Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 47 "Pertemuan dengan Zezee"


__ADS_3

Vey mengentak-entakkan kakinya. Segelas jus alpokatnya tinggal setengah. Notifikasi masuk. Balasan dari Gus Omar.


"Waalaikumussalam warahmatullah. Kalau kamu pengen tahu salah satu alasannya, tanya sama Abimana."


"Mas Abi?"


"Apa hubungannya? Nggak jelas banget." Vey memainkan alisnya.


^^^"Apa hubungannya, Gus?" Vey tak sungkan untuk bertanya. Kadung penasaran.^^^


"Kamu tanya aja sama dia. Dia ngerti maksudku."


Vey hanya membacanya. Pertanyaan selanjutnya mungkin malah tidak terjawab, pikirnya.


Berhubung Zezee tak lekas datang. Dia menghabiskan minumannya sembari menghubungi Abimana. Sayang panggilannya hanya berdering hingga berakhir.


Tak lama kemudian Zezee datang dalam keadaan wajah cemberut. Datang-datang langsung duduk dan menghabiskan minuman Vey yang tinggal sedikit.


"Sebel gue sama Si Akbar."


"Emang kamu mau ngasih tahu aku apa?"


"Kamu lihat nggak di depan kantornya Kafil ramai gitu?"


"Ya aku nggak sempet turun. Kukira kamu udah datang, Zee."


"Sebetulnya aku dilarang ngomong sama Akbar. Katanya dia itu kasihan sama kamu. Tapi, menurutku jauh lebih kasihan kalau kamu terus-terusan bingung, Vey."


"Apaan, sih? Jangan bikin aku makin penasaran."


"Wajar kalau Kafil melarikan diri, Vey. Wajar kalau Akbar juga nyebelin banget."


"Iya? Terus?"


"Tapi, please kamu nggak usah kaget. Aku bicara fakta karena salah satu wartawan itu temen gue, Vey."


"Cepetan ngomong!"


"Papanya Kafil terlihat kasus narkoba. Polisi yang datang ke kantor itu karena mau mencari Papanya dia. Satu kasus diusut, masalah lainnya ikut terbuka..."


"Kamu yakin?"


"Dengerin aku dulu. Jangan nangis dulu. Ini jadi alasan terbesar mereka terbang ke Malaysia."


"Aku belum bisa percaya itu, Zee. Beneran."


"Vey, ini bener. Polisi nyari bukti. Dan buat menyembunyikan kasus itu, makanya Kafil pun harus menutupi semuanya."


"Ya Allah, gue nggak bisa ngomong." Vey mengusap wajahnya. Menelan ludah. "Apa mungkin Mamanya mendadak kena jantung karena mereka kaget Papanya Kafil kena masalah besar?"


"Sorry gue nggak tahu soal itu. Tapi, masuk akal juga."


"Waktu itu aku lihat Kafil kaya orang sakit. Tapi, nggak mungkinlah dia sampai begitu juga. Nggak nggak.. itu pasti cuma kebetulan aja karena keadaannya lagi carut marut," batin Vey.

__ADS_1


"Terus sekarang kamu gimana, Vey?"


"Aku nggak tahu. Aku masih ragu."


"Kenyataannya begitu, Vey. Lo harus terima kenyataan. Masih mending kamu dapat infonya sekarang. Gimana kalau ternyata kamu tahunya pas kalian sudah nikah, reputasi bisnis dan nama kamu bisa jelek. Iya, kan?"


"Sekarang aku lagi mikirin keadaan Kafil gimana. Jujur, ya, aku mikir apa dia...?"


"Di-a terlibat maksud lo?"


"Nggak yakin juga." Selama ini Vey tak pernah mencurigai gelagat aneh apa pun.


"Aku hanya hubungan kalian gimana?"


"Dia udah mundur."


"Masih mending dia mundur. Artinya dia sadar dia nggak baik buat kamu. Vey, aku yakin lo kuat banget. Kehilangan Kafil bukan masalah besar, kan? Lo udah pernah kehilangan orang tua. Seenggaknya sudah ada keputusan sepihak di antara kalian berdua. Nggak ada yang nggantung dan digantung. Sekarang kamu bebas memilih ingin melanjutkan komitmen sama siapa."


"Zee, Mamanya Kafil itu orangnya baik banget sumpah. Kafil juga begitu."


Zezee mendesis. Memegang tangan Vey. "Vey, kamu itu wanita mandiri. Apa mungkin kamu jadi mengharapkan cinta orang yang udah nglepasin kamu? Apa kesannya nggak kaya mengemis?"


"Kupikir dengan batalnya perkenalanku tadi malam, itu tandanya aku masih berpeluang menikah dengan Kafil. Faktanya justru lain, Ya Allah," batin Vey.


"Vey, udah waktunya kamu melupakan semua tentang Kafil. Nggak usah berharap berjodoh sama dia. Aku yakin jodoh kamu akan datang setelah ini. Lagipula hidupmu akan sulit jika hidup dengan orang yang terlalu sukses seperti keluarga Kafil. Mereka itu punya banyak masalah. Kamu udah cukup mandiri ngurus bisnis kecil-kecilanmu. Aku siap bantu kalau kamu pengen mengembangkan usahamu itu."


"Makasih." Vey bangkit. Dia tidak bisa fokus mencerna kalimat Zezee dengan baik. Pikirannya berkeliaran.


"Aku anterin, ya."


"Nggak, nggak. Makasih."


Zezee menghela napas. Akhirnya dia memilih membututi motor Vey. Karena sebetulnya dia tahu Vey sedang tidak baik-baik saja. Lalu, dia berhenti saat Vey sudah sampai di halaman rumahnya.


"Sorry, Vey. Sorry aku nggak bisa bantu lebih. Cepet bahagia, ya!" Zezee memandang Vey yang turun dari motor. Lantas dia pulang.


Pintu rumah sudah terbuka. Vey membanting tubuhnya ke sofa ruang tamu. Merebahkan punggung dan kepalanya. Tak sadar kalau Kala sedang di dapur memasak sesuatu. Juga tidak sadar kalau rumah sudah dalam keadaan bersih.


"Sebegitu mudahnya Tuhan menggagalkan rencana manusia." Vey mencerna kalimat itu dalam-dalam.


"Nana, Paman telepon kamu kok ndak dijawab?" tanya Paman Gani tiba-tiba.


Vey menatap pelan ke arah pintu. Tanpa menggerakkan posisinya.


"Kenapa kamu?"


"Nggak apa-apa. Ada apa, Paman?"


"Keadaan Kala bagaimana?" Paman Gani duduk di depannya.


Vey menegakkan badannya. Menoleh ke samping. Lalu ke dapur. "Sudah bersih," batinnya kemudian.


"Di dapur, Paman. Kayaknya sudah mendingan."

__ADS_1


"Kalau sudah baikan, Paman mau ngomong berdua dengan kalian. Ya?"


"Nggak sekarang?"


"Kasihan Adikmu, Na. Paman keluar dulu."


"Iya. Hati-hati, Paman."


"Ngomongin soal Gus Omar pasti." Vey menghela napas. Sejurus dia teringat panggilannya yang tidak terjawab tadi.


Vey merogoh smarphone-nya di saku depan tas.


Pesan masuk dari Abimana. "Ada apa, Na? Maaf aku repot di pondok."


^^^"Repot? Aku bisa nanyain sesuatu? Kalau repot banget, ya nungguin kamu sudah senggang saja, Mas." Send. Centang dua.^^^


Panggilan langsung masuk.


📞"Sorry ganggu, Mas."


📞"Urgent, ya? Iya mau nanya apa?"


📞"Ya kalau Mas Abinya repot nggak apa-apa. Nanti aja. It's okey."


📞"Nggak. Mau nanya apa, Nana?" Abimana melembutkan suaranya saat memanggil nama Vey.


📞"Mas Abi tahu kenapa Gus Omar justru memilih Kala?"


Abimana terdiam sebentar.


📞"Kamu nggak apa-apa, kan?"


📞"Ya aku nggak apa-apa, Mas. Kala yang sekarang gimana-gimana. Kita hanya butuh penjelasan. Sorry, kalau terdengar kurang pantas. Mas Abi tahu, kan, kalau sebetulnya..."


📞"Iya aku tahu."


📞"Makanya itu, Mas. Minta tolong dijelaskan kenapa Gus Omar malah menukar pilihannya? Dia bilang kamu tahu, Mas."


📞"Gus Omar masak bilang begitu?"


📞"Iya. Aku DM tadi. Ngomongnya sampai dua kali. Berarti kamu pasti tahu, kan?"


📞"Aku nggak tahu, Vey."


📞"Kok aneh?" gumam Vey.


📞"Aneh bagaimana?"


📞"Nggak jadi, Mas. Makasih."


"Gus Omar bilang begitu, Mas Abi justru ngomong enggak. Ini mana yang bener? Susah ngomong sama mereka." Dia menghela napas lagi. Menoleh ke kanan, dia mendapati Kala menghidangkan sesuatu di meja, lalu memakannya sendirian. Vey bangkit.


"Nggak ajak-ajak?" Duduk. "Satunya buat aku, kan?" Vey mencoba mencarikan suasana yang membeku. Dia tahu Kala sudah merasa lebih baik ketimbang tadi pagi, terbukti dengan bersedianya dia memasak dan membersihkan rumah.

__ADS_1


__ADS_2