
Jangan lupa berdoa. Bismillah. 🐱
“Aku mau ngomong aja bentar. Sini, Mbak, ke ruang tengah!”
Kala dan Vey memperhatikan gerak-gerik Nurmaya. Mereka pun menjatuhkan lulut setelah berjarak tiga meter dari tempat Gus Omar duduk di kursi yang sudah ditepikan.
“Nduk, jangan duduk di bawah. Yaya, di atas, Nduk!”
Kala menatap Nurmaya. Heran dengan cara memanggil Gus Omar baru saja.
“Pengen mondok, Mbak?”
Kala terkesiap—tahu dari mana? Nurmaya?
“Dulu pernah ingin mondok.”
“Kalau sekarang masih pengen, mondok sini, Mbak. Masalah biaya dibuat gampang aja. Aku eman, Mbak, kalau ada yang nggak jadi mondok karena mempermasalahkan biaya.”
Kala menatap Vey.
“Kok aku sedih lihat Onni gitu. Aku pengen kuliah. Mungkin ini ujian karena aku udah mantep,” batinnya.
“Bisa masuk kapan saja. Sesiap kamu.”
“Saya ingin kuliah, Gus. Ngapunten.”
Gus Omar mencari tema yang lain. “Aku dengar kalian punya usaha di rumah?”
“Kavey store, Gus. Bisa Gus Omar cek di ig kami. Kavey_store. S tidak besar.” Vey yang menjawab.
Gus Omar membuka smartphone-nya. Langsung menunjukkan ketika dia sudah mem-follow.
“Kalian bisa jahit?”
Vey dan Kala menggeleng bersamaan.
“Seandainya kalian bisa, nanti aku akan jadi langganan tetap kalian jika ada wisuda tahunan. Biasanya butuh banyak selempang. Wisuda pondok, wisuda MA, MI, SDI, MTs. Pernah nyoba atau memang tidak kepikiran ke sana?”
“Terkendala waktu, Gus. Hanya saya dan Kala yang mengerjakan. Dan, kadang pesanannya bisa puluhan. Kami juga hanya berdua. Sengaja memang, kami tidak melibatkan orang lain. Kala juga masih sekolah. Kasihan kalau terlalu membebani dengan urusan kerja.”
Gus Omar mengangguk. Menggerak-gerakkan kakinya.
__ADS_1
“Ya sudah. Semoga berkah urusan kalian ke depan.” Gus Omar bangkit. “Monggo makan dulu!” Dia mengayunkan tangan.
Vey yang membonceng hingga tiba di rumah. Perjalanannya lebih lama karena dia sengaja tak melebihkan tarikan gas di atas lima puluh. Dia membiarkan perjalanan hening tanpa kata-kata. Kala terkantuk-kantuk di belakang sembari memeluk tas.
Vey membuka pintu. Kriek! Pintu terbuka. Dia menengok Kala di belakangnya terus saja menguap sembari mendahului langkahnya masuk rumah.
Sejurus kemudian dia menyembul dari pintu garasi, meminta Vey memasukkan motor. Dia menguap lagi.
"Aku kok hari ini ngantuk banget."
"Aku mau ngomong sama kamu. Bentar." Vey memarkir motornya hingga mepet ke tembok, tepatnya sudut utara.
"Ngomongin apa, Onni?"
"Yang dibilang Gus tadi." Vey melepas sandalnya. Tangannya mengayun, memberi isyarat supaya garasi segera ditutup.
Kala mengerutkan alisnya.
"Kayaknya Onni mau ngomong serius," batinnya.
Dia menyisihkan sandal. Meminggirkan keset, lalu menutup pintu menuju ruang tamu. Dia pun duduk setelah melihat Vey juga terduduk sembari memperhatikan layar handphone. Saat dia sudah membenarkan posisi duduk dan menahan kantuk, Vey tak kunjung mengajaknya bicara.
"Onni mau ngomong apa, sih?"
"Kan, jam segini tutup."
"Iya. Cuma aku baca aja. Centang biru nggak aktif kok."
"Emang pesen berapa?"
"Yang dipesen, sih, souvenir, La. Meskipun kita nggak buka pesenan itu, tapi gampang kali, ya, nyari barangnya. Dia nanya apa kita bisa nerima order souvenir? Kalau bisa, dia mau pesen hampir seribu. Mayan banget, La."
"Terserah Onni. Kalau Onni mampu ya gapapa. Aku ngikut. Selama ini, kan, Onni yang memutuskan. Tapi, seribu itu banyak lo."
"Iya, tapi kalau kita sungguh-sungguh ini mayan banget buat nambah uang pendaftaran kamu kuliah. Tabungan kita juga."
"Ho.oh."
Vey masih kegirangan.
Kala menunggu sebentar. Dia pun mendongak ketika Vey sudah meletakkan handphone di meja.
__ADS_1
"Sudah saatnya kita ngomongin ini, La."
"Apa?"
"Aku minta kita nggak usah baper-baperan. Kita condongkan logika kita. Nggak usah terlalu banyak pakai perasaan. Kamu ngerti, kan?"
"Iya ngerti." Kala mulai menangkap sinyal-sinyal kurang baik di sekitarnya. Tapi, dia harus bisa menahan emosi.
"La, suatu saat, salah satu dari kita harus ada yang keluar dari rumah ini. Aku atau kamu. Kakak nggak menentukan siapa. Tapi, aku pengen denger gimana pendapat kamu?"
Suasana hati Kala pun cepat berubah. Meski Vey melarangnya agar tidak terlalu berperasaan, tapi nyatanya itu tidak bisa ditahan.
"Kemarin aku nanya, Onni bilangnya kita berdua yang akan tinggal di sini. Aku mikirnya apa bisa? Onni jawab bisa. Tapi, Onni gak mau bahas soal ini dulu. Kenapa tiba-tiba nanyain ini? Ini nggak ada kaitannya dengan tadi, kan? Gus Omar nggak menyinggung."
Vey menelan ludah. Sedikit menundukkan wajah, lalu kembali menatap Kala lurus. Sembari sedikit berpikir bagaimana caranya dia menyampaikan kalimatnya.
"Apa kamu pengen tinggal di sini?"
"Pengen. Tapi, aku nggak pengen kalau Onni nggak di sini. Enam tahun kita bareng-bareng. Syarif menawari aku agar nyoba kuliah di Al-Azhar, tapi aku nggak mau. Aku seneng kalau Onni nikah, tapi..." Kala menahan getar suaranya.
Vey tahu. Sangat tahu. Sejak percakapannya sore itu, dia tahu Kala sebetulnya berat hati jika berpisah dengannya suatu saat nanti. Padahal kemungkinannya, dialah yang akan pergi dari rumah, lalu menikah dengan kekasihnya. Dia memikirkan semua itu. Jelas tak mungkin jika dia mengabaikan keadaannya saat ini. Entahlah. Vey sendiri terkadang mendadak bimbang. Kadang seketika yakin. Saat kebersamaannya bersama Kala memenuhi ruang ingatan, seakan-akan keinginannya berhenti pada ingatan itu.
Meski benar belum ada kepastian bahwa dirinyalah yang akan tinggal bersama suaminya nanti, tapi Vey pun mengerti keinginan kekasihnya. Kalaupun kelak dia yang akan benar-benar pergi, dia pun rela sepenuhnya menyerahkan semua kendali bisnisnya pada Kala.
Saat Kala berbicara dengan Syarif siang itu, lalu Syarif memberikannya syarat supaya Vey segera menikah, dia merasa itu adalah ide yang cukup sesuai. Tapi, malam ini rasanya sangat berbeda. Dia menangkap gelagat yang tidak biasa dari Vey.
"Onni, aku menikah masih lama. Aku harus kuliah empat tahun. Kalau pun Onni nikah, Onni apa mungkin meninggalkan aku di sini sendirian?"
Vey terkesiap. Dia kembali berpikir akan membicarakan masalah ini dengan kekasihnya. Setidaknya agar ada kepastian. Lalu, dia akan menghadap Paman Gani untuk meminta pendapat padanya.
"Jika kemungkinan buruknya kita akan berpisah, Onni akan pergi dari sini setelah aku menemukan jodohku. Bukannya begitu, Onni?"
"Kamu benar, La. Seperti yang aku pikirkan," batin Vey.
"Sebaiknya kita tidur aja. Udah malem."
"Onni, kita ngobrolnya belum selesai."
"Kakak hanya berpikir, kita mungkin tidak akan bisa tinggal berdua, La." Vey bangkit. "Moga aja pesenan souvenir-nya jadi. Biar kamu kuliahnya gampang. Syukur kalau nanti kamu bisa ikut jalur bidikmisi." Vey ke kamarnya.
Tapi, Kala masih terduduk di posisinya.
__ADS_1
"Ya Allah, aku seneng Onni cepet nikah. Tapi, kalau dengan pernikahan Onni, kita akan berpisah jujur aku masih berat. Lagipula nikahku, kan, masih lama. Sama siapa juga," batin Kala.
Terbayanglah sosok Abimana.