
"Bisa?"
"Ya bisa."
"Sorry, aku nggak ikut. Ada acara di rumah. Ibukku nyuruh aku langsung pulang."
"Iya gapapa."
"Eh, iya kalian kenapa nggak ngomong kalau Syarif ke Jogja? Kok lama banget?"
"Ya kupikir kamu udah ngerti. La, aku khawatir Syarif pindah sekolah." Ruma yang berkata.
"Udah mau lulus kok pindah? Dia bilangnya nggak pindah kok."
"Aku curiga aja. Soalnya dia itu pas tahu kamu mau nikah kaya badmood banget gitu lo, La," jelas Ruma. Tak sadar bahwa ada teman-teman yang ikut menyimak.
Kala memukul paha Ruma cukup keras. "Ssssttttttt. Jangan keras-keras," bisiknya mencicit.
Sontak Ruma meringis. "Nggak sengaja. Sorry sorry," balas Ruma lebih lirih. Lalu, menoleh kanan kiri.
"Hih, jangan nguping kalian." Dia meminta anak-anak yang lain tidak bergerumbul di bangku belakangnya.
"Dari tadi kita di sini, yaaaa." Yang diminta bersungut-sungut.
Bel berbunyi. Seluruh siswa mengaji rutin, pembuka kegiatan belajar mengajar. Hanya lima belas menit, dipimpin salah satu murid dari ekstrakurikuler tilawah di ruang guru. Guru tafsir pun datang. Memutus percakapan mereka bertiga. Semua siswa duduk di bangkunya masing-masing, menghadap Alquran masing-masing.
Pelajaran berlangsung hingga pukul setengah dua siang. Sesuai janji, Ruma akan menemani Kala ke pesantren. Sedangkan, Mela sudah pamit pulang terlebih dahulu karena ibunya sudah menelepon.
"La, emang mau ngapain? Mau ketemu casu?"
"Nggaklah. Mau nemuin Yaya."
"Nggak bisa kapan-kapan aja?"
"Aku pengen cepet nemuin dia, Rum."
"Tapi, kamu nggak pusing atau gimana, kan? Aku khawatir lo ini. Nanti kalau kamu sampai di sana pingsan, aku bisa dimarahin casumu nggak mau aku."
"Rum, nggak usah lebai ngomong casu...casu. Nggak suka aku. Jadi nganterin nggak?"
"Iya jadi."
Karena tidak tega, Ruma betul-betul mengantarkan Kala hingga ke pesantren.
Tepat di depan gerbang, Kala dan Ruma berpapasan dengan mobil silver yang hendak keluar. Kaca mobil itu seketika dibuka. Pemiliknya langsung keluar menghampiri.
"Casumu itu, La." Ruma menyenggol lengan Kala.
Sontak Kala menghindari tatapan mata.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Mboten, Gus. Saya itu...mau menemui Nurmaya saja."
Gus Omar memandangi Kala sebentar. Seperti memastikan apa keadaan Kala sudah benar baik-baik saja.
"Ke sini berdua?"
"Nggeh. Tadi dibantu Rumaisya."
"Suwun, ya." Gus Omar menatap Ruma sekejap, lalu kembali memandang Kala. "Ya sudah kamu ke ndalem makan siang dulu. Nurmaya ada di sana. Aku mau ke Magelang."
Kala mengangguk.
Lantas tak sengaja Gus Omar menatap tangan Kala. Bertanya dalam hati, kenapa cincin itu tidak ada di sana. Namun, dia tak berusaha menyinggungnya. Dia kembali ke mobil.
"Gus Omar kalau diperhatikan lama-lama kok ganteng, ya, La." Ruma senyum-senyum.
"Yalah. Dia, kan, lakik."
Kala tak menyadari jika Gus Omar mempertanyakan di mana cincinnya. Dia pun tak sampai berpikir panjang akan dipertanyakan.
Baru beberapa langkah setelah memarkir sepeda, Kala tak sengaja melihat ke arah kiri. Seseorang keluar dari ruang kelas, lalu menuruni anak tangga. Pandangan itu lekas menubruk matanya.
"Pak Abi?" batin Kala.
Kala berpura-pura tidak melihat. Dia mendorong Ruma supaya tidak terus-terusan menatap Abimana.
"Kala?" Sayang sekali Abimana malah memanggil.
"Kala, sebentar. Aku nitip pesan."
Kala menunggu.
"Kamu kasih tahu Vey. Orderan souvenir uang kataku di rumah sakit waktu itu, nambah lima puluh lagi. Beberapa hari lagi katanya mau dilunasi uangnya."
"Harusnya ngomong aja langsung ke Onni, kan?" batinnya.
"Pemesannya bisa ngontak Onni langsung, Pak. Daripada lewat perantara seperti ini. Kurang efektif."
"Tidak apa-apa. Mbakmu sudah tahu."
"Pak Abi itu sebenernya serius nggak, sih, dengan Onni?" batinnya lagi. Pada akhirnya pertanyaan itu hanya tersimpan. Mana mungkin Kala seterbuka itu menanyakan perasaan pada Abimana.
Abimana pamit pergi.
Walaupun Gus Omar menyuruh makan siang, Kala dan Ruma enggan menuruti. Malu jika diperhatikan santri lainnya. Kala sendiri tidak berinisiatif tinggal lama-lama. Mereka berdua hanya kemudian meminta Nurmaya untuk menyediakan waktu sepuluh menit saja. Di bingkai pintu, mereka menunggu Nurmaya menyelesaikan cucian piring.
Namun, ternyata Nurmaya tak bersedia jika ada Ruma yang mendengarkan percakapannya dengan Kala. Kala mengerti gelagat itu, lalu meminta Ruma supaya menunggu di koperasi pesantren yang masih buka.
"Aku cuma mau memberi kamu ini, Ya. Tolong diterima, ya."
"Dalam rangka apa?"
__ADS_1
"Kamu jangan merasa gimana-gimana, ya."
"Kamu nggak perlu sampai seperti ini, La." Nurmaya berkata demikian walau sebetulnya dia sangat membutuhkan barang pemberian Kala.
"Ya, kalau kamu buruh bantuan apa pun, selagi aku bisa aku pasti bantu kamu."
Nurmaya bergeming.
"Aku juga minta maaf. Banget, Ya."
"Kamu udah ngerti?"
"Iya. Aku minta maaf banget. Beneran aku minta maaf." Melihat pakaian Nurmaya yang sangat sederhana, kucel tak disetrika, wajah yang berminyak, dan ditambah air muka yang melas, membuat Kala sangat iba.
"Akhirnya kamu mondok juga, La. Ya aku pasti seneng kok. Seperti yang aku kata dulu. Kita bakalan lebih sering ketemu."
"Manipulasi macam apa ini, Ya? Aku ngerti banget rasanya jadi kamu," batin Kala.
"Mukenanya kamu pakai, ya. Bagus itu." Kala menyelimur.
Sudah berat menjadi santri pengabdi. Belum lagi ditambah kesakitan yang Nurmaya rasakan sekarang.
"Aku cuma minta satu hal aja."
"Apa, Ya?"
"Jangan biarkan ada orang yang tahu. Biarkan ini selamanya menjadi rahasia. Rasanya aku yang tak pantas. Aku yang keliru. Tak bisa membedakan mana pengabdian dan bukan."
"Ya, aku akan berusaha membantumu jika kamu perlu apa-apa."
"Masih ada lagi, Kala? Maaf aku sedang membuatkan makan siang Abah dan Gus Omar." Lalu, Nurmaya memberikan secarik kertas yang tidak terlipat rapi kepada Kala.
"Sebetulnya semalam aku ingin memberikan ini. Syukur karena hari ini kamu datang. Seperti rencana semula, aku berikan kertas ini agar kamu tahu semuanya. Sesuatu yang harus kamu tahu."
"Apa?" Kala menerima kertas itu.
"Bacalah di rumah nanti."
"Makasih, Ya. Aku minta maaf."
"Iya, Kala."
Dari tatapan itu, Kala tidak sepenuhnya yakin permintaan maafnya dapat diterima dengan kelapangan dada. Namun, dia amat yakin bahwa Nurmaya ialah kawan yang sangat baik. Dari cara Nurmaya menatapnya saat memberikan kertas itu tadi, dia menangkap sinyal ketulusan di kedua bola mata Nurmaya. Dia memperhatikan Nurmaya sampai tak terlihat tubuhnya.
Sembari berjalan, Kala mencoba menebak apa isi surat itu. Sampai tak sadar dia hampir menabrak santri putra yang berjalan sama tak fokusnya.
"La, aku kebelet pipis. Ayo pulang sekarang!"
Selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan ke-14 esok hari.. Semangat dan semoga lancar. Barakah. Bisa menjadi tabungan amal di surga nanti. Aamiin. 😊😊😊❤️🙏
Terima kasih sudah membantu popularitas karya ini. Terima kasih atas semua dukungan. Wabil khusus teruntuk yang berkenan mempromosikan karya-karya selama ini. 🤗🤗🤗🙏🙏
__ADS_1