
Sementara, Kala ternyata tak bisa diam begitu saja. Dia menuntaskan penasarannya dengan pergi ke rumah Paman Gani sendirian sembari agak menahan pusing. Setiba di pintu samping yang terbuka lebar, dia berhenti sejenak untuk meredam pusingnya.
"Jalan agak jauh aja aku belum sanggup, Ya Allah," keluhnya.
Kala menoleh ke sisi kiri. Ada dua pasang sandal. Dia baru menyadari kalau ternyata Abimana tidak datang sendirian karena dia hafal sepasang lainnya bukan milik Paman Gani. Dari situ dia bisa menebak Abimana datang bersama orang tua. Bermula dari dugaannya tadi.
Meski khawatir, Kala tetap meneruskan langkah dengan berjalan merambat. Dari arah depan, Budhe Atun bergegas menyambutnya dengan tatapan memarahi.
"Mbok gak usah jalan jauh-jauh. Kamu itu belum sehat."
"Tidak apa-apa, Budhe."
Budhe Atun pun membantunya berjalan.
"Onni di mana?"
"Itu di ruang tamu ngobrol sama Abi dan Pak Modin."
"Ngobrol apa, Budhe?"
"Paling-paling Abimana ke sini mau pamitan kenalan dengan Nana, La."
Deg!
Kala menurut saat Budhe Atun menyuruhnya duduk. Lalu, malah mengajaknya membicarakan Gus Omar. Padahal, dirinya ingin ikut menyimak apa yang Vey dan Abimana bicarakan. Tapi, dia pun tidak bisa menghindari pertanyaan Budhe Atun yang berlangsung terus menerus.
"La, menurut kamu Gus Omar itu piye?"
Kala tidak konsentrasi membayangkan sosok itu, sementara fokusnya ada pada pembicaraan Vey dan Abimana. Lantas dia menjawab sekenanya, "Tampan, Budhe."
"Iya bener, La. Meskipun usianya sudah empat puluh, tapi kaya masih tiga puluh-an. Jaaaan masih ganteng, ya, Nduk."
"Ganteng apa, Budhe?" Kala tidak menyadari sudah menjawab pertanyaan Budhe Atun.
"Gus Omar. Katamu tampan."
"Budhe, please aku ingin denger mereka bicara," batinnya.
"La, dengerin Budhe sebentar."
Kala menatap serius. "Apa, Budhe?"
"Apa kamu benar siap?"
"Bukannya penjelasanku tidak mengubah apa pun, ya, Budhe?"
Budhe Atun menatapnya belas. "Bukannya begitu lo, Cah Ayu. Tapi, ini harapan mendiang Mamamu. Dan kebetulan sekali tawaran Pamanmu waktu itu membuahkan hasil. Justru tepat sasaran. Kamu bisa banyak belajar dari Gus Omar. Jadikan dia suami sekaligus gurumu, La. Kamu harus menyadari kalau kamu memang gadis pilihan di antara banyak gadis yang mungkin sudah Gus tolak."
"Aku sadar...menikah dengan Gus Omar akan membahagiakan almarhumah Mama. Untuk itu Budhe nggak usah nanyain aku siap atau tidak. Budhe juga nggak usah natap aku melas gitu. Seharusnya Budhe bangga, kan? Kata Budhe aku gadis pilihan?"
"Bener, La. Maafin, Budhe, ya?"
__ADS_1
"Memang sudah semestinya begini, kok."
Budhe Atun merangkulnya dari samping. "Budhe bangga sama kamu. Budhe bangga." Nadanya semakin bersimpati.
Kala kembali fokus menyimak meski tak mendengar kalimat-kalimat sebelumnya.
Di ruang tamu, Vey masih berdiam diri seperti manusia pajangan. Hanya menyimak. Jika disuruh memilih, dia lebih baik beranjak dari sana segera. Menjadi pendiam bukanlah ciri khasnya. Dia tidak suka itu.
"Oleh karena itu, izinkan saya melamar, Nana. Dengan niat bismillah, saya ingin menjadikan dia sebagai teman hidup."
Gubrakkkkkkkkk! Meletus balon hijau.
Vey mendadak tuli. Dia merasa harus memperjelas perkataan Abimana yang janggal.
"Maksudnya?" Dia tetap saja menanyakan meskipun terdengar bodoh. Padahal, pernyataan itu sudah sangat gamblang untuk dimengerti.
Paman Gani menoleh. "Melamar kamu, Na."
"Paman, Mas Abi sudah punya calon istri."
"Ya calon istrinya itu kamu," sambung Paman Gani.
"Paman, enggak. Serius. Mas Abi kemarin malah tanya ke aku cincin mana yang pantas dipakai calon istrinya." Vey tergesa-gesa menjelaskan. Dia hanya ingin menerangkan apa yang dia mengerti.
Abimana mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Membuka kotak merah itu.
"Ini maksudmu?"
"Ya ini cincin yang katamu bagus."
"Loh, tapi..."
"Sudah kamu diam saja, Nduk!" Paman melarang Vey yang hendak berbicara lagi.
"Haaa? Haaaa? Haaaa?" Dalam hati, Vey masih sangat tidak percaya. Dia menatap Abimana. "Permainan apa ini? Bener-bener nggak lucu, Mas." Meski hanya membatin, dia berharap Abimana mengerti isyarat pandangannya.
Entah kenapa Vey justru merasa sebal. Merasa dipermainkan meski sempat menaruh rasa sejenis nyaman ketika berkomunikasi dengan Abimana. Tapi, kejutan malam ini membuatnya harus menyiapkan jawaban besar. Jawaban berat yang melibatkan perasaan adiknya sendiri.
"Siang itu aku ngomong dia melamar calon istrinya malam Jumat. Ini, kan, malam Jumat? Sumpah, aku nggak ngerti maksudmu, Mas," batin Vey.
Sementara, Kala langsung pamit pulang setelah mendengar pernyataan Abimana meski sebelum dia mendengar jawaban Paman Gani dan Vey. Pernyataan itu sudah jelas membuatnya mengerti bahwa cintanya selama ini hanya cinta yang tidak akan pernah terbalas. Dia berlari cepat.
Selang lima menit kemudian, dua orang mengetuk pintu rumah Paman Gani. Yang duduk di ruang tamu menoleh semuanya.
Paman Gani bangkit. "Apa apa, Pak?"
"Kala pingsan di depan situ, Lek. Sekarang digotong."
Vey selamat dari suasana yang membingungkannya. Dia pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Selain karena juga ingin cepat melihat keadaan Kala. Dia berlari, sedangkan Abimana dan Pak Cipto membuntutnya. Paman Gani memberitahu Budhe Atun agar cepat menengok.
Beberapa orang bergerumul di ruang tamu rumah Vey. Dia datang langsung menyibak tubuh-tubuh yang menghalangi jalannya.
__ADS_1
"Adiknya sakit jangan ditinggal sendirian," ujar salah satu pria yang duduk di samping Kala.
"Adikmu masih sakit, Vey," tambah yang lain.
"Iya, Pak, Buk. Ngerti. Makasih sudah membantu."
Menyusul suara Paman Gani yang pula mengucapkan terima kasih, lalu meminta dengan hormat supaya orang-orang meninggalkan tempat.
"Kala, kenapa?"
"Nggak ngerti, Paman."
"Mas Abi silakan duduk!" pinta Vey.
"Tadi itu Kala datang menyusul kamu, Na," jawab Budhe Atun.
"Jadi????" gumamnya.
Vey memeluk Kala seketika. "La, sorry. Sorry banget, La. Maafin aku, Kala."
Pemandangan itu membuat semua orang tak berkata-kata. Lebih tepatnya karena tidak mengerti.
Tetesan air mata Vey membasahi punggung tangan Kala. "La, maafin aku. Aku nggak ngerti kalau kejadiannya bakalan seperti ini."
"Apa maksudmu, Nduk?" tanya Budhe.
Vey tak menanggapi.
"Biarkan saja. Mungkin itu urusan pribadi mereka berdua, Buk."
"Apa keadaan Kala belum baik?"
"Sudah, Mas. Tapi, dia belum bisa masuk sekolah. Kemarin katanya kuat, mau dicoba berangkat sekolah. Tapi, sepertinya hari ini dia kurang baik."
"Kontrol lagi saja, Pak Gani." Pak Cipto menyarankan.
"Besok memang jadwal kontrol lagi, Pak," jawab Paman Gani.
Abimana dan Pak Cipto terpaksa pamit pulang. Tak memungkinkan pembicaraan tadi dilanjut sekarang. Pak Cipto berkata akan kembali di lain waktu dan Abimana meminta Vey supaya mempertimbangkan perkataannya tadi. Mereka pun pulang.
"Paman sama Budhe mendingan pulang juga. Aku bisa ngurus Kala."
Paman Gani menggendong Kala ke kamarnya.
"Makasih, Paman."
"Kalau ada masalah, selesaikan baik-baik, Nduk."
Budhe menambah, "Jangan sampai masalah kecilmu membuat kalian tidak akur. Ndak bagus."
Mereka berdua pulang, Vey langsung menutup pintu depan. Memasukkan sandalnya dan sandal Kala ke rak di samping rumah--garasi.
__ADS_1