Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 85 "Firasat"


__ADS_3

Jangan lupa berdoa. Bismillah. 😊


Seperti biasa. Lantai berserakan. Dalam satu bulan sejak H-2 lebaran, satu per satu job dekorasi paper flowers mulai berdatangan. Dan, dalam satu bulan ini pun, ada tiga tempat yang sudah mem-booking tanggal. Jadi, wajar jika beberapa hari terakhir Vey yang kini tinggal sendirian, tak sanggup mengurusi rumah yang kian berantakan. Malah, biasanya Budhe Atun yang sengaja datang untuk membantu atau partner Vey yang rela membantu bersih-bersih tanpa diminta.


"La, aku belum masak. Nanti kamu yang masak, ya," ujar Vey.


Empat orang disebelahnya otomatis menoleh.


Ruma menepuk lengan Mela. "Mel, kamu disuruh masak itu lo," bisiknya.


"Bukan Mela. Kala maksudku," ucap Vey kembali.


"Kak Vey, ini yang ada Mela. Kala di pesantren, kan?"


Gerak tangan Vey berhenti. "Oo, iya. Sorry sorry aku lupa. Ya gimana, ya. Biasanya berdua tiap hari." Dia menertawakan dirinya sendiri. Menggeleng-geleng.


Mela dan Ruma saling menatap. Belas.


"Aku kok mendadak nggak enak hati gimana ini. Kalian begitu nggak?"


Mela dan Ruma menggeleng.


"Tiba-tiba rasanya."


"Coba aku telepon Kala, ya, Kak. Bentar." Ruma merogoh ponselnya.


Berdering.


📞"Kala?"


📞"Assalamualaikum, hei, Rum? Ada apa?"


📞"Waalaikumsalam. Are you okay?"


📞"Ya. Aku fine. Betewe kenapa ini? Ada yang salah, ya?"


📞"Beneran kamu baik-baik aja?"


📞"Iya kok. Kamu sama Onni?"


📞"Iya. Mau ngomong?"

__ADS_1


📞"Nggak, ah. Takut ganggu. Kalian pasti sibuk. Jagain Onni, ya, Rum. Udah dulu, ya. Aku lagi di kamar sama Abah. Nggak enak didengar lagi teleponan begini."


📞"Oke."


Sembari meletakkan handphone, Ruma berkata, "Kala baik-baik saja kok."


"Ya mungkin perasaan aku aja. Agak berlebihan hari ini."


"Ditinggal kerja mungkin nanti mendingan," kata Mela.


Mereka melanjutkan kerja. Mela dan Ruma pamit pulang karena sudah terlalu sore. Hampir pukul lima sore. Dua partner masih tinggal menyelesaikan dua kelopak bunga yang hampir selesai. Tak berselang lama, Niar uluk salam dengan lantang dari pintu depan.


"Iya masuk aja. Langsung ke belakang," teriak Vey.


"Aku masuk, ya, Mbak Na," balas teriak.


"Mbak Nana?" Niar memperlihatkan wajah semringahnya.


"Bawa apa itu?"


"Aku bawa roti tawar, banyos, sama cilot. Makan bentar, yuk, Mbak."


"Itu piringnya ambil sendiri, Niar."


Niar membuka plastik cilotnya, lalu meminta semuanya untuk mencicipi.


Istirahat sejenak, kecuali Vey yang hanya mencicipi beberapa sunduk saja.


"Kok perasaanku makin nggak enak kenapa ini?" batin Vey.


"Mbak Na, aku malam ini mau nginep. Aku dah pamitan ke Ayah. Boleh."


Vey tak merespons.


Magrib.


Tinggallah kini, Vey dan Niar. Ba'da isya nanti, dua partner Vey yang tadi belum bisa hadir sejak siang akan datang.


***


Abimana dan Nurmaya pergi selepas zuhur. Berniat sowan ke Kiai Aminudin dari Pesantren Kalimosodo, Situbondo. Hitung-hitung sebagai penggantinya bulan madu. Rencananya mendadak. Dua hari setelah menikah, Abimana mengajak Nurmaya untuk sowan sekaligus meminta doa restu agar pembangunan lanjutan LBB Najah semakin lancar dan barakah untuk ke depannya.

__ADS_1


Kebetulan pesantren itu berada di daerah puncak. Dataran tinggi dengan kisaran 1223 mdpl. Pesantren Kalimosodo berada di desa Tlogosari, tepatnya. Masuk wilayah kecamatan Sumber Malang. Untuk menuju ke sana, yang semakin dekat dengan daerah sekitarnya, pengendara akan melewati jalanan terjal. Aksesnya memang sulit. Diapit oleh lahan kopi yang luas. Namun, sebelum itu kendaraan harus melewati jalan aspal dengan lebar tiga meter, yang suasananya seperti berada di wilayah hutan--wilayah perkampungan.


Kendaraan melaju pelan di jalan aspal. Jika menoleh ke bawah, akan ada beberapa rumah yang datarannya lebih rendah dari aspal tersebut.


"Kita salat dulu. Tadi di depan katanya ada masjid."


Mobil berhenti di depan masjid yang berada tepat di tikungan, kanan jalan. Abimana dan Nurmaya salat berjamaah tanpa warga karena waktu sudah terlalu sore, lima kurang seperempat.


Lanjut perjalanan. Kendaraan tetap melaju pelan seperti sedia sebelumnya. Menghindari jika ada kendaraan lain dari arah berlawanan. Jalanan senantiasa sepi. Lantas membuat kendaraan berani untuk berpacu lebih cepat. Pada akhirnya mobil bisa melaju lancar sekitar tiga ratus meter.


Tak berselang lama ada motor melaju agak cepat dari depan cukup mengangetkan. Pengendaranya kelebihan muatan pakan di belakang--masih remaja. Naasnya, kendaraan yang dalam posisi terlalu menengah, tiba-tiba melaju tak terkendalikan ketika belok di tikungan yang cukup melengkung. Abimana berniat menghindari, tapi mobil justru terperosok ke kanan, di kedalaman kurang lebih lima meter. Sementara, pengendara tersebut menubruk pohon. Kepala terbentur batangnya. Lirih meminta pertolongan.


Sekitar lima menit, satu orang yang lewat dengan gerobak, terpaksa berhenti. Lalu, melihat ke jurang setelah pengendara motor yang masih sadar memberitahu.


"Tulung, tulung! Tuluuuung. Ada kecelakaan. Ada kecelakaan."


Di bawah sana, mobil dalam posisi terjungkal. Abimana dan Nurmaya sudah tidak sadarkan diri.


Dan...


Nurmaya pun mengerjap. Dadanya bertabuh tak keruan. Dia menoleh, melihat Abimana masih utuh di sampingnya. Mimpi yang rasanya seperti nyata.


"Hati-hati, Kang!" katanya lirih.


Dan...


Gubraaaak!


Pyarrr!


Boom!


Suara klakson bertautan. Mobil kanan kiri mendadak berhenti. Macet seketika sehingga sepanjang setengah kilo. Beberapa orang langsung turun memperjelas keadaan. Kecelakaan maut antara mobil dengan bus telah terjadi. Mobil rusak parah. Kaca depan dan belakang pecah. Separuh badan mobil telah remuk terhantam bus yang melaju kencang.


Karena mobil sempat terseret tak terkendali hingga sepuluh meter hingga menghantam tiang listrik, penumpang perempuannya terluka parah meski tak sampai keluar dari pintu. Begitu pula sopirnya, berdarah-darah wajah dan lengannya. Hanya saja tubuhnya telah terlempar ke luar, satu meter dari posisi mobil berhenti. Kaki kanannya remuk. Namun, sopir itu masih sempat membuka matanya. Melantukan lafal-lafal tasbih lirih.


Orang-orang yang berada di warung bergerumun keluar. Tak ada yang berani mendekat, kecuali hanya mereka yang berani menatap korban kecelakaan dari dekat.


"Ambulan, ambulan. Siapa yang bisa panggil ambulan?" teriak seseorang.


"Ambulan perjalanan ke sini."

__ADS_1


Ada salah seorang yang kemudian menutupi tubuh korban dengan koran supaya tidak menjadi bahan penghilatan para pengguna jalan.


Dua korban itu lantas dibawa ke rumah sakit. Sirine ambulan menguing-uing lantang. Melaju dengan kecepatan maksimal. Menerobos beberapa perempatan. Tersebarlah kronologi kejadian kecelakaannya. Beritanya lantas tersiar.


__ADS_2