Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 17 ”Mutiara Laut”


__ADS_3

Seperti biasanya, Nurmaya akan selalu bersemangat menghidangkan masakan spesialnya hari ini. Ayam bumbu kari dengan lauk bergedel kentang untuk Gus Omar, Gus Naba dan Ning Bulqis. Sedangkan, sayur kobis dan kukus tahu tanpa banyak garam untuk menghindari hipertensi dihidangkan untuk abah sepuh. Dia dan dua temannya menyiapkan makanannya di meja begitu jam yang usianya hampir setengah abad itu berdenting—pukul setengah tujuh pagi.


Nurmaya membiarkan dua temannya undur diri ke kamar santri, sementara dia akan mengantarkan makanan ke kamar abah sepuh. Dia membawa mangkuk sayur dan piring berisi nasi liwet dengan hati-hati. Dan, seperti biasanya pintu kamar abah sejak subuh berkumandang tak akan ditutup—semenjak abah sepuh tak bisa ke mana-mana pintu kamar beliau tak pernah dikunci. Dia membukanya pelan-pelan, khawatir abah sepuh masih terlelap dalam tidur. Ketika dia meletakkan nampan di meja, dia hampir menjatuhkan mangkuknya yang licin. Dia berjingkat karena tiba-tiba abah man-dhawuh-kan sesuatu padanya. Sangat lirih hingga dia harus mendekat.


Nurmaya mengangsurkan dengkulnya pelan-pelan ke lantai. Mendekati abah dengan posisi punggung melengkung. “Nggeh Abah?”


“Sekarang jam enam atau setengah tujuh, Ngger?”


Dia harus benar-benar memasang telinganya dengan baik supaya abah sepuh tidak perlu mengulangi pertanyaannya yang sangat lirih dan tidak terlalu jelas.


“Setengah tujuh, Bah. Jamnya baru berbunyi.”


Sebetulnya ini waktunya abah sepuh mandi. Tapi, yang biasa membantu beliau bebersih adalah Gus Omar, Gus Naba, atau kang santri yang biasanya berkeliaran di ndalem kesepuhan. Tapi, beliau bertiga masih berkegiatan di pondok putra. Sementara, Ning Bulqis putra menantu yang tak pandai memasak dan mengurus rumah itu lebih sering mengkontribusikan dirinya untuk semua kegiatan pondok, khususnya pondok putri.


Nurmaya tahu, abah sepuh ingin salat duha. Dia buru-buru bangkit mengambilkan pakaian, sarung, kaus dalam, dan kopiah bersih dari lemari. Lalu, mengangsurkannya di pinggir tempat tidur. Dia menoleh ke arah makanan yang dibawanya tadi. Sebetulnya jika dia diminta untuk menyuapi abah sepuh makan pun dia berkenan. Tapi, sebagai santri putri dia amat merasa sungkan apabila tidak ada satu pun orang yang memberinya pasrah. Yang biasa melakukannya Gus Omar dan Ning Bulqis. Jadi, dia hanya bisa duduk menjauh dari bibir kasur sembari menunggu mereka datang. Setengah jam lagi kegiatan pagi santri selesai.


Selama menunggui, Nurmaya hanya berdiam diri. Sebetulnya itu sangat membosankan karena dia juga tak bisa bicara sedikit pun. Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu. Dia menoleh bersamaan dengan melongoknya kepala santri yang menyembul dari seberang pintu.


Dia bangkit.


“Monggo, Kang!”


Nurmaya tahu santri putra itu mendapatkan utusan untuk menemui abah sepuh.


“Mbak Yaya, ngapurane aku diminta Gus Omar untuk membantu beliau mandi dan memakaikan baju. Gus Omar sudah selesai, tapi tiba-tiba ada tamu dari jauh. Gus Naba belum selesai.”


“Siapa, Kang?” Sebetulnya dia sudah menduga, tapi dia perlu memastikannya.


“Nggak tahu, Mbak. Dari jauh sepertinya. Sepertinya keluarga kiai. Tadi menyebut-nyebut ingin menjenguk abah sepuh juga.”


“Woh, iya. Ya sudah itu bajunya, Kang. Aku ke dapur menyiapkan suguhan dulu.”


“Monggo, Mbak Ya.”

__ADS_1


Nurmaya berjingkat-jingkat ke dapur. Mengeluarkan cookies dan membuka botol sirup yang baru.


“Buah semangka di kulkas sekalian saja dikupas, Mbak. Kamu yang kupas, biar aku yang bawa rodong ini,” pinta Ning Bulqis yang langsung meletakkan kitabnya di meja makan.


“Anu..Ning kang santri ada yang di kamar Abah. Mbantu Abah bebersih. Katanya tadi disuruh Gus Omar.”


“O yaa.”


Nurmaya mengupas semangkanya sembari menerka-nerka penampakan putri kiai itu. Dia tak akan bisa membandingkan dengan dirinya yang hanya anak seorang nelayan. Tapi, tebakannya kali ini berhenti pada sesosok gadis dengan usia tujuh belas-an. Dia menghela napas. Hampir saja tangannya terkena pisau.


Hanya lima menit selesai.


Nurmaya membawakan minumannya terlebih dahulu. Begitu di ruang tamu, dia sempat melirik wajah ayu nan berseri-seri yang tengah duduk bersebelahan dengan orang tuanya. Dia sempat mendengar nama gadis itu terpanggil, Jasmin namanya. Ah, dia sudah jelas bisa menebak apa maksud dan tujuan pertemuan itu. Orang tua yang membawa anak gadisnya, sudah pasti itu lamaran dari pihak perempuan. Gusar. Sudah beberapa kali dia menemui masa-masa seperti ini. Dimana dia nantinya tak akan bisa tidur sebelum keputusannya berakhir dengan penolakan.


Hingga malam pun bersua.


Meski jika dilihat dari jendela dapur langit tampak bertabur ribuan bintang, juga lebih menyala dari hari kemarin, tapi tetap saja hatinya terasa redup. Setelah kepulangan Ning Jasmin dan orang tuanya, entah kenapa dia merasa wajah Gus Omar lebih berbinar dari biasanya. Seperti ada tanda-tanda yang akan membuatnya terluka. Bahkan, dia tak tega berpapasan dengan Gus Omar. Hanya demi melihat wajah itu saja, debum jantungnya tak bisa berdetak normal. Tapi, suara Gus Omar tetap akan sering memanggil.


Nurmaya ke kamar abah sepuh. Menemui Gus Omar di sana. Dia mendekat sembari menenggelamkan wajahnya.


“Gimana kamu tetep nggak mau aku jodohkan dengan Abimana?”


Nurmaya menggigit bibirnya.


“Andai njenengan tahu, Gus. Andai njenengan tahu bukan Kang Abi yang aku inginkan. Ya Allaah..”


“Oke kalau belum mau jawab. Ngomong-ngomong, Nduk, Habibah temen lamamu?”


“Enggeh. Ngapunten kemarin tidak pamit njenengan.”


“Nggak opo-opo. Di mana rumahnya?”


“Dekatnya toserba Jannah, Gus.”

__ADS_1


“Yang deketnya warung geprek rame itu?”


“Enggeh, tapi masuk jalan kecil. Lurus sampai menemukan rumah agak lawas yang halamannya luas. Di depan rumah Kala ada plakat Kavey Store.”


“Dia jualan?”


“Sejak orang tuanya meninggal, dia dan kakaknya hidup mandiri. Mmm...kalau tidak keliru mereka buka pesanan lettering, buket wisuda, hampers seserahan atau mahar, dan lukisan, Gus.”


Wajah Gus Omar mendadak serius hingga melipat kembali koran yang akan dibacanya.


“Emang laku keras?”


“Kalau itu saya belum tahu, Gus. Tapi, kata Kala lumayan, bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup. Tapi, Mbaknya guru sukuhan. Terima kasih njenengan sudah mengizinkan saya ke MAN. Akhirnya saya bisa bertemu dengan teman lama.”


“Sudah berapa lama Habibah ditinggal orang tuanya.”


“Sudah enam tahun.”


Gus Omar terdiam. Memikirkan sesuatu.


“Dia ingin mondok, Gus, tapi tidak keturutan.”


“Nggak bisa ninggalin Si Mbaknya itu?”


Nurmaya mengangguk.


“Tinggal disuruh nikah saja itu Mbaknya.”


“Sepertinya itu berat sekali bagi Kala, Gus.”


“Coba dia tak undang-e ke sini besok.” Gus Omar mengeluarkan ponselnya.


“Ngapunten sudah saya beritahu, Gus. Katanya diusahakan akan datang.”

__ADS_1


“Oke sip sip.”


__ADS_2