
Jangan lupa berdoa. Bismillah. 🤗
Kala tidak konsen menulis soal-soal matematika di papan tulis. Dia mengetuk-ngetukkan bolpennya ke meja. Menggoyang-goyangkan kaki. Melamun sebentar membayangkan sekilas wajah tampan.
"Kira-kira nanti bisa ketemu sama Pak Abi nggak, ya?" batinnya.
Dia menatap jam. Kurang lima belas menit lagi. Bibirnya cemberut. Dia meletakkan keningnya ke meja. Menghitung detik sesuai irama degup jantungnya.
Dia menoleh, berbisik, "Tulisin soalnya dong!"
Temannya membalas tatapannya. "Ogah. Soalnya banyak kok. Foto aja kalau males."
"Ngawur. Hapeku bisa disita sama Pak Boim nanti."
"Ya makanya tulis aja."
"Nanti pulang sekolah kamu fotoin, ya. Kamu kirim. Aku lagi. nggak konsen."
"Mikirin apa? Jatuh cinta sama Syarif lo." Temannya menahan cekikikan.
"Nggak. Enak banget kamu ngomongnya."
"Habisnya dia sering ke sini ngapelin kamu. Beliin kamu makan. Jajan juga."
"Kalaupun dia suka ya biarin aja. Biar aja dia berjuang. Dia kan laki-laki. Suka ya dikejar dan jangan pantang menyerah dong."
Temennya mendekatkan wajahnya. Berkata lebih lirih. "Emang kamu siap dikejar Syarif?"
Kala terdiam. "Hehe. Nggak juga."
"Hati-hati lo kamu. Ingat kalau Syarif itu anak cerdas. Dia bisa melakukan apa aja demi cewek yang disukainya. Cowok itu ada yang tetep ngejar walaupun ditolak. Kalau Syarif tipe yang gitu gimana?"
"Alah, nggak. Dia baik kok. Tapi, emang ya agak gitu, deh. Aneh."
Bel melenguh lantang. Pembelajaran usai. Para siswa menghambur dari kelas menuju parkiran. Mela memburu langkah Kala dan Ruma. Sejurus menggandeng tangan kedua sahabatnya dari tengah.
"La, aku tanya, tapi jawab yang jujur, ya!"
Kening Kala berkerut. "Napa?"
"Mau modus, ya?" Mela melirik curiga. Lalu, tersenyum menatap Ruma. "Aku tadi malam gibahin kamu sama Ruma. Kita punya dugaan gitu. Bener, kan? Ya, kaaaan?"
Kala melengos. Menyembunyikan wajah malu. Lalu, malah mencebik tanpa menatap Mela dan Ruma. Lantas kedua temannya itu tertawa tidak jelas sembari saling menatap.
"Hoee!" Syarif di lantai dua berteriak. Menyuruh Kala, Mela, dan Ruma menunggu di depan gerbang.
"Ya aku tunggu di depan," teriak Mela.
Lima menit mereka bertiga menunggu.
"Ayo!" Syarif menaiki sepeda gunungnya.
"Perjalannya lama nggak?" tanya Ruma pada Syarif.
"Lumayan kalau sepedahan. Setengah jam mungkin. Bisa lebih."
"Busyeet, dah. Gila, ye. Ogah aku sepedahan setengah jam. Mending aku pulang dulu terus ngambil motor."
"Eh, goblok ya kita. Kemarin kenapa kita nggak ke sekolah bawa motor, sih. Nggak kepikiran gue," kata Ruma.
"Terus gimana?" Kala yang bertanya.
"Ke rumahku aja. Nanti aku setirin."
__ADS_1
Kala bertanya, "Pakek mobil Papimu, Rip?"
"Ya."
"Boleh juga. Ya sudah gitu aja. Daripada pesen greb."
"Tapi, kalau pesen greb kita nggak capek," pikir Mela.
"Sama aja, Blok. Pulangmu kan satu arah sama kita. Dari rumahku kamu nggak balik. Langsung pulang." Syarif mengarahkan Mela.
"Ya, deh. Manut."
Di dalam mobil.
"Nggak seru, sih, kita ke sananya naik mobil. Coba kalau kita sepedahan gitu kelihatan anak SMA banget."
"Ya kan kita masih seragaman, La," balas Ruma.
Sepuluh menit kemudian.
"Eh, warungnya baru buka itu." Kala turun dari mobil lebih dulu. Lalu, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Menatap sebentar gedung LBB Najah. Seketika dia tersenyum. Terbayang kegigihan sosok Abimana.
Syarif mendahului jalan.
Mela dan Ruma mensenjajari langkah Kala. Ruma berbisik, "Moga aja nggak ketemu."
Mela mengejek dengan mengaminkan doa Ruma yang hanya bercanda.
"Alah, apaan, sih kalian. Gaje." Kala mempercepat langkah.
Syarif memilihkan tempat duduk di bawah kipas angin.
"Sinilah enak. Biar adem. La, yok pesen."
"Ini warung Pak Abi?"
"Iya. Eh, tapi aku saja yang minta, Rip. Kamu duduk aja." Kala berdiri. Meletakkan tas ranselnya.
Syarif menurut.
Kala celingukan. Memanggil lirih. "Ibunya Pak Abi? Assalamuaikum, Ibuk?"
"Ya waalaikumsalam. Sebentar sebentar. Lagi ngangkat tempe. Nggak lama, Mbak." Ibunya Pak Abi berteriak lantang.
"Sstttt...Masih nggoreng tempe, Rip."
Mereka bertiga menoleh. "Tungguin aja," ujar Syarif.
Sejurus kemudian, ibunya Pak Abi keluar membawa beberapa tempe mendoan. "Kala, ya?"
"Nggeh, Buk. Saya sama temen-teman ke sini. Sesuai janji saya kemarin di hipermart."
"Alhamdulillah. Sekali-kali mampir. Mau pesen apa?"
"Ngapunten minta daftar menunya dulu, Buk."
"Di sini itu warung prasmanan, Mbak. Tuh menunya."
Kala mencengir. Gagal fokus.
"Tapi, kok masih sepi, Buk?"
"Baru aja buka. Karyawan masih di dalem memasak menu lainnya. Mau ditunggu apa milih menu seadanya dulu?"
__ADS_1
"Ditunggu saja, Buk."
Kala menoleh. "Ssstttt?"
Mela menggerakkan dagunya--kenapa?
"Sini makannya prasmanan. Sebagian menu masih dimasak. Tunggu aja, ya?"
Mela dan Ruma mengangguk.
"Sekalian nunggu Pak Abi. Kayaknya Pak Abi belum pulang."
"Ditunggu saja, Buk."
"Oh, iya." Ibunya Pak Abi menata beberapa lauk di piring besar.
"Hmm...kalau boleh tahu rumah njenengan yang mana?"
"Sampingnya pas LBB itu, Nduk. Rumah cat abu-abu pagar tralis."
"Woh, nggeh nggeh." Kala diam sebentar. "Buk...mmm...Pak Abi apa belum pulang?"
"Belum. Insyaallah sebentar lagi kalau nggak salat jumat di pondok sekalian."
"Ooh..." Kala mengeluh kecewa.
"Ibuk nggak tahu, ya, pas jumat apa dia dapat giliran ngimami atau jadi khatib."
"Nggeh. Saya duduk dulu, Buk."
"Ya ya silakan!"
Dua pasutri datang langsung menuju rak-rak makanan. Ibunya Pak Abi menyuruh salah satu perempuan agar duduk di meja kasir. Kala mengamati itu.
"Kira-kira tipikal perempuan yang disukai Pak Abi yang gimana, ya? Pak Abi santri, apa ya santri juga tipenya?" batinnya. Pandangannya selalu tertarik ke arah pintu. Menatap siapa pun yang masuk. Dia berharap Abimana tiba-tiba muncul di sana, lalu menyapanya.
Harapannya lekas terpenuhi. Tak lama usai Kala duduk. Abimana benar-benar muncul di pintu dengan membawa kantung kresek warna hitam. Dia memberikan kresek itu pada ibunya.
"Donat, Buk."
"Donat lagi?" Kala heran. Karena baru kemarin membeli donat dan sekarang sudah membelinya lagi. "Kalau udah suka gitu, ya." Kala yang tersipu. Gemas.
Ibunya Abimana memberitahu. Karena setelah itu Abimana menoleh ke arah Kala dan kawan-kawannya.
"Nggak sama Nana?" tanyanya kemudian.
"Oh, Onni...itu, Pak, Onni di belum pulang sepertinya. Tadi itu kita langsung ke sini."
"Naik sepeda? Nggak ada sepeda di depan."
"Pakai kendaraan Syarif, Pak."
"Eghemmm.....beh, tenggorokanku gatel banget. Sumpah." Mela mulai berulah.
"Minum minum." Ruma menggeser air mineral di meja.
Syarif pura-pura cuek. Padahal, sebetulnya dia kurang suka Mela dan Ruma berulah seperti itu.
"Pak Abi, kemarin Kala yang mengajak kita ke sini," ujar Mela.
Kala sejurus menendang kakinya Mela pelan.
"Punten Pak Abi. Kemarin saya sudah janji. Jadi, saya ke sini. Daripada sendirian." Kala membela diri.
__ADS_1
"Oke. Makasih. Sering-sering ke sini. Ada hajatan di rumah bisa pesen di sini. Nanti aku diskon." Sama seperti Vey yang bersemangat ketika menawarkan usahanya pada orang lain.