
Sreng...sreng...sreng.
Kala hanya menonton Vey yang tengah memasak. Sembari menempelkan dagu pada tumpukan kedua tangannya di atas meja. Masakan Vey yang begitu sedap dan harum membuatnya seperti anak kecil yang tengah menunggu ibunya memasakkan sesuatu yang istimewa untuknya.
Tiba-tiba sang ibu berdiri di depannya sembari menyodorkan sepiring tempe dan tahu bacem. Punggung Kala menegak. Dia menyeringai senang. Menyambut harum masakan itu dengan matanya yang membelalak. Dia tak akan segan-segan langsung memakannya dan memuji masakan ibunya berkali-kali. Setelah dia kembali memperhatikan dengan baik, ternyata sosok itu hanyalah bayangan. Vey yang mengangsurkan sepiring mie nyemek di meja.
Vey melirik Kala sebentar. Lalu, pergi mengambil gelas dan ceret. Dia pun duduk menyaksikan wajah Kala yang mendadak kehilangan cerianya.
"Kangen mama pasti."
Kala melenguh panjang. Dia enggan menjawab. Saat dia belum bisa tersenyum dan masih mewarnai tangis ketika teringat ibu, artinya dia belum sepenuhnya ikhlas atas kepergian itu.
"Aku juga kangen. Banget."
Empat buah kursi itu terpaksa harus disisihkan duanya agar mereka tak merasa ada yang telah hilang. Begitu juga dengan kamar ibunya yang baru setengah tahun lalu diusung barang-barangnya, yang kini dibiarkan kosong dan hanya akan dibuka tiga kali dalam seminggu untuk dibersihkan.
Kala memasukkan sesendok demi sesendok mie ke mulutnya tanpa ada keinginan untuk segera menghabiskan. Bukan karena masakan Vey kali tidak enak, justru lebih sedap daripada biasanya--keahlian memasak Vey dari hari ke hari semakin meningkat. Wajah ibu dan ayahnya terus menyelinap masuk.
__ADS_1
Rumput-rumput hijau yang dulu tumbuh subur di atas dua makam itu kini telah mengering. Vey menaburkan mawar dan melati ke seluruh permukaan tanah, lalu Kala menuangkan air. Tak hanya air kendi yang sengaja tumpah, tapi air matanya pun mendadak tak dapat dikendalikan.
Sudah enam tahun lamanya mereka hidup tanpa orang tua. Sulit. Bahkan, sangat sulit dan mereka tidak pernah membayangkan itu sebelumnya. Kehidupan yang penuh cinta akhirnya menjadi nestapa. Hingga kini, kepergian itu masih sulit sekali direlakan. Masih ada derai tangis dan kekesalan. Mengunjungi makam adalah cara mereka untuk mengobati semuanya. Mencari penawar terbaik selain dengan cara bertemu.
Hidup berdua di rumah peninggalan dengan fasilitas yang cukup memadai. Baik rumah maupun seisinya, semua diwasiatkan untuk Vey dan Kala. Karena sang ayah tahu, bahwa jika dihitung berdasarkan ilmu waris, kedua putrinya hanya akan mendapatkan sisa. Wasiat itu tak bisa diganggu gugat sekali pun ada saudara yang merasa tidak terima. Merasa bagian Vey dan Kala terlalu besar.
Jika tak ada wasiat, betapa akan lebih sulitnya kehidupan mereka dulu. Kala yang saat itu masih terbilang anak-anak, baru masuk bangku sekolah menengah pertama. Belum juga menstruasi. Tentu dia amat merasa kehilangan. Bahkan, sampai mogok sekolah seminggu lamanya. Tak bisa dibujuk. Tak mau mengaji sampai dua minggu. Kala pada saat itu benar-benar memilih untuk mendekam di rumah. Bermain dengan kenangan dan dinding rumah yang seakan-akan bisa tertawa.
Dan, Vey tiba-tiba tak ingin berbicara kepada semua orang kecuali dengan pamannya. Saat di sekolah, dia pun tak bisa mengatakan apa pun kecuali pada sahabatnya, Mitha. Dia mengabaikan semua pertanyaan orang-orang yang amat peduli dengannya. Tapi bagi Vey, mereka tak akan pernah bisa merasakan apa yang dia rasakan.
Namun, setelah Vey dan Kala tumbuh bersama, dibiarkan mandiri, lambat laun mereka bisa mendewasakan diri tanpa bimbingan ketat dari siapa pun. Paman Gani hanya mengarahkan mereka berdua membagi tugas rumah, sedangkan Bibi Siti mengajari keduanya memasak dari nol. Waktulah yang telah mengajari arti kedewasaan. Mereka mempelajari dan mempraktikkan itu semua setiap hari.
Vey tergagap dari lamunan. Di tengah-tengah dia melantunkan doa, dia teringat pesan Paman Gani.
"Kalau ada laki-laki yang mengajakmu berkenalan, Paman dikasih tahu. Paman pengen kenalan juga."
Seperti yang diketahui Kala, Paman Gani juga menganggap bahwa selama ini Vey sedang sendiri.
__ADS_1
Kala mencium nisan ayah dan ibunya bergantian.
"Onni? Kita pulang aja yok. Aku bisa nangis seharian kalau di sini terus." Kala bangkit. Melibaskan roknya yang terkena debu.
"Sampai bunga-bunga ini mengering, aku berharap Ayah dan Ibu selalu mendapatkan ampunan. Aku mendoakan kalian. Always we love you. Assalamualaikum." Vey pun sama. Mencium kedua nisan itu sebelum pergi. Walau sudah tak ada tangis, tapi sesak itu masih mengerubung dada.
Kala menunggu. Memperhatikan Vey yang sudah berdiri, tapi enggan melangkahkan kaki.
Dibalik peristiwa kehilangan itu, ada satu hal yang sangat mereka syukuri. Kehilangan mengantarkan mereka pada kedewasaan dan kemandirian. Mereka sudah tak pernah merepotkan siapa pun soal urusan keuangan. Bahkan, mereka berdua sudah menyiapkan tabungan khusus masa depan walau jumlahnya belum banyak. Mereka pun bisa membelanjakan uang sesuka hati. Dari sisi itulah, mereka selalu berusaha terus tegar dan semangat menjalani kehidupan tanpa orang tua. Dan, mereka juga percaya bahwa kehilangan hanya bagian dari cara Tuhan memberikan keistimewaan pada takdir seseorang.
Mereka pun pulang. Senyap selama perjalanan. Mereka sedang merenung.
Tiba-tiba Vey teringat masa depannya. Di usianya yang sudah hampir dua puluh lima, harusnya dia sudah merencanakan pernikahan. Seperti kawan-kawan seusianya. Tapi, dia belum mengarah ke sana. Hanya saja dia pernah merencanakan sesuatu, dia ingin suatu hari nanti menikah dengan cara yang sederhana saja. Cukup dengan akad nikah yang tak dihadiri banyak orang. Cita-cita yang simpel. Yang sekiranya dia cukup mampu untuk mempersiapkannya mulai dari sekarang.
Berbeda dengan Vey. Kala telah merencanakan mimpi besar di angan-angannya. Menjadi seorang hafizah dan wanita karier. Maka dari itu, dia bercita-cita akan mengambil jurusan pendidikan bahasa Arab, sastra Arab, usluhuddin, tafsir hadis, atau pendidikan agama islam. Sesuai dengan jurusan agama di sekolahnya saat ini. Berbekal hafalan lima belas juz yang sudah berhasil dikantonginya selama tiga tahun setoran di sekolah, dia sangat yakin dirinya akan sangat mudah masuk ke institut ataupun universitas yang dia inginkan.
Untuk urusan pernikahan, Kala pun sudah merencanakannya dari sekarang. Mulai dari memilih kriteria calon suami yang menurutnya pantas untuk mendampinginya kelak, menabung, dan memperbaiki akhlak. Dia membayangkan suatu saat nanti akan bersanding dengan pria yang betul-betul mampu menjadi tempatnya menimba ilmu, pandai berbaur dengan masyarakat, dan telah memiliki pekerjaan tetap. Syukur-syukur kalau dia mendapatkan suami yang bersedia sepenuhnya mendukung cita-citanya.
__ADS_1
Di tengah-tengah usaha mereka meraih mimpi, mereka amat merindukan sosok yang bersedia mendoakan mereka dengan segenap ketulusan hati. Tapi, tangan yang tak segan menengadah lama hanya untuk mendoakan anak-anaknya telah terkubur dalam bumi.