Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
PART 5 "Sayyid Omar"


__ADS_3

Vey membuka pintu kamar dalam keadaan masih bermukena. Dia menghampiri Kala yang sedang duduk murajaah hafalannya di ruang tamu.


"Minta tolong belikan pembalut, La. Habis."


"Lhah nggak jadi salat magrib?"


"Enggak. Iya barusan keluar."


"Hayo jangan lupa qada, Onni."


"Iya." Vey mengangsurkan uang sepuluh ribu.


"Pakai aja punyaku dulu."


"Nggak mau. Nggak cocok. Gatel."


"Aku nggak kok, Onni."


"Beda, La. Aku tunggu. Cepet!"


"Siap."


Kala meletakkan Alquran. Darasannya berhenti pada juz sembilan seperempat pertama halaman kelima. Karena tak nyaman berjalan sendirian, dia mengeluarkan sepedanya. Perjalanan sepuluh menit menuju toserba dekat rumahnya.


Setiba di toserba, dia tak sengaja bertemu dengan Syarif. Syarif yang menyapanya terlebih dahulu. Kontan dia tak jadi memegang pembalut. Mengalihkan perhatiannya ke rak susu karena Syarif berusaha mendekatinya.


"Kamu masih doyan juga susu UHT ginian?" Dia mengambil susu UHT rasa full cream.


"Hehe. Iya."


"Malam ini juga kamu hubungi nomor yang aku kasih tadi."


"Perlu ke rumahnya nggak sih?"


"Dihubungi dulu. Ditanya kapan ada di rumah. Biasanya kalau nggak menghendaki beliaunya akan langsung bilang kita nggak perlu ke sana. Kalau nggak berani aku temenin."


"Nggak, ah. Biar ditemenin Onni. Ya aku chat nanti. Aku kabari kamu kalau langsung ada balasan."


"Ok. Kamu mau beli susu apa pembalut?"


Kala terkesiap.


Syarif sengaja menanyakan itu karena sekadar ingin bercanda. Dia sebetulnya tahu kalau Kala ingin mengambil pembalut, tapi malu karena ada dirinya di sampingnya. Dia pun pamit ke kasir.


Kala langsung menutup pintu garasi setelah memasukkan sepedanya. Dia langsung ke kamar Vey yang sedikit terbuka pintunya.


"Ini pembalutnya." Kala meletakkannya di kasur.


"Makasih, La." Vey kembali fokus ke percakapannya di telepon.


"Asik banget," gumamnya saat melihat Vey terkurap sembari memeluk guling.

__ADS_1


Kala ke kamarnya. Mengambil smartphone-nya di meja belajar. Lalu, membawanya ke ruang tamu dan meletakkannya kembali ke meja.


Kala meraih Alqurannya, kembali melanjutkan murajaah. Minggu depan akan ada ujian tasmi' satu juz. Setoran kepada dua guru agama sekolah yang penghafal Alquran semuanya. Semenjak dia sudah tak pernah lagi mengaji di TPQ, dia hanya setoran hafalan kepada gurunya itu, Bu Maria namanya. Meskipun hanya dua kali dalam seminggu, tapi program wajib kelas unggulan agama itu sangat membantu perkembangan hafalannya dari bulan ke bulan. Berdasarkan nilai setiap kali setoran, selama setahun terakhir, hafalannya terus meningkat. Dia semakin bersemangat. Bahagia bisa melaksanakan pesan ibunya sebelum wafat.


Satu jam kemudian. Dia merampungkan darasannya.


"Aku chat sekarang ajalah," pikirnya.


Sebelumnya dia mengirim pesan pada Vey.


^^^,"Onni, tadi Syarif pesen dibuatin sketsa. Ukuran 20R." Kala mengirim beserta gambarnya.^^^


Vey tak langsung membacanya.


"Pasti masih telfonan itu," gumamnya.


Dia membuka chat-nya dengan Syarif. Lalu, menyimpan nomor yang dikirim Syarif tadi.


Tak ada profil. Jadi, Kala tak bisa mengetahui seperti apa orang yang akan dimintainya tolong. Yang jelas kata Syarif, orang itu masih satu keluarga dengan pesantren Mahbubah. Sesuai kesepakatan semua anggota, orang tersebutlah yang dianggap paling tepat membawakan pengajian acara milad. Dengan alasan orang tersebut berlatarbelakang orang pesantren. Waka pun sudah menyetujuinya.


Bermenit-menit Kala memikirkan kalimat yang paling pantas dan sopan untuk membuka pesannya. Dia mengetik, lalu mengirimkannya pada Syarif--meminta pendapat. Tiga kali mengirim pesan, menurut Syarif semuanya sudah bagus dan sopan. Tapi, tetap saja dia masih merasa ada yang kurang enak dibaca. Setelah mengedit dua kali, dia pun akhirnya mengirimkan pesannya sembari mengengir.


^^^,"Assalamualaikum, Ustad. Mohon maaf apabila saya menganggu waktu panjenengan. Perkenalkan saya Kala Habibati Kala Anjani dari MAN Pasuruan. Saya mewakili teman-teman OSIM ingin meminta bantuan panjenengan untuk mengisi acara pengajian dalam rangka milad kami yang ke-47. Berikut kami lampirkan undangannya. Dan, kalau diperkenankan kami ingin sowan ke ndalem panjenengan untuk membicarakan ini. Bagaimana, Ustad? Ngapunten dan terima kasih sebelumnya. ๐Ÿ™๐Ÿ™"^^^


Begitulah kalimat panjangnya hingga dia tak sadar tetap menulis pengajian walau seharusnya sarasehan. Terkirim centang dua. Terakhir dilihat satu jam yang lalu. Sekitar lima belas menit kemudian pesan itu terbalas.


Deg! Kala buru-buru membukanya.


Bibirnya manyun. Tak berselang lama dia tersenyum.


Chat masuk lagi.


"Tak save nomermu, Mbak."


Kala mengetik. Sejurus kemudian profil pria itu berubah. Siluet seseorang yang sedang menghadap ke laut.


^^^"Enggeh, Tad. Terima kasih banyak atas kesempatannya.๐Ÿ™"^^^


Hanya dibaca.


Kala men-screenshot-nya. Mengirimkannya pada Syarif. Syarif membalas emot senyum dan satu kata oke.


"Kelihatannya udah dewasa banget. Sudah nikah kayaknya. Tapi, bahasa percakapannya ringan," batin Kala.


"Semoga aja beliau orangnya humble," gumamnya kemudian.


Syarif menelepon.


๐Ÿ“ž"Ada apa, Rif?"


๐Ÿ“ž"Gapapa."

__ADS_1


๐Ÿ“ž"Itu beliaunya gus apa pengabdi di sana?"


๐Ÿ“ž"Katanya gusnya Pondok Mahbubah."


๐Ÿ“ž"Haaa?"


๐Ÿ“ž"Kenapa? Kepo banget kamu."


๐Ÿ“ž"Untungnya tadi aku hati-hati banget ngirim pesannya."


๐Ÿ“ž"Aku mau kamu siap-siap jadi pembawa acara."


๐Ÿ“ž"Rif, terus tugasnya Caca dan Luthfia apa? Kan dia yang jadi seksi acara. Badrun itu ngemsinya juga nggak kaleng-kaleng. Pokoknya aku nggak mau ya, Rif. Jangan maksa. Udah cukup kamu maksa aku jadi seksi humas."


๐Ÿ“ž"Sudah. Kamu aku jadiin cadangan. Cadangan doang."


๐Ÿ“ž"Nggak. Sekali enggak juga enggak, Rif."


๐Ÿ“ž"Iya."


๐Ÿ“ž"Enggak, Syarif Hidayat Alfin." Kala mempertegas suaranya.


๐Ÿ“ž"Iya, Habibati Kala Anjani." Tapi, Syarif melembutkan nadanya.


Kala menoleh karena Vey berceletuk di sampingnya. Bertanya dia sedang berbincang-bincang dengan siapa. Dia pun berbisik, mengatakan dengan Syarif.


๐Ÿ“ž"Rif, aku ingatkan sekali lagi. Aku nggak mau. Aku nggak mau persiapan. Aku nggak bisa ngemsi."


"Kenapa nggak bisa?" tanya Vey.


Kala menoleh. Menyuruh Vey tidak melanjutkan kalimatnya.


๐Ÿ“ž"Kayaknya Kak Vey setuju. Setuju, Kak?"


"Kamu suruh ngapain, Fin?"


๐Ÿ“ž"Jadi MC acara pengajian milad."


"Gampang. Biar aku bujuk dia."


Kala memanyunkan bibirnya. Langsung menutup teleponnya.


Vey duduk di depan Kala.


"Kamu harus berani. Aku tahu kamu cuma nggak pede. Aslinya bisa. Keluarkan semua kemampuan yang kamu punya, La. Semakin kita menjadi perempuan yang berdaya, kita akan semakin terlihat berharga. Kita udah biasa mandiri. Maju, La. Aku dukung sepenuhnya."


"Harapan Ayah sama Ibuk pasti juga gitu."


"Pasti. Mereka akan bangga melihat kita."


Kala membuang pandangannya ke halaman yang terlihat dari pintu. Dalam batin, dia mengirimkan hadiah fatihah.

__ADS_1


__ADS_2