiga kali. Onni dan Niar emang deket. Kadang mereka telponan sambil ngakak ngakak. Ngomongin Pak Abi."
"Berarti mantan Onni fix beneran udah jadi mantan yang dilupakan?" tanya Ruma lagi.
__ADS_1
"Mmm ... sepertinya begitu. Nyatanya udah nggak pernah bahas Bang Kafil lagi kok. Membuang waktu juga."
Bel istirahat kurang sepuluh menit lagi. Mereka bertiga beranjak. Kepadatan kantin mulai berkurang.
Saat berjalan keluar dari lorong yang menghubungkan antara kelas dan kantin, Kala tak sengaja menoleh ke kanannya.
"Waduh."
Mela dan Ruma spontan menoleh.
"Wewww, casumu itu," ujar Ruma.
"Ke sana, yuk! Aku pengen nyapa." Mela berkelakar. Dia bersiap menarik tangan Kala.
Kala menahan kakinya. Menggeleng. "Nggak mau, ya. Ngapain. Kalau ada yang sampai tahu, aku nggak mau pokoknya."
"Kalau menurutku, sih, pasti sudah ada yang ngerti. Tapi, mereka bungkam. Atau, mereka ngomong di belakang kamu, kamunya nggak ngerti." Ruma menakut-nakuti.
"Tapi, ngapain Gus Omar ketemu Bu Maria?" batinnya. Setengah penasaran.
"La, nggak pengen mandang Gus Omar bentar? Kaya Dilan. Pakai jaket levis, rambutnya gondrong, tanpa kopiah. Gus milenial itu, Laaa." Mela mencandai.
"Hisssh ... kalian apaan. Nggak jelas."
"Ya sejak Iqbal ngubah style-nyalah. Nggak tahu, ya? Ih, kudet."
"Eh, La kalau kamu udah nikah sama Gus, coba deh kamu minta Gus buat potong rambut. Kok aku agak geli," ujar Ruma.
Tak lama kemudian Bu Maria memanggil.
"Kala? Sini!"
"Duuuuh," batinnya.
Kala kontan mencubit lengan Mela. Berbisik agar ditemani. Dia pun mendekat, lalu duduk di kursi sebelah kiri Bu Maria. Ruma berdiri di samping kirinya, sedangkan Mela jongkok di bawah Ruma.
"Aku nggak suka momen kaya gini," batin Kala. Dia yang selalu mendadak malu setiap bertemu Gus Omar.
"Kala, Gus Omar kadang ke sini karena ingin menanyakan perkembangan hafalan kamu. Setoran nanti sudah lancar?"
Kala menyembunyikan wajahnya. Mengangguk.
"Dek?" panggil Gus Omar.
Nyut! Denyar itu merambat seketika. Tapi, Kala tak kunjung menoleh. Bahkan, dia tak akan mau bertatap muka. Jari-jarinya bergetar
__ADS_1
"Adek?"
Nyuuuut! Wajahnya menghangat.
"Huffffft. Aku panas. Panaaaaaaasss," bisik Mela. Lalu, terkikik.
Tangan kiri Kala merambat untuk mencubit Mela.
"Ya udah nggak apa-apa. Aku nanti mau ke rumah Pamanmu."
Kala hanya mengangguk meskipun debar di dadanya berangsur pelan.
Gus Omar pun berpamitan. Merasa sudah cukup berbincang-bincang dengan Bu Maria. Dia pun paham Kala belum terbiasa jika bertemu dengan dirinya.
Akhirnya napas itu bisa lolos seketika.
Bu Maria memperhatikan Kala seraya tersenyum. Menggeleng. Lalu, mengelus kepala Kala.
"Ibu yakin Gus Omar pasti bangga padamu. Nyatanya beliau sangat peduli dengan prestasimu. Ibu yakin kamu akan semakin berkembang setelah ini." Bu Maria turut bangkit. Menuju ruang guru.
Bel masuk jam pelajaran selanjutnya. Kala, Ruma, dan Mela beranjak bersama-sama.
"La, aku nggak ngebayangin gimana nanti kamu duduk di pelaminan sama Gus." Mela tergelak.
"Udaaah. Emoh aku bahas itu. Memalukan."
"Malu apa seneng?" Ruma menyenggol lengan Kala.
"Dua-duanya, Rum," sambung Mela.
"Padahal, dulu pas aku sowan beliau di ndalem, rasanya beneran enggak gini. Ya sungkan, tapi biasa aja. Sekarang kok beda, ya. Iiih, nggak suka aku." Kala berjalan mendahului.
"Lemeezzzz, Bestie. Lambaikan tangan," kata Mela yang semakin keras tertawanya.
"Kibarkan bendera putih, Bestiee." Ruma menimpali.
Mata pelajaran bahasa arab berlangsung. Kala tak fokus meski sudah menghadap papan tulis dengan mata terbuka lebar. Dia mendesis sembari mengentakkan kakinya ke lantai.
"Kenapa, La?"
"Nggak papa."
"Habis hari raya. Enaknya ngomong kurang dua bulan lagi. Kita bakalan pisah, Onni. Terus kalau malem Onni sama siapa? Apa aku harus ngomong sama Pak Abi, ya? Tapi, aku kok masih canggung. Apa aku minta Mela sama Ruma buat nemenin?" pikirnya. Dia menoleh ke belakang sembari menatap Mela dan Ruma yang tidak duduk sebangku.
Ruma bertanya dengan alisnya. Tapi, Kala kembali menghadap papan tulis. Penjelasan guru berlalu seketika itu.
__ADS_1