
Jangan lupa berdoa. Bismillah.
Dua minggu setelah kejadian itu, Vey tak lagi mendapatkan kiriman bunga atau apa pun dari Kafil. Dia kembali fokus pada bisnisnya yang mulai sepi. Tidak ada pesanan hampers seserahan dan mahar. Tiga hari sebelum masuk bulan puasa kemarin, hampir semua pesanan diselesaikan termasuk souvenir yang Abimana pesan. Sekarang dia hanya tinggal menyelesaikan beberapa lukisan dan sketsa. Dan seperti yang telah dia rencanakan sebelumnya, agar di bulan puasa masih ada pemasukan, Vey sudah mulai memesan jajan-jajan dan cookies hari raya. Hal seperti ini sudah berjalan sejak tiga tahun yang lalu.
Selain itu di bulan puasa yang masuk minggu ke dua ini, Vey dan Kala membantu Budhe Atun dan Bulek Dina menjual aneka sayur dan takjil. Mulai dari botok tempe, rawon, soto, ikan lempuk, ayam bakar bumbu rujak, capcay, sop ayam bakso, cah kangkung, nasi goreng seafood, krengsengan pindang, dan lodeh. Dijual mulai pukul setengah tiga sore di depan gang masuk rumah.
Sore ini pembelinya cukup ramai meskipun tidak seramai kemarin. Vey, Kala, dan Budhe Atun melayani pembeli yang ingin membeli sayur ataupun jajanan basah. Sementara, Bulek Dina melayani pembeli yang ingin andok di tempat dengan pilihan menu soto, rawon, dan lontong balap. Di sela kesenggangan, Kala melalar hafalannya sembari duduk. Sedangkan, Vey bersandar di batang pohon trembesi sembari mempromosikan dagangan jajan hari raya.
Hari sudah magrib. Pembeli datang berduyun-duyun. Lima meja terisi penuh. Paman Gani ikut turun tangan.
"Onni, aku pulang duluan, ya. Mau salat."
Vey menatap Kala setelah mencuci piring dan gelas.
"Ikut."
"Budhe, aku sama Onni pamit duluan nggak apa-apa?"
"Ya gapapa. Budhe bisa mengatasi semuanya. Matur suwun, ya, La."
"Iya, Budhe."
Setiap harinya, Vey dan Kala akan mendapatkan haknya masing-masing sebesar 50 ribu. Terhitung sejak kerja mereka dari zuhur, ikut memasak sampai menjualnya hingga magrib. Itupun karena Budhe Atun setengah iba pada mereka berdua. Karena setiap bulan puasa, order-an dapat dipastikan akan berkurang drastis. Dan, mereka berdua selalu mendapatkan jatah makan untuk berbuka. Yang selalu mereka bawa pulang. Mereka berdua makan setelah salat magrib di rumah.
Ketika Vey melihat sesuatu di bawah pintu, dia tak jadi memutar arah kunci. Dia mengambil selembar kertas yang ternyata adalah undangan. Telah terpampang nyata di sana, tertulis nama Abimana Gulzar beserta gelarnya.
"Mas Abi?" gumam Vey lirih.
"Haa? Nurmaya calonnya? Ya Allah, Onni ini cepet banget," Kontan Kala menutupi mulutnya.
__ADS_1
"Pertemuan terakhir kita dua minggu lalu, sepertinya adalah tanda-tanda. Pertanyaan kamu waktu itu adalah isyarat bahwa kamu berada di atas dua pilihan. Undangan ini adalah jawabannya."
"Kok ujung-ujungnya bisa Yaya? Aku masih syok."
Vey duduk di tembok granit teras. Membuka plastik undangan berwarna sage semburat lylac dan bermotif bunga dan kupu-kupu. Tertera hari Ahad tanggal 24 April. Terhitung kurang satu bulan dari sekarang.
Entah. Vey tak tahu apa definisi perasaannya kini. Akan sulit ditafsir. Kenapa dia harus kecewa ketika dirinyalah yang memang telah memutuskan untuk tak menerima cincin itu. Lemas. Ada perasaan semacam tidak terima, tapi atas dasar alasan apa. Dia paham jika marah hanyalah akan membuat sikapnya cenderung tak wajar. Namun, sama seperti halnya Kala yang merasa semua ini terasa sangat cepat dan mendadak.
"Onni, Ya Allah ... sabar." Kala menatap Vey yang masih terpaku pada lembar undangan itu.
Vey balas menatap. "La, aku nggak tahu harus senang, marah, atau kecewa."
Kala menatap iba. "Mungkinkah sebetulnya Onni sudah mulai menyukai Pak Abi?"
Vey berpaling. Menyandarkan kepalanya di tiang penyangga. Hanya yang pernah mengalami, yang bisa tahu bagaimana persis perasaannya kini. Dia berpikir, seandainya pun dia menerima cincin itu, dirinya juga tidak akan tahu takdir akan berubah seperti apa. Bisa jadi dia akan lebih terluka jika setelah menerima, lalu dilepaskan karena perempuan lain. Itu sungguh melarakan.
"Bukankah begitu, Vey?" Vey mencoba meredam perasaannya yang tak jelas.
"Aku mau salat dulu. Kita juga belum makan." Suaranya merendah.
"Ya Allah, Yaya. Apa alasan kamu? Aku jadi ingin ketemu Yaya," pikirnya.
Usai salat magrib berserta rawatibnya, Kala keluar kamar. Dia tak mendapati Vey duduk di ruang tamu. Lantas dia menoleh ke samping, Vey masih bermunajat di atas sajadah. Dia menguping. Tapi, dia tak mendengarkan tangis. Yang dia saksikan hanyalah kedua telapak tangan yang menengadah lama.
"Ya Allah, ringankan bebannya. Permudahkanlah urusan pekerjaan dan cintanya. Sebagai seorang kakak, aku ngerti dia tanggung jawab atas posisinya. Jika memang Pak Abi bukan jodoh terbaiknya, hadirkanlah cinta lain, Ya Allah. Yang jauh lebih besar dan bisa membahagiakannya. Istajib du'aii, Ya Rabb."
Kala pun menyiapkan sayur dan lauk yang masih terbungkus di kresek. Dia mengambil tiga piring beserta garpu sendok dan mangkuk. Lalu, duduk menatap undangan itu lagi.
"Niar? Yaaa ... aku harus tanya ke Niar. Semenjak puasa aku nggak kontekan dengan dia."
__ADS_1
Sembari menunggu Vey selesai berdoa, dia ke kamar untuk mengirim pesan kepada Niar. Dia mengirim undangan itu.
^^^"Niar? Kamu yang ngirim, ya?"^^^
^^^"Niar, aku tanya, tapi aku minta tolong kamu jawab jujur. Apakah sebetulnya Pak Abi sudah merencanakan ini sejak lama? Maksudku sejak cincin itu masih ada di tangan Onni-ku."^^^
Pesan centang dua.
"Dia pasti masih buka puasa," pikirnya.
Kala menoleh. Vey keluar dari kamarnya. Terdengar pintu ditutup. Dia melemparkan handphone-nya--yang dari Gus Omar.
"Aku tanyain ke Niar."
Vey bergegas menatap Kala. "Buat apa?"
"Aku ingin tahu alasannya."
"Nggak usah, La. Itu sudah jadi keputusan Mas Abi. Biar saja." Suara itu sudah terdengar jauh lebih baik dari sebelumnya.
Kala mengangguk walaupun kenyataannya dia sudah mengirim pesannya kepada Niar.
Mereka pun melanjutkan buka puasa yang hanya dengan meminum es di warung tadi. Tanpa percakapan apa pun.
Pukul 18.35.
Sama seperti yang telah terjadi kemarin hari, Vey akan berpaling pada pekerjaan. Dia menuliskan beberapa daftar jajan dan cookies yang belum dibelinya. Beberapa pesanan sudah masuk, mulai dari teman, saudara, tetangga, dan kawan mengajar di sekolah. Besok setelah pulang mengajar, dia berencana akan langsung membeli kekurangannya.
"La, besok dari sekolahan aku langsung nyari jajan. Kamu abis sekolah nggak usah ke mana-mana. Langsung aja ke rumah Budhe bantuin masak."
__ADS_1
Sebetulnya Kala ingin menjawab akan menemui Nurmaya. Tapi, dia menduga Vey pasti akan melarangnya. Lantas dia hanya mengiyakan.