
Jangan lupa berdoa. Bismillah...
Selamat membaca. ❤️
"Kenapa aku baru sadar? Onni saja bisa langsung ngerti. Kenapa aku enggak? Singkatan GSO itu artinya Gus Sayyid Omar. Itu artinya aku sama seperti Onni. Melukai perasaan seseorang tanpa sengaja. Aku ngerti banget gimana perasaanmu, Ya. Tapi, lukamu pasti jauh lebih besar daripada yang aku rasakan. Kamu melihat langsung orang yang kamu harapkan memberikan penanda di jariku. Itu pasti sakit banget, Ya. Maafin. Sekali lagi maafkan aku, Ya. Yaya, gimana caranya aku menebus kesalahan ini? Aku tak memintamu untuk ngerti. Karena untuk mengerti pun akan menyayat luka. Apalagi, untuk mengikhlaskan. Yaya, maafin aku, Ya. Aku nggak tahu perasaan kamu," batin Kala seraya meneteskan air mata. Dia melepaskan cincin itu, lalu menyimpannya di laci.
Dia bangun. Bangkit untuk memeriksa stok jajan untuk pemesanan buket. Malam-malam begini dia kepikiran ingin memberikan buket jajan untuk Nurmaya. Besok pulang sekolah, dia akan mengantarkannya sendiri. Bahkan, dia juga membungkuskan satu buah mukena terusan. Meski dia tak akan tahu bagaimana respons Nurmaya setelah menerima pemberiannya, tapi setidaknya dia berusaha untuk menyenangkan Nurmaya dengan cara lain. Buket dan mukena itu selesai di-packing setelah satu jam kemudian. Sampai tak terasa sudah setengah satu malam.
Esok harinya.
Usai memasak lodeh lauk tahu tempe, Kala bersiap ke sekolah. Dia membiarkan Vey sarapan sendirian di meja, sementara dia agak terburu-buru karena takut terlambat.
"Kalau bangun agak kesiangan, mending nggak usah masak lodeh. Masak lodeh, kan, agak lama. Tumben-tumbenan juga."
Kala mengambil tasnya. Mengabaikan perkataan Vey. Lalu, dia duduk di meja makan usai memakai kerudungnya.
"Pengen," jawabnya.
Vey menggeser piring yang sudah terisi nasi ke arah Kala. Kala pun langsung menumpahinya dengan seirus sayur lodeh itu dan mengambil dua lauk tempe. Melahapnya agak cepat.
"Nggak usah buru-buru," kata Vey sembari menuangkan air putih ke gelas. Lalu, menggesernya ke arah Kala lagi.
"La, karena sebentar lagi kamu bakalan nikah, aku rekrut partner kerja, ya? Gapapa, kan? Aku sudah ngrencanain ini kapan hari. Baru aku omongin setelah kamu ada ikatan jelas dengan Gus Omar. Aku niat pengen ngembangin usaha. Aku, kan, nggak ada temennya habis kamu nikah. Kamu diboyong ke pesantren."
Melihat Kala sudah lebih mampu menerima perjodohannya, itu membuat Vey bersedih sekaligus senang. Dia menyadari bahwa setelah itu dia akan sendirian di rumah. Meneruskan usahanya seorang diri.
"Pak Abi?"
Vey terdiam. Memainkan sendok.
"Aku nggak tahu. Aku cuma ngomong kita nggak perlu ada komitmen. Nggak usah bahas dia ajalah, La. Ngapain. Kamu pulang jam berapa nanti?"
"Aku pengen ke pondok lagi. Mau ngasih sesuatu ke Nurmaya."
"Mukena sama buket yang kamu packing semalam?"
"He.em."
"La, kamu nyadar nggak?"
"Apa?"
"Antara aku, kamu, dan Nurmaya."
"Oh...itu...ya aku minta maaf, Onni. Secara nggak langsung aku juga udah nyakitin dia."
"It's oke. Lagipula ini juga bukan maunya kita, kan? Aku mau nyari empat partner. Lima boleh, sih. Mau aku tambahin jasa desain pakek flowers paper. Kamu kasih temen-temen kamu siapa tahu minat. Kerjanya pas butuh aja. Cuma ya bisa siap kapan aja. Yang dua orang itu bisa part time. Karena nggak mungkin mereka tidur di sini. Kalau kamu, kan, bisa lembur nemenin aku sampek malem, La."
__ADS_1
"Jadi butuh berapa?"
"Kalau lima bisa, ya lima itu aja."
"Aku usahakan dulu. Nanti aku minta bantuan Mela sama Ruma sekalian."
"Oke." Vey tak sengaja memperhatikan tangan Kala. "Eh, itu di mana cincinmu?"
"Mmm...ini?...aku lepas. Malu dilihatin temen-temen?"
"Emang segitunya temenmu bakalan memperhatikan tangan kamu?"
"Ya jaga-jaga, Onni?"
"Menurutku, sih, nggaklah kalau mereka bakalan ngira kamu tunangan. Lagipula itu nggak kelihatan kaya cincin peningset pada umumnya."
"Ya sebetulnya gitu. Yang langsung paham paling Mela sama Ruma aja. Moga aja Syarif nggak tahu."
"Emang kenapa? Ada sesuatu?"
"Enggak juga. Tapi, ya gimana, ya...rasanya nggak enak gitu aja lo, Onni. Ya udahlah aku berangkat dulu."
Kala berangkat. Mengeluarkan sepedanya. Meletakkan barang-barangnya di keranjang.
"Hape baru sudah dipakai belum?" kata Vey agak lebih lantang.
"La, Kala. Gimana, ya, kalau kamu udah nggak tinggal di sini? Padahal rencananya aku yang mau nikah duluan terus tinggal dengan Kafil. Tapi, kayaknya Tuhan lebih suka aku begini." Vey meratap tiba-tiba. Yang ada di bayangannya sekarang adalah nanti dirinya akan tinggal sendiri. Entah sampai kapan.
***
Begitu tiba di depan sekolah, Kala menitipkan barangnya ke pos satpam.
"Pak, nitip barangnya, ya."
"Siap, Cah Ayu."
Kala buru-buru berlari sembari menuntun sepedanya sampai ke belokan parkiran.
"Bocah kok ayu menik-menik, sopan, pinter juga," gumam satpam itu.
Dengan melepas cincin itu, Kala merasa lebih percaya diri. Tak akan yang tahu bahwa ternyata dirinya telah diikat menjadi calon istri anak kiai. Dia berjalan melewati deretan kelas sepuluh. Lalu, tak sengaja berpapasan dengan Bu Maria.
"Bu Maria?" Kala menyerongkan langkahnya. Agak berlari mendekati.
Bu Maria mencipta senyum. Mengangsurkan tangan yang kemudian dikecup punggungnya oleh Kala.
"Selamat, Kala. Kamu sudah sehat?"
__ADS_1
Kala tak jadi tersenyum lebar.
Bu Maria kontan memegang pipi Kala. "Nggak apa-apa. Kamu pantes kok. Yang rajin ngajinya, ya, supaya tambah mutqin."
"Alhamdulillah, Bu. Bu Maria tahu dari mana, Bu?"
"Suami."
"Ooh...begitu, ya, Bu." Dari situ dia mulai khawatir teman-temannya yang lain ada yang mengetahui peristiwa semalam.
"Semangat pokoknya. Kapan?"
"Sebelum wisuda, Bu. Insyaallah. Belum pasti tanggalnya. Tapi, sesuai keinginan Abah sepuh seperti itu. Pernikahannya tidak perlu ditunda terlalu lama. Setidaknya sampai semua urusan sekolah saya sudah rampung."
"Masih ada waktu beberapa bulan." Bu Maria tersenyum lagi. Bermaksud tak membuat Kala meresahkan masa depannya.
"Bu, saya minta tolong." Wajahnya memelas.
"Teman-teman jangan ada yang sampai tahu, ya, Bu."
"Iya. Pasti Ibu akan merahasiakan itu."
"Terima kasih, Bu."
"Cepetan masuk, gih! Sebentar lagi bel."
Di kelas.
Mela dan Ruma langsung menyambutnya dengan tatapan tergesa-gesa. Keduanya mendekati Kala begitu Kala duduk di kursinya.
"Kenapa?"
"Kamu udah sehat beneran?"
"Ya alhamdulillah. Aku udah lepas perban."
"Naik sepeda?"
"Iya."
"Ih, gimana to kamu itu. Harusnya diantar Onni apa gimana gitu." Ruma memarahi.
"Nggak usahlah. Ngrepotin orang. Nanti pulang sekolah aku mau ke pesantren."
"Sendirian?" tanya Mela.
"Kalian mau nemenin?"
__ADS_1
"Aku hari ini bawa motor, sih. Jauh lo, La. Nanti aku gandol, ya?" Ruma menawari.