Emas Dan Berlian

Emas Dan Berlian
Part 27 "Kurang Tepat"


__ADS_3

"Bagaimana, Gus? Apa yang ingin Gus Omar bicarakan malam-malam seperti ini. Kelihatannya mendadak."


"Oh, sama sekali nggak mendadak. Ini, ya, tadi...aku pikir pas ke sini, terus juga kebetulan ketemu Pak Gani. Ngomong-ngomong dua perempuan yang Pak Gani maksud waktu itu siapa? Ngapuntene. Dulu itu aku buru-buru. Jadi, nggak sempat memperjelas semuanya."


Paman Gani tersenyum penuh maksud. "Itu kedua ponakan saya, Gus. Kakaknya sudah umur dua empat. Adiknya jalan delapan belas." Dia menahan pertanyaan selanjutnya meskipun dia amat penasaran.


Omar mengangguk paham.


"Kapan-kapan aku ingin ketemu sama dua ponakan Pak Gani." Sejurus dia merogoh sesuatu dari sakunya. Menggeser secarik kertas. "Pak Gani bisa menghubungi nomor saya kalau mereka berdua, atau salah satu dari mereka ada yang bersedia."


Paman Gani mengambil kertas itu. Menyembunyikan dalam genggamannya.


"Insyaallah saya akan segera membicarakan ini dengan mereka berdua."


Omar beranjak. Mengulurkan tangan sekaligus berpamitan.


***


Setelah pertemuan tadi malam, Paman Gani buru-buru menjenguk Vey dan Kala. Dia dengar, Kala belum sembuh dan masih harus istirahat sampai beberapa hari. Dia mendapati halaman rumah mereka yang masih kotor, tanaman-tanaman belum disiram, dan lantai pun masih berdebu. Dari bingkai pintu tengah dia melihat Vey sibuk sendirian. Salamnya diabaikan.


"Masih kurang banyak?"


"Banyak banget Paman. Lumayan kewalahan, sih. Mau bagaimana lagi. Kala juga masih sakit."


"Belum mendingan, Nduk?" Paman Gani melangkah menuju kamar Kala yang pintunya tak ditutup. Dia mendapati Kala yang masih terpejam dengan wajah pucat pasi. Dia pun menutup pintu kamar Kala.


"Paman ke sini mau ngomongin sesuatu yang penting."


Vey menghentikan gerakan tangannya. Menatap Paman Gani sejenak sekaligus melempar tanya, "Apa Paman?"


"Paman ganggu ndak?"


"Kalau memang penting kita bicarakan di ruang tamu, Paman."


"Nggak usah. Ngobrol santai saja. Kamu teruskan kerjaan kamu, Paman akan ngomong." Paman Gani mengambil posisi duduk di kursi meja makan.


Vey kembali mengemas garpu sendok souvenir yang kurang empat ratus biji lagi. Dia sudah siap mendengarkan meski penampakannya tak terlihat antusias. Wajar saja. Dia sudah sangat capek. Dari kemarin dia belum bisa berstirahat. Tadi malam saja dia tidur pukul setengah satu malam, lalu kembali terjaga pukul tiga dini hari.

__ADS_1


"Kamu belum punya janji dengan laki-laki, kan, Nduk?"


Deg! Kontan Vey menatap wajah Paman Gani.


"Maksud Paman?"


"Kalau kamu sudah punya pacar yo ndak apa-apa. Tapi, kemarin pas Paman nanya di klinik, kamu diam saja. Sebenarnya kamu sudah punya calon apa belum?"


"Aku nggak bisa ngomong sekarang. Sepertinya lebih baik kalau Kafil yang ke sini ngomong langsung sama Paman," batin Vey.


"Kenapa Paman? Kelihatannya Paman ada maksud lain?"


"Kalau misalnya kamu belum punya pacar, belum ada komitmen serius, Paman mau mengenalkan kamu sama laki-laki yang kita bicarakan di klinik kemarin lusa. Panjang umur, Na. Paman tadi malam ketemu. Nggak sengaja ceritanya. Gusnya pengen mampir membicarakan ini."


"Sebentar. Paman tadi bilang Gus? Gus siapa?"


"Gus Omar. Belum pernah ketemu langsung sama orangnya, kan?"


"Paman, apa aku nggak salah denger? Yang datang Gus Omar?"


"Kamu kaget banget, Nduk?"


"Paman tadi bilang gimana to. Kalau kamu belum punya pacar, Paman pengen kamu mencoba membuka diri untuk siapa pun, Na. Kalau sudah ya Paman tunggu kamu mengenalkan pacar kamu itu. Tapi, Paman lihat selama ini kamu adem ayem. Ndak kelihatan punya pacar. Kalau kamu ndak pengen kenalan sama Gus Omar, bawa pacarmu ke sini. Kalau dalam seminggu dua minggu kamu ndak bisa mengenalkan calon pada Paman, Paman minta kamu mau, ya. Kalaupun kamu mau, belum tentu jodoh. Jadi jangan takut mencoba, Na." Paman Gani beranjak. "Ya sudah. Paman ke sini ya cuma mau membicarakan itu. Karena Paman sudah janji akan memberitahu kamu. Sebetulnya yang Paman kenalkan itu kamu dan Kala. Tapi, nggak mungkin kan kalau Kala yang maju. Dia belum cukup usia untuk ke sana."


Paman Gani maju tiga langkah, lalu kembali menoleh dan berkata, "Itu halaman rumah disapu dulu. Rumah anak perawan kok kelihatan ndak terurus. Kalau ada pelanggan ke sini, mereka ndak nyaman nanti, Nduk."


"Iya, Paman," ucap Vey lirih. Napasnya terulur panjang. Dia menggeser pantat. Mencari sandaran di tembok belakangnya. Lantas, dia merangkak untuk meraih handphone-nya yang tergeletak di lantai.


Sebelum dia menghubungi Kafil, dia kembali memeriksa Kala.


"La, salat dulu. Udah jam empat. Ntar tidur lagi. Kalau mau mandi, pakai air anget. Aku mau nyapu dulu."


"Hmm..." balas Kala. "Aku nggak mandi aja, Onni."


"Masih mules?"


Kala menggeleng.

__ADS_1


"Masih pusing?"


"Iya."


"Pokoknya salat dulu. Habis itu tidur lagi nggak apa-apa." Vey melenggang pergi.


Vey menelepon Kafil di halaman. Dua kali panggilan tidak tersambung. Terakhir dilihat tiga jam yang lalu.


"Kaf, aku pengen kamu ke sini ngomong langsung sama Paman. Secepatnya ya, Kaf."


"Kenapa aku mendadak nggak siap ngomongin ini. Ishhhh...Timing-nya bener-bener nggak pas ini. Mana kerjaan lagi banyak. Jangan sampai fokus dan mood-ku berubah drastis gara-gara ini. Harusnya waktu itu aku langsung ngomong sama Paman. Ini malah keduluan Paman ngomongin Gus Omar. Ya Allah..." Vey menggerutu.


"Onni?"


Vey menoleh. "Hey?"


"Ada masalah?"


"Nggak, La."


"Sory, Onni. Aku nggak bisa bantuin. Tapi bentar lagi aku sembuh kok. Tadi aku denger Paman ngomongin sesuatu. Apa?"


"Paman nyuruh aku bawa calon ke rumah."


Kala duduk di ayunan. "Emang Onni itu beneran belum punya cowok? Atau sebetulnya punya, tapi belum ada komitmen?"


"Sebetulnya aku nggak pengen kamu repot-repot mikirin itu, La. Tapi, karena kamu telanjur dengar, aku mau ngomong. Paman ingin aku berkenalan dengan Gus Omar."


"What?"


"Kamu kaget kan? Apalagi aku, La. Ternyata, ya...hari raya kemarin itu Paman sowan ke sana, nawarin kita berdua ke Gus Omar. Berhubung kata Paman kamu masih terlalu muda, akhirnya aku yang disuruh maju."


"Terus Onni gimana tanggapannya?"


"Aku belum bisa mengiyakan. Paman cuma ngomong kalau aku nggak bisa membawa calon suami, aku diminta kenalan."


"Onni, entah Onni itu sebetulnya udah punya calon apa belum, tapi aku setuju apa kata Paman. Dicoba nggak masalah."

__ADS_1


"Iya, La. Aku ngerti. Nggak ada salahnya nyoba."


"Tapi, sebelum aku kenalan sama Gus Omar, Paman harus tahu soal Kafil. Vey, Vey, kenapa kali ini kamu salah ambil keputusan, sih? Kamu sendiri, kan, yang ribet." Vey menggerutu dalam batin.


__ADS_2