Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 16 ”Hati yang Tak Sama”


__ADS_3

Jangan lupa berdoa. Bismillah 😃😃


Selain mengajar di Yayasan Pesantren Mahbubah, Abimana juga membuka tempat les privat yang dinamainya LBB Najah. Baru berdiri setahun lalu setelah dia sukses mengumpulkan dana sekitar 500 juta. Masih banyak kekurangan, tapi setidaknya tempat itu sudah layak digunakan untuk bernaung para murid yang berminat mendalami bahasa arab. Murid LBB Najah sampai sejauh ini sudah mencapai 32 anak yang terbagi menjadi tiga kelas, dasar, lanjutan, pro. Dan, tentu saja dia sebagai penanggung jawab LBB itu, bertugas memegang semua kendali aktivitas semua guru LBB—saat ini ada empat guru yang berhasil direkrut dan memenuhi semua kualifikasi yang distandartkan, sedangkan tiga lainnya adalah kawan seperjuangannya kuliah di Al-Azhar dulu.


Selain mengurusi LBB Najah, sudah dua tahun yang lalu sejak dia lulus pascasarjana, dia juga fokus mengembangkan warung makanannya. Awalnya hanya warung sayur di teras rumah yang dijual oleh ibunya. Itupun tak banyak. Tapi, setelah dia mencoba membuka flayer catering yang disebar di media sosial, peminatnya kini sudah semakin lumayan. Selain sudah mendirikan gerainya di dekat rumah—berjarak sekitar dua ratus meter dari rumah—dia menerima pesanan hajatan, aqiqah, prasmanan pernikahan, dan lain sebagainya. Dan, juga telah mempekerjakan enam orang tetangga dimana mereka semua dulunya hanya ibu rumah tangga.


Abimana Gulzar. Orang-orang memanggilnya Abi. Putra kedua dari empat bersaudara. Kakak pertamanya yang telah menikah dan sempat diboyong suaminya ke Rembang kini telah di rumah Pasuruan setelah tujuh bulanan anak kedua. Adik laki-laki pertamanya proses menyelesaikan studi sarjana di UIN SUKA Yogyakarta, sedangkan adik keduanya yang perempuan baru masuk MAN. Bapaknya sendiri adalah seorang modin sekaligus pengusaha warung makanan bersama sang istri.


Malam ini, setelah kumpulan dengan guru LBB, Abimana berbincang-bincang dengan bapaknya di ruang tamu—menunggui adik perempuannya mengerjakan tugas sekolah.


“Mas, isim tafdil itu yang gimana?”


“Kaya اكبر, اكثر, اجمل، اصغر. Cara bedain gini, Cil. Kamu lihat itu manut wazan apa? Af’alu bukan? Ada tanwinnya nggak? Tidak boleh bertanwin dan harus ber-wazan افعل. اَيْنَ هِيَ اَغْلَى طَاوِلَة فِى هَذَا الْمَحَلِ ؟ “ Abimana duduk.


“Mana isim tafdil-nya?”


“Yang اَغْلَى, kan?”


Abimana mengangguk.


“Kalau bedanya mutsanna, tasniyah, sama muanats apa?”


“Yang beda muanats.”


“Muanats yang lawan katanya mudzakkar, Mas?”


“Iya.”


Bapaknya tengah serius membaca catatan kecil di buku semasa nyatri dulu.


“Pak, tadi aku ketemu sama Nana. Kenapa Bapak tidak pernah memberitahu kalau orang tuanya sudah meninggal?”


“Itu sudah sangat lama. Kamu masih di nyantri di Rembang. Kenapa tiba-tiba ngomongin itu?”

__ADS_1


“Dia sekarang sudah sangat dewasa dan mandiri.”


Pak Cipto memandangnya sebentar. Melepas kacamata. “Aku ngerti maksudmu. Bapak ndak tahu dengar kamu memuji perempuan. Ya baru ini. Ada apa? Nana bocah cilik yang kamu sukai dulu, kamu baru bertemu dengannya?”


“Aku ke rumahnya. Kalau tidak karena aku menjemput Nurmaya santri ndalem-nya Gus Omar, aku tidak akan bisa mengenali wajahnya, Pak. Dia sudah tidak seperti dulu.”


“Bapak kira setelah kamu pergi ke Mesir empat tahun seleramu bakal berubah, Bi, Abi. Bapak tidak yakin, rasa sukamu pada Nana dulu masih bertahan sampai sekarang.”


“Nana siapa, Mas?” tanya Niar.


“Demen-demenane Masmu, Cah Ayu.”


“Cieeee, Mas. Mas Abi mau nyari pacar. Mas Abi udah umur. Rambut udah gondrong begitu masak belum punya gandengan. Malu sama truk, Mas Abi.” Niar menertawakan ekspresi Abi yang berpura-pura mengabaikannya.


“Kamu kalau menikah sama dia, kamu akan tinggal di sana. Anak jaman sekarang kalau dicarikan paling ya ndak mau.”


“Dekat, Pak. Bisa wira-wiri.”


“Tidak secepat itulah, Pak. Kita belum kenal dekat. Aku juga masih ingin mengenal dia lebih jauh.”


“Ho.oh. Ta’aruf dulu. Bapak sarankan, kamu jadi laki-laki harus gampang mantep. Perempuan gampang laku, Bi. Ketimbang disawek (diambil) laki-laki lain. Kalau semisal nanti dia cocok, ajak Bapak dan Ibumu ke sana.”


***


Kala tiba-tiba melamun di tengah ayat yang belum selesai diulangnya. Tatapannya kosong memandang halaman rumah. Sebentar-sebentar dia ingin tersenyum saat wajah itu terngiang. Laki-laki berambut gondrong itu membuatnya bertanya. Siapakah orang tuanya? Bagaimana kehidupannya? Berapa saudaranya? Di manakah dia tinggal? Satu yang penting, dia ingin tahu sekali bagaimana kehidupan para mahasiswa yang berkuliah di Kairo Al-Azhar.


Semenjak Syarif menyarankan agar dia mencari informasi soal beasiswa kuliah di sana, lalu dia malah dipertemukan dengan Abimana, diam-diam itu membuat hatinya bermekaran dipenuhi oleh kekaguman. Malam ini, murajaah-nya sedikit terganggu karena semua itu. Wajah itu terus berkelindan di kepalanya saat dia berusaha mengulang ayat.


Belum lagi saat Abimana berusaha mengikat dan mengucir rambut dengan rapi. Awalnya Kala tidak tahu kalau rupanya Abimana pun sama berambut panjang seperti Gus Omar. Bedanya, rambut itu terbenam di dalam kopiah hitam. Jujur saja, dia memang terpesona dengan sikap dan penampilan Abimana yang seperti mengalirnya air pegunungan, dingin dan tenang. Dari cara Abimana memberikan uang kepada Nurmaya siang tadi, juga membuatnya yakin bahwa Abimana adalah murid yang sangat ngugemi perintah guru. Tak disangka, kerelaannya menjadi seksi humas malah membuatnya dipertemukan dengan Abimana Gulzar. Guru lulusan Al-Azhar Kairo yang statusnya kini masih lajang dan menjadi santri.


“La, bantuin aku. Ada yang baru pesen seserahan. Stok barang masih ada, kamu tinggal packing. Cuma pesen sepatu sama mukena terusan,” pinta Vey yang masih memegang kuas.


Kala langsung berdiri. Dia mengajukan pertanyaan, “Onni, pemasukan bulan ini tak sebanyak bulan kemarin kayaknya. Iya, kan?”

__ADS_1


“Kayaknya. Nggak apa-apa. Penting kebutuhan kita masih cukup. La, kamu buka les privat ngaji juga bisa.”


“Aku kan Cuma punya sepeda. Kalau anaknya minta aku datang ke rumah gimana?”


“Bilang aja suruh ke sini. Kamu hanya buka jam privat sore dan habis magrib. Bikin aja iklan di website. Kamu terima aja kalau yang maunya online.”


“Ya udah aku coba dulu kapan-kapan. Aku minta Syarif biar bikinin iklannya.”


Kala ke gudang. Mengeluarkan stok mukena dan sepatu yang tinggal dua buah. Juga semua keperluan untuk mempacking seserahan itu, seperti lem, pita, bunga, kardus, dan hiasan-hiasan lain.


Sembari duduk lesehan dia bertanya, “Onni, besok yang tinggal di rumah ini siapa?”


“Ya kita berdualah.”


“Maksudku kalau Onni udah nikah. Dan...aku juga udah nikah..,” katanya sedikit canggung.


Vey memperhatikan Kala tanpa berkata. Kala melengos seraya melempar kata, “Onni, ngapain lihat aku kaya gitu? Nggak lucu.”


“Tumben kamu ngomongin itu?”


“Pasti salah satu dari kita akan tetap tinggal. Apa mungkin kakak beradik tinggal satu atap saat dia telah menikah?”


“Mungkin.”


“Onni, perempuan pasti jadi kalah-kalahan. Kapan Onni ada rencana nikah? Onni kenapa nggak buruan nyari calon?”


“Aku masih punya tanggungan kamu,” jawab Vey serius.


Kala tiba-tiba tertunduk. “Gimana kehidupan kita kalau udah nikah nanti? Apa kita masih bisa kaya gini, ya, Onni?”


Vey mendadak merasa bersalah. Baru kali ini dia melihat Kala bersedih membicarakan masa depan jika yang biasanya Kala selalu berbinar-binar. Dia memperhatikan Kala yang tengah menggunting kardus.


Vey menghadap lukisannya. Bergeming. “Ya Allah, aku nggak berpikir sejauh itu. Dia bener-bener mengingatkanku. Bagaimana ini?” batinnya.

__ADS_1


__ADS_2