Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 42 "Sembiluan"


__ADS_3

Keesokan hari. Nurmaya datang ke rumah sakit dengan masakan rasa cinta yang telah diletakkan dalam satu rantang. Hanya saja bukan dia yang memberikan, tapi Ning Bulqis. Dia menunggu di luar ruangan karena di dalam ada Gus Omar, Ning Bulqis, dan Gus Asri.


"Yusuf dijemput pok o, Dek!"


Yusuf adalah anak bungsu abah sepuh.


"Nggak usah, Mbak. Biarkan saja di pondok. Malah nggak fokus belajar kalau tahu Abah sakit begini."


"Masak malah nggak dikasih tahu sama sekali."


"Dikasih tahu besok kalau Abah kondisinya sudah membaik."


"Memang kata dokter gimana?"


"Alhamdulillah sudah lumayan." Gus Omar menoleh ke meja. "Ini masakan Nurmaya?"


"Iya. Pesen?"


Gus Omar duduk seraya mengangguk.


"Mandio dulu. Mbak yang jaga."


"Nggak. Aku pengen makan dulu."


Nurmaya melihat keduanya tengah memakan masakannya dengan lahap. Sedangkan, Gus Asri tengah menunaikan salat duha.


"Apakah karena aku ini abdi ndalem?"


Pulanglah dia ke pesantren bersama kang santri. Dia mendapatkan amanat agar tak perlu lagi datang ke rumah sakit. Dia menurut.


Di tengah jalan, dia mendapat beberapa orang yang dia kanal menuju ke arah gerbang pesantren.


"Mereka?" Dia membuka kaca mobil seketika.


"Kang, aku turun di gerbang saja, nggeh, Kang."


"Iya, Mbak Ya."


Dia turun di depan pesantren. Menatap mobil itu memutar balik, ke rumah sakit lagi.


Tak lama kemudian, dia melambai-lambai.


"Yaya ngapain kamu di depan?" Kala bertanya sebelum turun dari motor.


"Motornya diparkir di dalam aja, La. Kamu ramai-ramai gini, La?"


"Nggak apa-apa. Mela sama Ruma pengen tahu isinya pesantren katanya. Kali aja dia terpikat sama kang santri. Iya nggak, Mel?" Kala menoleh ke samping kiri.


"Yok.i. Santri biasanya kalem. Cocoklah sama gue yang bar-bar." Dia tergelak sendiri.

__ADS_1


Motor diparkir di tempat parkir khusus tamu.


"Kita ke mana, nih?"


"Ikut aja aku, La. Mela katanya pengen tahu isi pondok kan?"


Mela terbelalak. "Ke pondok putra, ya?"


Kontan Kala memukulnya. "Nggak mungkinlah. Emang kamu kira kos-kosan."


Mela terpana melihat para santri yang berpakaian rapi dengan style sarungan. Dia mengira hanya anak laki-laki yang bersarung, tapi ternyata di pesantren putri Mahbubah ini dia bisa melihat pemandangan tak biasa.


"Pantesan ya kamu pas ke sekolah sarungan." Mela menatap Nurmaya. Yang ditatap tersenyum.


Nurmaya meminta mereka bertiga menunggu sekejap di ruang sambangan santri. Dia berjingkat-jingkat ke kamarnya. Lalu, kembali membawakan seceret minuman serbuk rasa jeruk dan beberapa bungkus biskuit milik kamarnya.


"Kok dibawa ke sini semua?"


Nurmaya duduk. "Daripada tidak ada yang makan, La." Dia membuka bungkus itu. Menyuruh mereka bertiga segera mengicipinya.


"Aku mau ngasih tahu kamu, Ya. Soalnya kamu santri sini. Tujuanku ke sini juga karena pengen share cerita itu."


Air muka Mela, Ruma, dan Nurmaya pun berubah penasaran. Sembari pelan-pelan memasukkan makanan ke mulut, Mela dan Nurmaya menyimak.


"Kok aku kepo," gumam Ruma.


Deg! Desir pelan tiba-tiba menyerang ulu hatinya. Dia mengangguk.


"Tahu siapa perempuan itu?"


Dengan lantangnya Mela menebak, "Kamu ya, La?"


Ruma pun demikian. "Kamu dijodohin sama Gus Omar?" Suaranya malah lebih lantang. Menyeret perhatian pandangan santri-santri yang tidak sengaja lewat.


Sementara, Nurmaya berusaha memperbaiki mimik wajahnya yang mulai terasa berubah. Menarik garis senyum bibir yang mengendur.


"Dengerin aku dulu. Malu tahu didengar mbak-mbak. Issshhhh." Kala menghalau Mela dan Ruma agar tidak sembarangan berbicara lagi.


"Yaya, yang mau dijodohkan itu Onni-ku. Onni, Ya."


"Onni Vey?" teriak Mela dan Ruma bersamaan.


"Jangan keras-keras, Mel, Rum." Kala memukul paha Mela.


"Gus Omar orangnya kaya apa, sih, Ya? Aku pengen denger sejelas-jelasnya."


"Orang paling baik yang pernah aku kenal, La. Juga baik ke semua orang. Itu cukup untuk mewakili gimana beliau." Walau sebetulnya rasanya begitu perih, tapi dia tak ingin mereka bertiga bisa menelisik perasaannya yang sesungguhnya.


"Memang ceritanya bagaimana?"

__ADS_1


Hanya demi mendengar cerita itu, Nurmaya harus menahan semua kesedihan yang datang menggeropyok tiba-tiba. Kuat tidak kuat dia harus mengetahui bagaimana cerita yang sesungguhnya. Dan, sungguh cerita itu di luar ekspektasinya. Lantas dia bertanya, kenapa yang tidak mengharapkan justru mendapatkan kesempatan? Kenapa yang begitu dekat mempersembahkan cinta malah terbaikan?


"Memangnya Mbak Vey itu orangnya gimana, Kala?"


"Yang seperti yang kamu lihat kemarin."


"Perempuan mandiri maksudmu?"


Mela dan Ruma sementara masih menyimak seraya memakan biskuit, lalu sesekali menuangkan air dari ceret.


"Onni jauh lebih mandiri yang kamu lihat."


"Tapi, apakah penyebabnya hanya itu? Kenapa Gus Omar begitu mudah menerima tawaran perkenalan itu? Setahuku tak mudah untuk meraih hati beliau," batin Nurmaya. Dia menahan pertanyaan selanjutnya. Tapi, dia berharap Kala akan menceritakannya walau dia tidak bertanya.


"Terus kamu itu susahnya karena?"


Kala menatap Ruma. "Rum, apa kamu pikir gampang memutuskan perkara sebesar itu."


"Kan belum tentu jodoh juga," tanggap Ruma polos.


"Betul juga." Nurmaya menambahi.


"Ya siapa tahu Gus Omar cuma pengen menghargai tawaran orang. Beliau mikir juga gitu kali...jodoh tidak akan tertukar. Wkwkwkwkw."


"Mel, Mel..." Kala berdecak. Tak mungkin dia menceritakan masalah Vey yang sebetulnya.


"Gus Omar sekarang masih sibuk merawat Abah sepuh. Sakit. Jadi, mungkin pertemuan itu masih lama. Aku sarankan salat istikharah aja."


"Onni sudah pernah dikasih saran begitu sama Paman."


Mereka bertiga pulang, tapi Nurmaya masih termangu di tempat hingga Abimana memanggilnya dari gerbang pondok putri.


"Kenapa, Kang?"


"Aku mau ngomong penting." Abimana melambai. Dia menunjukkan sehelai kertas yang ada di genggamannya.


Nurmaya mengerutkan alis. Beranjak mendekati. Lalu, menerima kertas itu dan menyembunyikannya. Hanya beberapa detik dia mendekat, lalu segera menyisih. Abimana juga langsung pergi atau Nurmaya akan mendapatkan hukuman dari pengurus keamanan putri.


Agar tidak diketahui siapa pun, Nurmaya pergi ke kamar mandi. Hanya demi membaca pesan itu.


Yaya, aku tahu Gus Omar akan tetap membujukmu. Kita harus bisa kerjasama. Aku tahu kamu tidak menyukaiku karena kamu menyukai Gus Omar. Aku minta tolong kamu bisa tegas menolak. Kamu tidak masalah menyuarakan ketidaksiapanmu. Nggak usah sungkan. Kamu hanya perlu mencari kalimat yang sopan. Aku yakin kamu bisa. Maaf, Yaya.


"Masak Kang Abi ngerti aku suka Gus Omar? Ya Allah, gimana ini. Malu banget. Ya Allah." Dia menggigit bibir. Kakinya berdebum ke lantai.


"Kok bisa tahu? Kok bisa. Padahal, kita baru kenal dekat ya baru kok. Kang Abi kelihatannya juga cuek begitu. Kok malah Kang Abi yang paham duluan."


Dia merobek kertas itu sebelum membuangnya ke tempat sampah.


Terima kasih sudah menunggu. Terima kasih untuk doa-doa terbaiknya. Terima kasih untuk prasangka baiknya. Soal Kafil insyaallah dibahas di eps selanjutnya.. 🤗🤗🤗🙏🙏😅❤️❤️🥀

__ADS_1


__ADS_2